TRIBUNNEWSWIKI.COM - Baru-baru ini publik digemparkan dengan adanya Keraton Agung Sejagat.
Keraton ini berada di Purworejo, Jawa Tengah.
Tak main-main, Keraton Agung Sejagat juga dipimpin oleh raja dan ratu.
Mereka ialah Totok Santosa Hadiningrat dam Kajeng Ratu Dyah Gitarja.
Kini, keduanya telah ditetapkan sebagai tersangka .
Hal itu berkaitan dengan modus penarikan dana dari pengikut, dengan embel-embel akan diberikan jabatan dan gaji yang besar.
"Kami akan mendalami berapa banyak korban yang sudah mengumpulkan iuran dan motif lain yang akan kami ungkap," ujar Kapolda Jawa Tengah Irjen Rycko Amelda Daniel saat pengungkapan kasus di Mapolda Jateng, Rabu (15/1/2020).
Baca: Psikolog Duga Raja Keraton Agung Sejagat Idap Delusi Grandiose: Tak Sesuai dengan Realita Sebenarnya
Baca: Polisi Ungkap Jumlah Rekening Totok ‘Raja Keraton Agung Sejagat’, Uang Tunai Tak Sampai Rp 20 Juta
Berikut ini adalah fakta terbaru mengenai Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagad, dihimpun oleh TribunnewsMaker.com.
Jalani Ritual di Dieng
Tak sembarangan, Totok Santoso ternyata sempat menjalani ritual pengukuhan sebagai raja.
Pengukuhan tersebut dilakukan di kawasan wisata Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, tahun 2019 lalu.
Hal tersebut telah diceritakan oleh Kepala Unit Pengelola Teknis (UPT) Pengelolaan Objek Wisata Dieng Aryadi Darwanto.
"Pasti, karena namanya sama Pak Toto itu, ratunya juga sama, ada namanya. Waktu itu sebelum prosesi mereka juga sempat bermalam di rumah tetua adat sini, dia dikasih pakaian kebesaran, masih disimpan sepertinya, karena ada rumbai-rumbai di belakang jadi enggak mau pakai," kata Aryadi.
Prosesi pengukuhan raja dan doa bersama memperingati 1.000 tahun Raja Sanjaya dilakukan sekitar pukul 22.00 WIB.
Aryadi mengingat saat itu sudah turun es.
Kemudian dia memutuskan pulang karena kedinginan.
Kala itu ada 100 orang yang mengawali ritual di sumber mata air Bimalukar.
Dengan menggunakan kostum kerajaan dan iringan drumband, mereka berjalan kaki ke kompleks Candi Arjuna.
Saat ritual itu dilakukan, ada beberapa aparat kepolisian dari Polda Jateng ikut mengamankan.
"Kirab dimulai maghrib, sampai candi hampir pukul 20.00 WIB, jalan kaki dua jam, jaraknya hanya sekitar satu kilometer, tapi kan gerakannya satu langkah berhenti, berjalan berhenti. Musiknya seperti di Keraton Yogyakarta," tutur Aryadi.
Baca: Alasan Totok Dirikan Keraton Agung Sejagat: ‘Saya Dapat Ilham Dari Leluhur Kerajaan Majapahit’
Baca: Selain Ritual, Raja Keraton Agung Sejagat Purworejo Pernah Gelar Kirab Pengantin di Kontrakan
Raja Kontrak Rumah di Sleman