TRIBUNNEWSWIKI.COM - Kronologi siswi SD di Poso menangis karena tak dapat hadiah uang lomba lari marathon 21 kilometer, Bina Marga Sulawesi Tengah klaim tak pernah janjikan hadiah.
Desa Pandiri, Kecamatan Lage, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah mendadak menjadi sorotan.
Ada seorang bocah di desa tersebut yang masih duduk di bangku kelas enam sekolah dasar, tiba-tiba menjadi viral.
Namanya Asmarani Dongku, dan baru berusia baru 12 tahun.
Gadis lugu itu tak kuasa menahan kekesalan karena usai mengikuti lari marathon 21 kilometer, ia tak mendapat hadiah uang seperti yang ia dengar sebelum mengikuti lomba.
Asmarani atau biasa dipanggil Melan, hanya menangis dan kecewa ketika kembali ke rumahnya.
Ia tak membawa hadiah uang sesen pun dari ajang lari 21 Km yang dihelat oleh Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Provinsi Sulawesi Tengah, Sabtu 25 Januari 2020 lalu.
Dikutip dari Kompas.com, kekecewaan itu masih membekas. Hal ini terdengar dari suaranya.
Melan menuturkan, dirinya begitu kecewa usai mengikuti ajang lari marathon itu.
Melan mendengar soal lomba lari itu dari tetangganya.
Lari marathon dengan jarak 21 km itu, ujar sang tetangga, menyiapkan bonus dalam bentuk uang bagi peserta yang pertama masuk di garis finish.
Dengan semangat 45, gadis berpawakan mungil itu menyiapkan fisiknya. Ia ingin mengikuti ajang itu.
Hari perlombaan tiba. Sabtu (25/01/2020), sekitar pukul 03.00 Wita, gadis kecil itu dibangunkan dari tidur lelapnya oleh sang ibu Jumilda Podagi (42).
Dengan mata masih berat, Melan kemudian bergegas ke kamar mandi.
Usai dari kamar mandi ia pun menyiapkan diri.
Dengan sepatu butut berlogo Nike yang dibelikan ibunya saat dia kelas empat SD, Melan siap bertarung.
"Mamaku beli seratus ribu itu sepatuku.
Mama beli waktu saya masih kelas empat," kata Melan, Kamis (30/1/2020).
Dengan diantar ibunya, Melan dan kakak kandungnya siap bertempur di ajang lari marathon itu.
Dengan mengendarai sepeda motor, ketiganya bergegas menuju depan jalan rumah Bupati Poso, sebagai start awal ajang lari marathon 21 km itu digelar.