Kapal Ikan Asing Bertambah di Natuna, TNI Lakukan Aksi Persuasif: Jika Diabaikan Bisa Diproses Hukum

Pascakunjungan Jokowi, kapal ikan asing (KIA) semakin banyak menduduki laut natuna. TNI melakukan tindakan persuasif untuk mengatasi masalah tersebut.


zoom-inlihat foto
kia-di-natuna.jpg
Tribunnews.com/PUSPEN TNI
Pascakunjungan Jokowi, kapal ikan asing (KIA) semakin banyak menduduki laut natuna. TNI melakukan tindakan persuasif untuk mengatasi masalah tersebut.


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Belakangan hubungan bilateral antara Indonesia dengan China sedang memanas.

Hal tersebut lantaran China secara terang-terangan mewujudkan klaim terhadap perairan Natuna bagian utara.

Kapal-kapal nelayan atau kapal ikan asing (KIA) mulai masuk ke dalam Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) Natuna.

Tak tanggung, para KIA tersebut datang dikawal oleh kapal coast guard atau kapal penjaga pantai milik China.

Menanggapi hal tersebut, Indonesia telah mengirimkan nota protes serta memanggil Dubes China untuk Indonesia di Jakarta.

Namun, Pemerintah Beijing melalui Kementerian Luar Negeri mengklaim kapal-kapal tersebut tidak melanggar kedaulatan Indonesia.

Bahkan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Geng Shuang, mengatakan China tidak melanggar hukum internasional.

Hingga akhirnya, Rabu (8/1/2020) Presiden Indonesia, Joko Widodo mengunjungi perairan Natuna.

Dalam kunjungannya tersebut, Jokowi menegaskan kedaulatan NKRI tidak bisa ditawar.

"Kita punya kabupaten di sini, ada bupatinya dan ada gubernurnya bahkan penduduk kita di sini ada 81 ribu, jadi tidak ada yang perlu didebatkan lagi," kata Jokowi.

Namun setelah kunjungan sang presiden, KIA asal China justru semakin banyak berdatangan.

KIA asal China semakin bertambah banyak di perairan Natuna

Sejak melaksanakan gelar operasi pengamanan di wilayah Laut Utara Natuna beberapa waktu lalu pasca keberadaan kapal Coast Guard China, Kapal Pengawasan Perikanan China dan KIA asal China, Panglima Komando Gabubgan Wilayah I (Pangkogabwilhan I) Laksdya TNI Yudho Margono kembali melakukan pemantauan wilayah Laut Utara Natuna dan sekitatnya tersebut. dan hasilnya terpantau 30 kapal asing berada disana.
Sejak melaksanakan gelar operasi pengamanan di wilayah Laut Utara Natuna beberapa waktu lalu pasca keberadaan kapal Coast Guard China, Kapal Pengawasan Perikanan China dan KIA asal China, Panglima Komando Gabubgan Wilayah I (Pangkogabwilhan I) Laksdya TNI Yudho Margono kembali melakukan pemantauan wilayah Laut Utara Natuna dan sekitatnya tersebut. dan hasilnya terpantau 30 kapal asing berada disana. (KOMPAS/DOK TNI)

Dikutip dari Kompas.com, semakin banyaknya KIA asal China terbukti dari pantauan udara yang dilakukan TNI menggunakan pesawat intai maritim Boeing 737 AI-7301.

Dari pemantauan itu, ditemukan sekitar 30 KIA yang masih menduduki Laut Natuna bagian utara.

"Saat ini KIA tersebut bukan malah berkurang, melainkan semakin bertambah dan jumlahnya sekitar 30 KIA," kata Panglima Komando Gabungan Wilayah I (Pangkogabwilhan), Laksdya TNI Yudho Margono seperti yang dikutip dari Kompas.com, Sabtu (11/1/2020).

Mengetahui ada temuan itu, Yudho langsung menginstruksikan untuk melakukan pengusiran.

Yudho kemudian mengirim tiga kapal perang, yaitu KRI Karel Satsuit Tubun (KST) 356, KRI Usman Harun (USH) 359 dan KRI Jhon Lie 358 untuk melaksanakan intruksi.

Dalam keterangannya, Yudho mengaku akan menggunakan langkah persuasif terlebih dulu untuk mengusir KAI tersebut.

Saat ini, pihaknya juga sudah berkomunikasi dengan dengan kapal coast guard China agar KIA segera keluar dari wilayah Indonesia.

Namun jika upaya persuasif itu kembali tidak dihiraukan, ia menegaskan akan melakukan penegakan hukum sesuai ketentuan yang berlaku.





Halaman
12
BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved