Dipenjara Seumur Hidup di China, Aktivis Etnis Uighur Ilham Tohti Terima Penghargaan dari Uni Eropa

Aktivis HAM masyarakat Uighur yang dipenjara seumur hidup di China, Ilham Tohti, mendapat penghargaan 'Sakharov Prize' yang diserahkan ke anaknya


zoom-inlihat foto
ilham-tohti-234.jpg
Kolase foto (Wikimedia dan www.europarl.europa.eu)
Ilham Tohti (kiri) resmi menerima penghargaan Sakharov Prize for Freedom of Thought dari Uni Eropa yang diserahkan kepada anak perempuannya, Jewher Ilham


Pembuatan kamp-kamp yang disebut “re-edukasi” ini menurut Schroter telah menjadi satu kebiasaan dalam sejarah CIna dan Partai Komunis pada abad ke-20.

Cara yang dilakukan pemerintah China ini ditempuh untuk melakukan “pemaksaan ideologi” Partai Komunis terhadap masyarakat.

Lebih jauh lagi, strategi ini dimungkinkan akan membuat gentar oposisi.

Schroter menambahkan bahwa hal tersebut dapat membawa dampak bagi semua kelompok masyarakat yang dituduh melakukan perlawanan terhadap pemimpin politik China.

Di lain hal, bangsa Uighur dinilai aktif melakukan gerakan kemerdekaan.

Menyinggung landasan kebijakan Pemerintahan China, Schroter menerangkan bahwa “gerakan kemerdekaan” inilah yang menjadi alasan penindakan yang dilakukan pemerintah China dengan keras.

Di mata para pemimpin China, gerakan kemerdekaan tersebut dianggap sebagai bagian dari separatisme.

Tak hanya itu saja, Schroter menambahkan bahwa gerakan yang dianggap ‘separatisme’ ini kerap kali dibungkus dalam bingkai ‘Muslim’.

Schroter mengamati Gerakan Islamis Turkistan Timur yang masih diakui oleh Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai gerakan teror.

Seperti contoh, gerakan ini pernah melancarkan beberapa aksi teror dalam beberapa tahun.

Satu di antaranya adalah ledakan bom di Stasiun Kereta Kunning tahun 2014.

Ledakan besar ini tercatat telah menewaskan 30 warga sipil.

Inilah yang kemudian menjadi alasan bagi Pemerintah China untuk membenarkan kebijakan ‘keras’ terhadap Bangsa Uighur.

Pemerintah China melakukan cara dengan melakukan tindakan-tindakan seperti: persekusi, intimidasi dan kerja paksa di kamp-kamp konsentrasi yang disebut ‘kamp re-edukasi’ tersebut.

Cara ini dilakukan Pemerintah China terhadap berbagai macam kelompok oposisi yang dianggap akan mengganggu kekuasaan.

Tak Punya Ruang Gerak

Schroter menilai bahwa Pemerintah China berhasil melakukan ini lantaran banyak warga Uighur yang tidak memiliki ruang gerak.

Hal ini terjadi lantaran adanya pengawasan seksama yang dilakukan oleh Pemerintah China.

Melanggar Hak Asasi Manusia (HAM)?

Tindakan keras yang dilakukan oleh Pemerintah China disebut Schroter melanggar hak asasi manusia.





Halaman
1234
Editor: haerahr
BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved