Menurut Amnesty International, Tohti sebelumnya pernah ditahan pada tahun 2009 -di tengah peristiwa kekerasan etnis di Xinjiang- setelah menulis mengenai penahanan dan pembunuhan terhadap masyarakat Uighur selama kerusuhan.
Tohti yang bertambah umur pada Oktober tahun ini, juga memenangkan penghargaan lainnya di Eropa, Vaclav Havel Prize atas usahanya, 'menyuarakan masyarakat Uighur'.
Tohti menurut Dewan Uni Eropa - usai membacakan nominasi Tohti sebagai penerima penghargaan-, telah bekerja lebih dari 20 tahun dalam lingkungan minoritas dan membina sejumlah dialog dan pemahaman antar-etnis di China.
China sebelumnya mengecam Dewan Uni Eropa usai memberi Tohti nominasi untuk penghargaan Vaclav Havel Prize pada September 2019.
Menteri Luar Negeri China menyebut Tohti sebagai "separatis yang mendukung terorisme".
Pendapat Akademisi Jerman
Sampai saat ini, diperkirakan satu juga warga etnis Uighur mendekam di kamp-kamp konsentrasi penampungan.
Kamp-kamp yang disebut sebagai kamp ‘re-edukasi’ ini diadakan untuk para warga etnis Uighur yang mayoritas Muslim.
Kamp yang disebut menjadi kamp konsentrasi pada abad modern ini memiliki ukuran yang kecil dan tidak layak.
Para tahanan ini dengan terpaksa tinggal di ruangan yang sempit yang berjejalan dengan tahanan lainnya.
Tak hanya itu saja, mereka juga sering mendapatkan siksaan secara rutin.
Sedangkan bagi warga etnis Uighur yang bebas dilaporkan menjalani hidup dengan kontrol dan pengawasan ketat.
Pengawasan dilakukan terhadap seluruh anggota keluarga mereka.
Direktur Institut Islam Global di Universitas Frankfurt, Jerman, Prof. Dr. Susanne Schroter menyebut bahwa cara-cara yang dilakukan Pemerintah Cina merupakan aksi barbarian.
Menurutnya, hal tersebut secara lazim dilakukan oleh Partai Komunis Cina untuk memaksa minoritas tunduk terhadap ideologi negara, seperti dilaporkan Deutsche Welle, (4/12/2019).
Tribunnewswiki.com melansir hasil wawancara portal berita Deutsche Welle dengan Prof. Dr. Susanne Schroter perihal kondisi yang terjadi.
Kamp “Re-Edukasi”: Pemaksaan Ideologi?
Schroter menyebut bahwa Pemerintah China merupakan pemerintahan otoriter yang berupaya menundukkan oposisi - kaum minor - dengan menggunakan berbagai cara.
Cara-cara yang dilakukan ini tak hanya dilakukan terhadap etnis Uighur, melainkan terhadap semua kalangan yang menuntut liberalisasi ataupun demokratisasi.
“Dulu terdapat gerakan Falun-Gong yang ditumpas dengan cara-cara ekstrim, contoh lain adalah pendukung Dalai Lama di TIbet. Jadi tidak mengejutkan jika kita melihat bagaimana pemerintah China memperlakukan oposisi Uighur”, ungkap Schroter.