Itulah mereka yang melakukan itu.
"Kita bantah pendapat-pendapat mereka terutama mereka yang selalu memusuhi aparat atau pemerintah," papar Hassan.
Dia mengatakan sempat berteman baik dengan Rois "yang menghadapi satu perkara dengannya" selama sekitar dua tahun.
Namun situasi berubah, kata Hassan, setelah datangnya Aman.
"Mereka punya pemahaman mengkafirkan.
Jangankan aparat, saya juga, sama pak Subur.
Saya dikafirkan dan hukumnya menurut syariat Islam, darahnya halal.
Berarti saya berhak dibunuh sama mereka," tambahnya.
Hassan mengatakan saat itu mereka "bertujuh dan kami cuma berdua dengan pak Subur, ada Aman Abdurrahman dan Rois."
Hassan juga mengatakan ia akhirnya terbebas setelah petugas "memindahkan dan tidak dicampur dengan mereka".
"Saya was-was. Lama-lama petugas sipir tahu, saya dan Pak Subur disuruh pilih kamar di mana.
Saya was-was sekali, kalau kita lengah, (bisa) lewat gitu saja," katanya lagi.
Hassan juga menambahkan kekhawatirannya saat itu bahwa narapidana kejahatan lain "ikut-ikutan mereka".
Kepala Lapas Batu, Erwedi Supriyanto, menyatakan saat ini kemungkinan saling mempengaruhi di lapas risiko tinggi "kecil" karena sel napi yang dipisahkan.
Di Lapas Batu, yang sebenarnya diperuntukkan untuk narkoba, saat ini terdapat 18 orang napi terorisme.
"Mereka tak lagi bisa berkomunikasi di antara mereka.
Dulu waktu belum ada revitalisasi khususnya untuk high risk, mereka kan masih bisa sering berkomunikasi, sering bertemu, sehingga bisa saling mempengaruhi.
Tapi sejak Lapas Batu dan Pasir Putih menjadi lapas yang high risk, satu orang satu sel dan mereka tidak bisa berkomunikasi intens dengan yang lain," kata Erwedi.
Hassan menyatakan salah satu hal yang membuatnya sadar bahwa yang dilakukannya salah, ketika melihat dampak terhadap para korban bom.
Ia menyebut apa yang dilakukannya - sebagai pengantar bahan peledak bersama Rois - seperti orang bodoh.