Julie Sulianti Saroso

Prof. Dr. Julie Sulianti Saroso, MPH adalah seorang tokoh kedokteran Indonesia yang memiliki dedikasi tinggi terhadap kesehatan di Indonesia dan namanya diabadikan menjadi Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso.


Julie Sulianti Saroso
Instagram/@dewabudjana
Julie Sulianti Saroso 

Prof. Dr. Julie Sulianti Saroso, MPH adalah seorang tokoh kedokteran Indonesia yang memiliki dedikasi tinggi terhadap kesehatan di Indonesia dan namanya diabadikan menjadi Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso.




  • Julie Sulianti Saroso


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Prof. Dr. Julie Sulianti Saroso, MPH adalah seorang tokoh kedokteran Indonesia yang memiliki dedikasi tinggi terhadap kesehatan di Indonesia.

Sulianti Saroso yang lahir di Karangasem, Bali pada 10 Mei 1917 merupakan putri kedua dari dr. Sulaiman.

Julie Sulianti Saroso yang akrab dipanggil “Syuul” ini wafat di Jakarta pada 29 April 1991.

Selama hidupnya, Syuul dikenal sebagai dokter perempuan Indonesia yang berjasa pada zaman penjajahan Indonesia. (1)

Sul bukan dokter biasa, kecemerlangannya berhasil mengangkat dunia kedokteran Indonesia ke tingkat dunia.

Baca: RSPI Prof. Sulianti Saroso

Baca: Nurhayati Subakat

  • Pendidikan


Sulianto Saroso menyelesaikan pendidikannya di sekolah menengah Gymnasium, Bandung pada tahun 1935.

Sul kemudian melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Tinggi Kedokteran (Geneeskundige Hoge Scholl), Batavia.

Sul muda lalu lulus pada tahun 1942 dan mulai bekerja sebagai dokter di Centrale Burgelijke Ziekenhuis (saat ini berganti menjadi RS Cipto Mangunkusumo).

Pendidikan Sul tidak terhenti pada GHS, ia melanjutkan pendidikannya di Inggris, Skandinavia, Amerika Serikat dan Malaya selama dua tahun sejak tahun 1950 hingga 1951.

Selain itu, Sulianti Saroso juga mendapatkan Certificate of Public Health Administrasion dari Universitas London.

Pada tahun 1962, Sul memperoleh gelar Master of Public Health (MPH) dan Tropical Midicine (TM).

Sul kemudian memperoleh gelar doktornya Doctor of Public Health (Epidemiologi) setelah menyelesaikan disertasinya yang berjudul The Natural of Enteropathogenic Escherechia Coli Infections di Tulane Medical School, New Orleans, Louisiana, Amerika Serikat pada tahun 1965. (2)

sulianti1
Julie Sulianti Saroso

  • Riwayat karier


Pada masa perjuangan, disamping menjadi dokter di RS Bethesda, Yogyakarta di bangsal penyakit dalam dan penyakit anak, Sul juga aktif dalam pergerakan.

Sul menjadi anggota Dewan Pimpinan Kongres Wanita Indonesia (Kowani) dan duduk dalam Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia sebagai wakil Pemuda Putri Indonesia (PPI).

Dokter Sul mengusahakan obat dan makanan untuk para pemuda dan pejuang dan mengantarnya sendiri ke front Tambun (Jawa Barat), Gresik, Demak, dan sekitar Yogyakarta.

Tahun 1947, Sul pergi ke India untuk menghadiri Kongres Wanita Seluruh India sebagai wakil Kowani bersama Ny. Utami Suryadarma.

Sulianti menumpang pesawat terbang milik industrialis Patnaik yang pada masa itu menjadi blockade runner, menembus blokade yang dipasang oleh Belanda.

Sul kembali pada Juli 1948 dari New Delhi ke Bukittinggi, kemudian ke Yogyakarta.

Mentornya dalam pendidikan politik adalah Soebadio Sastrosatomo, anggota Badan Pekerka KNIP, kemudian Ketua Fraksi Partai Sosialis Indonesia (PSI) dalam parlemen hasil Pemilihan Umum 1955.

Setelah perang kemerdekaan selesai, Sul kemudian bekerja di Kementrian Kesehatan dan berturut-turut sejak 1951 hingga 1961 menjabat sebagai Kepala Bagian Kesejahteraan Ibu dan Anak, Kepala Bagian Hubungan Luar Negeri, Wakil Kepala Bagian Pendidikan, Kepala Bagian Kesehatan Masyarakat Desa dan Pendidikan Kesehatan Rakyat dan Kepala Planning Board.

Tahun 1967, ia diangkat menjadi Direktur Jenderal Pencegahan, Pemberantasan dan Pembasmian Penyakit Menular (P4M) merangkap Ketua Lembaga Riset Kesehatan Nasional.

Prestasi Prof. Dr. J. Sulianti Saroso di bidang pendidikan juga sangat mengesankan.

Tahun 1950 dan 1951, ia mendapat beasiswa UNICEF untuk memperdalam pengetahuan di bidang Kesehatan Masyarakat dan Kesejahteraan Ibu dan Anak (KIA) di Inggris, Skandinavia, Amerika Serikat, dan Malaysia.

Selain itu, kecerdasan dan kecakapannya juga membuat dia mendapat beasiswa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mempelajari sistem kesehatan ibu dan anak di negara-negara Eropa.

Pada 1956, dia memimpin Unit Kesehatan Masyarakat Desa dan Pendidikan Kesehatan Rakyat (KMD/PKR).

Sul membuat “Proyek Bekasi” di Lemah Abang, proyek percontohan atau model pelayanan bagi pengembangan kesehatan masyarakat dan pusat pelatihan, yang memadukan pelayanan kesehatan pedesaan dan pelayanan medis.

Ketika menjabat Direktur Jenderal Pencegahan, Pemberantasan dan Pembasmian Penyakit Menular (P4M) pada 1967, Sul meyakinkan komisi internasional WHO bidang pemberantasan penyakit cacar bahwa Indonesia terbebas dari penyakit menular itu, yang kala itu melanda dunia.

Apa yang dipelopori Sul kemudian mendapat tempat di masa Orde Baru melalui Program Keluarga Berencana.

Sul juga mendapat Certificate of Public Health Administrasion dari Universitas London.

Tahun 1961 hingga 1965, Sul menjadi research associate di School of Medicine, Tulane University, New Orleans, Lousiana di Amerika Serikat.

Pada tahun 1962, ia meraih gelar MPH dan TM (Master of Public Health dan Tropical Medicine) dengan tesis terbaik.

Tahun 1965, ia mencapai gelar Doctor of Public Health (Epidemiologi) setelah mengadakan penelitian "The Natural History of Enteropathogenic Escherichia Colt Infections".

Dedikasi dan konsistensi Sul di bidang kedokteran membuat namanya harum hingga ke luar Indonesia.

Oleh WHO, Sul kemudian diangkat menjadi anggota badan eksekutif dan bahkan pernah menjadi Ketua Health Assembly atau Majelis Kesehatan, yang berhak menetapkan dirjen WHO.

Selama 25 tahun pertama WHO, hanya ada dua perempuan yang terpilih sebagai Presiden Majelis Kesehatan Dunia, yakni Rajkumari Amrit Kaur dari India (1950) dan Julie Sulianti Saroso dari Indonesia (1973).

Tahun 1975, Sul berhenti sebagai Dirjen P4M dan menjadi Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.

Setelah wafat pada 29 April 1991, nama Sul diabadikan sebagai nama sebuah rumah sakit di Jakarta, yaitu Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso, yang pada tahun 2004 terkenal dalam mengatasi epidemi flu burung. (1)

Baca: Elon Musk

Baca: Merry Riana

  • Kontroversi Pembatasan Kelahiran


Kecerdasan dan kecakapan Sulianti Saroso membuatnya mendapat beasiswa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mempelajari sistem kesehatan ibu dan anak di negara-negara Eropa.

Sekembalinya ke tanah air pada 1952, Sul membawa banyak ide mengenai kesehatan ibu dan anak, khususnya pengendalian angka kelahiran melalui pendidikan seks dan gerakan keluarga berencana.

Sejak itu, Sul mulai bergerak, melalui RRI Yogyakarta ia menyampaikan pidato untuk menggalang dukungan pemerintah.

Namun, mendengar siaran itu, Wakil Presiden Muhammad Hatta marah, ia meminta Sul berhenti membicarakan keluarga berencana dan menahan diri dalam menjalankan tugasnya sebagai Kepala Jawatan Kesehatan Ibu dan Anak pada Kementerian Kesehatan di Yogya.

Sul terkejut, baginya perintah itu merupakan kontradiksi yang kejam, sementara bagi Hatta, perintah ini masuk akal dari sisi moralitas akal sehat.

Reaksi juga muncul dari organisasi perempuan lokal, terlebih muncul berita di Kedaulatan Rakyat pada 16 Agustus 1952 yang berjudul “Bivolkingspolitiek Perlu di Indonesia, Beranikah Kaum Ibu Lakukan Pembatasan Kelahiran?” yang merupakan hasil wawancara dengan Sulianti.

Berita itu menyebutkan, dua bulan sebelumnya dua utusan dari markas besar badan PBB untuk urusan anak (UNICEF) di Bangkok, Dr Sam Keeny dan Hayward, berkunjung ke Indonesia untuk membicarakan rencana peningkatan kesejahteraan ibu dan anak yang diajukan kepada UNICEF dan rencana itu diterima UNICEF.

Menurut Sulianti, Indonesia kekurangan tenaga bidan, sehingga masyarakat menggunakan tenaga dukun sehingga menyebabkan angka kematian bayi tinggi.

Di sisi lain, jumlah penduduk Indonesia meningkat, menurut Sul sebaiknya para ibu harus berani dan mau melakukan pembatasan kelahiran.

Reaksi datang dari Gabungan Organisasi Wanita Yogyakarta (GOWY) yang kemudian menggelar pertemuan bersama dengan para pemuka agama, dokter, dan bidan.

Mereka menolak pandangan Sulianti tentang pembatasan kelahiran, yang mereka anggap melanggar HAM, mengakibatkan pembunuhan bibit-bibit bayi, dan bahkan bisa memperluas pelacuran dan merusak moral masyarakat.

Pada Oktober 1952, organisasi perempuan lokal menggelar seminar tentang keluarga berencana dan kehamilan berencana, yang dihadiri petugas pelayanan kesehatan, kelompok sekuler, dan organisasi keagamaan Katolik dan Islam.

Seminar tersebut menghadirkan kesimpulan: penggunaan kontrasepsi ditolak dalam bentuk apapun dan alasan apapun.

Karena muncul banyak reaksi, Sulianti dipanggil Menteri Kesehatan dan diperingatkan agar tak lagi menyinggung masalah sensitif itu.

Menurut Sulianti, peringatan itu diberikan oleh Menteri Kesehatan karena sebelumnya sang menteri mendapat teguran dari Presiden Sukarno.

Dalam sebuah pidato yang diucapkan di Palembang setelah “Peristiwa Yogya” itu, presiden menyatakan tak setuju dengan pembatasan kelahiran.

Sukarno bukan tak mendukung keluarga berencana, namun lebih ke arah cenderung hati-hati di tengah ketegangan politik yang tinggi dan pertentangan masyarakat terhadap “pelanggaran moral” atas keluarga berencana.

Beberapa orang kepercayaan Sukarno berada pada garis depan untuk mempromosikan kesehatan reproduksi.

Sul pun mulai bekerja dengan hati-hati, sejumlah tokoh perempuan kemudian mendirikan Yayasan Kesejahteraan Keluarga (YKK) pada 12 November 1952, yang membuka akses terhadap pengaturan kehamilan serta kesehatan ibu dan anak.

Mereka tak lagi memakai istilah pembatasan kelahiran melainkan pengaturan kehamilan dan lebih menekankan pada alasan kesehatan.

Di klinik praktiknya, di Jakarta, Sul memberikan informasi bahwa layanan pengendalian kelahiran tersedia di sektor swasta.

Selain itu, Sul juga menggerakkan usaha kesehatan masyarakat. (3)

(Tribunnewswiki.com/Ron)



Nama Prof. Dr. Julie Sulianti Saroso, MPH
Lahir Bali, 10 Mei 1917
Riwayat Karier Dokter & Aktivis
Berita Terkini Namanya diabadikan sebagai Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso
   


Sumber :


1. jakarta.go.id
2. www.kompas.com
3. historia.id


Penulis: Ronna Qurrata Ayun
Editor: Putradi Pamungkas




ARTIKEL REKOMENDASI



KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2020 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved