TRIBUNNEWSWIKI.COM – Merebaknya wabah demam berdarah dengue (DBD) dan virus corona (Covid-19) secara bersamaan di sejumlah negara di Asia Tenggara akan menimbulkan tantangan baru bagi pihak berwenang dan petugas kesehatan.
Para ahli pun telah memeringatkan bahwa infeksi virus corona baru bisa lolos dari upaya pengendalian yang dilakukan.
Kekhawatiran tersebut dipicu oleh adanya laporan pada 4 Maret 2020 lalu oleh dokter yang berbasis di Singapura dalam jurnal medis The Lancet.
Dalam laporan tersebut menunjukkan kesamaan antara penyakit DBD dan Covid-19, dan bagaimana hal tersebut justru bisa menghasilkan salah diagnosa terhadap kasus demam berdarah.
"Penyakit dengue dan coronavirus 2019 (Covid-19) sulit dibedakan karena mereka berbagi fitur klinis dan laboratorium," tulis kelompok penulis dari Sistem Kesehatan Universitas Nasional Singapura, Rumah Sakit Umum Ng Teng Fong, dan Institut Kesehatan Lingkungan.
Dikutip dari South China Morning Post (SCMP), laporan tersebut mengutip kasus dua warga Singapura yang pada awalnya dinyatakan positif demam berdarah.
Namun, setelah tes serologis yang cepat (istilah yang biasanya digunakan untuk tes antibody), kedua orang tersebut justru dinyatakan positif terinfeksi virus corona.
Baca: BREAKING NEWS - Seorang Pasien Virus Corona (COVID-19) di Indonesia Meninggal Dunia
Baca: Perkembangan Terbaru Virus Corona - 11 Maret 2020: Total 4292 Meninggal, 65.893 Pasien Sembuh
Tidak ada pasien yang melakukan perjalanan ke daerah yang terkena coronavirus, tetapi menunjukkan gejala seperti demam dan batuk.
"Ini sangat umum dalam semua penyakit virus," kata ahli penyakit menular Leong Hoe Nam dari Rumah Sakit Mount Elizabeth Novena.
Dia menambahkan bahwa nyeri otot adalah gejala lain yang ditunjukkan oleh pasien yang menderita influenza,demam berdarah, Zika atau Chikungunya.
Leong mengatakan, jika hasil tes dengue kembali positif, dokter dapat langsung mengambil kesimpulan bahwa seorang pasien memiliki penyakit, terutama jika mereka tinggal di daerah yang merupakan hotspot dengue.
Dia menambahkan bahwa itu tidak membantu bahwa kedua wabah itu terjadi secara bersamaan di Asia Tenggara.
Jeremy Lim, seorang mitra praktik kesehatan dan ilmu kehidupan dari perusahaan konsultasi global Oliver Wyman, mengatakan virus Covid-19 bisa menjadi “bunglon” pada tahap awal infeksi.
Hal itulah yang dapat menyebabkan beberapa kasus virus corona justru didiagnosis sebagai demam berdarah.
“Yang rumit adalah ketika orang datang ke dokter umum atau ke rumah sakit dengan gejala yang tidak spesifik, Anda sekarang harus khawatir tentang keduanya,” katanya.
Kemudian, menanggapi dari SCMP, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menekankan bahwa demam berdarah dan Covid-19 adalah “dua virus yang sama sekali berbeda”.
Yang pertama adalah flavivirus sedangkan yang terakhir adalah coronavirus.
"Sementara gejala awal kedua penyakit bisa serupa, kita dapat membedakan antara keduanya ketika penyakit ini berkembang," katanya.
"Keputusan untuk melakukan tes untuk kedua penyakit dibuat oleh dokter dan didasarkan pada presentasi klinis dan informasi lainnya termasuk hubungan epidemiologis dan paparan lainnya," pungkasnya.
Baca: Sebanyak 13 Pasien DBD di Sikka Meninggal Dunia, Menkes: Itu Kehendak Tuhan, Bukan Kesalahan Kita
Baca: Inang Perantara Virus Corona Belum Dapat Ditentukan, WHO Ingatkan Wabah Bisa Hidup Kembali
Sejauh ini, telah ada pertumbuhan kasus virus corona baru di kawasan Asia Tenggara selama seminggu terakhir.
Di Singapura telah ada 166 kasus virus corona yang dilaporkan, kemudian di Malaysia sebanyak 129.
Sebanyak 53 kasus virus corona dikonfirmasi terjadi di Thailand.
Sedangkan Indonesia, kasus juga terus meningkat menjadi 27 pasien positif corona dengan satu kematian baru.
Di sisi lain, negara-negara tersebut juga tengah bergulat dengan wabah DBD.
Menurut perkiraan WHO, ada sekitar 390 juta infeksi dengue yang terjadi di seluruh dunia setiap tahunnya.
"Meskipun ada risiko infeksi di 129 negara, 70 persen dari beban aktual ada di Asia," kata Who melalui situs resminya.
Di Indonesia sendiri, sejumlah wilayah telah mengonfirmasi kasus DBD di wilayahnya.
Salah satunya adalah di wilayah Kabupaten Sikka, NTT yang telah menetapkan 4 kali status kejadian luar biasa (KLB) demam berdarah dengue (DBD) di tahun 2020 ini.
Baca: Infeksi Virus Corona Meluas, UEFA Pertimbangkan Tunda Piala Eropa 2020
Baca: Dua Pasien Positif Corona Tunjukan Tanda Kesembuhan, Tapi Harus Jalani Pemeriksaan Kedua
Penetapan KLB itu disebabkan jumlah penderita DBD terus meningkat dari Januari hingga Maret 2020.
Sampai dengan Selasa (10/3/2020), tercatat ada 1.190 kasus dan 14 meninggal dunia karena DBD.
Lim dari Oliver Wyman mengatakan prevalensi infeksi dengue dan ketersediaan alat tes yang sesuai membuatnya jauh lebih mudah untuk menguji penyakit ini.
Sementara untuk Covid-19, jika tidak memiliki alat tes yang hebat, maka hal tersebut dapat meningkatkan risiko bahwa pasien akan salah didiagnosis menderita demam berdarah.
Para penulis laporan Lancet juga menekankan pentingnya memiliki alat uji virus corona yang terjangkau dan tersedia di seluruh Asia.
“Kami menekankan kebutuhan mendesak untuk tes diagnostik yang cepat, sensitif, dan dapat diakses untuk [Covid-19], yang harus sangat akurat untuk melindungi kesehatan masyarakat,” kata mereka.
(Tribunnewswiki.com/Ami Heppy)