Harga Masker di Indonesia Tinggi, Menkes Justru Salahkan Orang yang Membeli: Salahmu Sendiri Beli

Menteri Kesehatan Terawan menjelaskan jika masker hanya digunakan oleh orang yang sakit agar tidak menularkannya ke lingkungan sekitar.


zoom-inlihat foto
masker1.jpg
Kompas.com
Penjualan masker di kawasan Jalan IR Haji Juanda, Bekasi, Kamis (7/2/2020).(KOMPAS. COM/CYNTHIA LOVA)


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Harga masker di Indonesia melonjak tajam, hingga bisa menyentuh angka 10 kali lipat di tengah kekhawatiran masyarakat akan penyebaran virus corona.

Terkait hal tersebut, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto merasa tidak heran dengan melambungnya harga masker di Indonesia.

Dikutip dari Kompas.com, Terawan justru menyalahkan masyarakat yang membeli masker.

"Salahmu sendiri kok beli ya," kata Terawan di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Sabtu (15/2/2020).

terawan1
Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto memberikan keterangan kepada wartawan menjelang kedatangan WNI dari natuna di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur, Sabtu (15/2/2020).(KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG)

Ia menilai, orang yang sehat tidak perlu menggunakan masker untuk mengantisipasi virus.

Lebih lanjut Terawan menjelaskan jika masker hanya digunakan oleh orang yang sakit agar tidak menularkannya ke lingkungan sekitar.

"Enggak usah (pakai masker). Masker untuk yang sakit," kata dia.

Baca: Korea Utara Siap Tembak Mati Pasien Terjangkit Virus Corona Agar Tidak Menular ke Masyarakat

Baca: Akibat Wabah Virus Corona, MotoGP Thailand 2020 Terancam Dibatalkan

Menurut Terawan, perwakilan dari World Health Organization (WHO) di Indonesia juga memiliki pendapat serupa.

"Dr. Paranietharan dari WHO bilang, enggak ada gunanya (orang sehat pakai masker). Untuk yang sakit supaya tidak menulari orang lain kalau sakit. Tapi yang sehat enggak perlu," kata dia.

Saat ditanya mengenai apakah pemerintah akan turun tangan menangani lonjakan harga masker, Terawan tak menjawab dengan tegas.

Ia hanya menegaskan bahwa melambungnya harga masker tersebut karena mekanisme pasar.

"Itu kan pasar begitu, kalau dibutuhkan banyak harga naik, kalau orang nyari malah justru makin mahal. Kan begitu, tapi kalau enggak ada yang nyari turun sendiri harganya," ucap dia.

Tingginya harga masker di Indonesia bahkan sempat disoroti oleh beberapa media asing.

Dilansir oleh Kompas.com, salah satu media yang menyoroti harga masker di Indonesia adalah Reuters yang menyoroti kenaikan harga masker hingga 10 kali lipat dari harga asli.

Selain itu, media Pemerintah Singapura, Straits Times, dalam judul berita "Coronavirus: Price of a box of N95 masks cost more than a gram of gold in Indonesia" melaporkan bahwa harga satu kotak masker N95 sebanyak 20 lembar mencapai Rp 1,5 juta.

Harga tersebut melebihi nilai satu gram emas yang saat ini berkisar Rp 800.000.

Media tersebut juga melaporkan kenaikan harga lebih tinggi untuk masker biasa.

Satu kotak berisi 50 lembar mencapai Rp 275.000 dengan harga normal kisaran Rp 30.000.

Baca: Waspada Virus Corona, Harga Masker di Indonesia Lebih Mahal dari Emas, Diduga Ditimbun Distributor

Baca: Gara-Gara Jual Masker 6 Kali Lipat Dari Harga Normal, Apotek di Beijing Didenda Rp 5,9 Juta

Tingginya permintaan masker dan keterbatasan stok membuat harganya melambung tinggi berkali-kali lipat.

Khususnya masker N95 yang disebut lebih ampuh memproteksi diri dari virus. 

Di Indonesia, persediaan masker di Pasar Pramuka, Matraman, Jakarta Timur, langka sehingga harganya juga sangat tinggi.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengkritik pemerintah yang tidak turun tangan terhadap kenaikan harga masker di Indonesia.

Dilansir oleh Kompas.com, YLKI menduga ada penimbunan masker oleh pihak distributor untuk meraup untung lebih besar.

"Penimbunan tersebut akan mengacaukan distribusi masker di pasaran dan dampaknya harga masker jadi melambung tinggi," kata Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi dalam keterangannya, Jumat (14/2/2020).

Baca: Menkes Terawan Usulkan Jual Terapi Kerokan ke Turis: Kerokan Bikin Takjub Orang Asing

Baca: 10 Pucuk Senjata Milik Anggota TNI Korban Heli MI-17 Hilang, Diduga Diamankan Masyarakat

Tulus mengungkapkan pihaknya telah banyak menerima aduan konsumen terkait lonjakan harga masker serta kelangkaannya di pasaran.

"Ini kan distributor (bisa saja) sengaja menimbun atau memainkan sehingga seolah-olah di pasaran tidak ada barang, tidak ada stok sehingga harga naik, konsumen panik, dan kemudian dijadikan objek eksploitasi untuk menaikkan harga," ujar Tulus.

Terkait hal tersebut, Tulus meminta pihak kepolisian dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mengusut tuntas penyebab harga masker yang melonjak tajam di pasaran karena diduga ada pihak yang melakukan penimbunan.

Berbeda dengan pemerintah Indonesia yang belum turun tangan untuk atasi kenaikan harga masker, pemerintah China telah menerapkan aturan ketat untuk mengatur harga masker di pasaran.

Dikutip dari Kompas.com, pemerintah China akan memberikan denda hingga Rp 5,8 miliar kepada penimbun dan penjual masker dengan harga tinggi di tengah wabah virus corona.

Beijing mengirim lebih dari 390.000 orang untuk meningkatkan pengawasan terhadap harga alat perlindungan dan menimbun aktivitas penimbunan.

Salah satu kasus yang pernah terjadi ada di Distrik Fengtai, Provinsi Beijing, di mana sebuah toko obat didenda sebanyak 3 juta yuan, atau setara dengan Rp 5,8 miliar.

Toko tersebut didenda karena telah menaikkan harga masker wajah sampai 850 yuan atau setara Rp 1,6 juta per kotak.

Harga tersebut naik enam kali lipat dari harga aslinya.

(Tribunnewswiki.com/Ami Heppy, Kompas.com/Ihsanuddin)





BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

  • Film - Uang Passolo (2026)

    Uang Passolo adalah sebuah film drama Indonesia yang
© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved