Wabah DBD di Tengah Kasus Virus Corona di Asia Tenggara Picu Kekhawatiran Para Ahli Tentang Hal Ini

Para ahli pun telah memperingatkan bahwa infeksi virus corona baru bisa lolos dari upaya pengendalian yang dilakukan.


zoom-inlihat foto
aktivitas-masyarakat-saat-berada-di-rumah-sakit-penyakit-infeksi-rspi.jpg
KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG
Aktivitas masyarakat saat berada di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, Jakarta Utara, Senin (9/3/2020). Pemerintah resmi mengumumkan bertambahnya pasien yang dikonfirmasi positif tertular virus corona pada hari minggu, total ada 6 pasien kasus Covid-19.


Di Singapura telah ada 166 kasus virus corona yang dilaporkan, kemudian di Malaysia sebanyak 129.

Sebanyak 53 kasus virus corona dikonfirmasi terjadi di Thailand.

Sedangkan Indonesia, kasus juga terus meningkat menjadi 27 pasien positif corona dengan satu kematian baru.

Di sisi lain, negara-negara tersebut juga tengah bergulat dengan wabah DBD.

Menurut perkiraan WHO, ada sekitar 390 juta infeksi dengue yang terjadi di seluruh dunia setiap tahunnya.

"Meskipun ada risiko infeksi di 129 negara, 70 persen dari beban aktual ada di Asia," kata Who melalui situs resminya.

 Di Indonesia sendiri, sejumlah wilayah telah mengonfirmasi kasus DBD di wilayahnya.

Salah satunya adalah di wilayah Kabupaten Sikka, NTT yang telah menetapkan 4 kali status kejadian luar biasa (KLB) demam berdarah dengue (DBD) di tahun 2020 ini. 

Baca: Infeksi Virus Corona Meluas, UEFA Pertimbangkan Tunda Piala Eropa 2020

Baca: Dua Pasien Positif Corona Tunjukan Tanda Kesembuhan, Tapi Harus Jalani Pemeriksaan Kedua

Penetapan KLB itu disebabkan jumlah penderita DBD terus meningkat dari Januari hingga Maret 2020. 

Sampai dengan Selasa (10/3/2020), tercatat ada 1.190 kasus dan 14 meninggal dunia karena DBD.

Lim dari Oliver Wyman mengatakan prevalensi infeksi dengue dan ketersediaan alat tes yang sesuai membuatnya jauh lebih mudah untuk menguji penyakit ini.

Sementara untuk Covid-19, jika tidak memiliki alat tes yang hebat, maka hal tersebut dapat meningkatkan risiko bahwa pasien akan salah didiagnosis menderita demam berdarah.

Para penulis laporan Lancet juga menekankan pentingnya memiliki alat uji virus corona yang terjangkau dan tersedia di seluruh Asia.

“Kami menekankan kebutuhan mendesak untuk tes diagnostik yang cepat, sensitif, dan dapat diakses untuk [Covid-19], yang harus sangat akurat untuk melindungi kesehatan masyarakat,” kata mereka.

(Tribunnewswiki.com/Ami Heppy)





BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved