Viral Kisah Ayah Jual Ginjal demi Pengobatan Anaknya Sakit Epilepsi dan Lumpuh, Pemkab Turun Tangan

Kisah Rahmat yang ingin menjual ginjalnya demi biaya pengobatan anaknya yang menderita epilepsi dan lumpuh.


zoom-inlihat foto
kisah-pak-rahmat-yang-menjajakan-ginjalnya-di-jalanan.jpg
Suar.grid.id
Rahmat ingin menjual ginjalnya untuk pengobatan anaknya yang menderita epilepsi dan lumpuh.


"Anak saya pertama telah meninggal karena sakit panas tinggi juga dan adiknya juga."

"Kami tak sanggup membiayai pengobatannya," tutur Rahmat.

Rahmat mengaku selama ini dirinya tak mendapatkan bantuan dari pemerintah.

Rosmiel mengatakan, anaknya kerap sakit dan bolak-balik di rawat inap.

"Dia nangis, sampai bisa buang air di celana."

"Hingga umur 7 tahun ini belum bisa berbicara," pungkas Rosmiel Simatupang.

"Tak pernah ada bantuan. Macam mana lagi, BPJS ku sudah nunggak, aku peserta mandiri. Aku jual saja ginjal yang penting anakku bisa terurus," ujarnya.

Tanggapan Pemkab Deliserdang

Kisah seorang ayah menjual ginjal demi pengobatan anaknya menanggap tanggapan dari Pemerintah Kabupaten Deliserdang.

Dikutip dari Tribun Medan, Pemkab Deliserdang membantu Rahmad warga Desa Mulyorejo, Kecamatan Sunggal, yang menjajakan menjual ginjalnya untuk biaya pengobatan anaknya, Siti Rahayu (7).

Pemkab Deliserdang membantu keluarga Rahmat dengan diusulkan untuk menjadi peserta dengan status Penerima Bantuan Iuran (PBI).

Baca: Susy Susanti Beber Kisah Heroik Olimpiade Barcelona 1992, Tegang, Sulit Tidur : Cuma Makan Nasi Abon

"Sudah kami usulkan BPJS-nya ke PBI sekarang ini. Ya, lagi proses peralihan status lah sekarang ini di Dinas Sosial. Kan ada waktunya, yang jelas sudah kita bantu lah. Saya juga kemarin sudah datang ke rumahnya untuk memastikan kondisi keluarga ini," ujar Camat Sunggal Ismail yang ditemui di Kantor Bupati Deliserdang, Senin, (17/2/2020).

Ismail mengatakan setelah mengunjungi kediaman Rahmat, Minggu, (16/2/2020) siang ternyata tidak ada hal urgen yang mengharuskan ia harus menjual ginjalnya demi pengobatan anaknya.

"Sempatnya saya tanya kenapa mau jual ginjal, ya katanya untuk pengobatan anaknya yang sakit efilepsi. Anaknya butuh biaya terapi di rumah sakit juga, sekali terapi katanya Rp 50 ribu. Saya bilang sama dia kalau memang seperti itu biar saya yang bantu."

"Itulah dia mau jual ginjal termasuk untuk beli popok anaknya juga. Kalau untuk BPJS Kesehatannya baru dua bulannya tidak dibayarkan dan ini sudah dibantu. Intinya enggak ada hal urgen sehingga harus jual ginjal Dia dulu ini pun sempat pindah pindah sehingga tidak masuk data (miskin)," kata Ismail.

Sementara itu Kadis Kesehatan Deliserdang, dr Ade Budi Krista mengungkapkan bahwa anak Rahmad sebenarnya sudah dalam jangkauan petugas Puskesmas.

Karena kondisinya memang susah Puskesmas pun sudah memberi bantuan Pemberian Makan Tambahan (PMT) untuk anaknya.

"Anaknya memang sakit efilepsi dan ada kelainan saraf sehingga tidak bisa tahan lama berjalan. Karena sudah mendapat PMT artinya dia sudah jangkauan pelayanan puskesmas.

Sudah sering petugas kita datangi rumahnya dan menyampaikan agar anaknya dibawa ke Puskesmas tapi ibunya diam saja.

Baca: Kisah Wanita Thailand 60 Tahun, Nikah 14 Kali, Klaim 60 Ribu Pria Muda Antre Meminangnya

Baca: Kisah Para Mahasiswa Kembali dari Karantina di Natuna, Tak Kapok Ingin Kembali ke Wuhan

Kalau pemeriksaan di rumahkan paling hanya pemeriksaan luar saja tapi kalau di puskesmas bisa lebih mendalam dan bisa kita ambil darahnya untuk diketahui apakah ada penyakit lain atau tidak," kata dr Ade.





Halaman
123
BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved