TRIBUNNEWSWIKI.COM - Belakangan, Ariel Tatum buka-bukaan mengenai kondisi mental yang dideritanya.
Selebriti yang dikenal karena kecantikan dan keseksian tersebut tak ragu untuk mengungkap penyakit yang sudah dideritanya sejak berusia 13 tahun.
Perempuan berusia 23 tahun tersebut didiagnosa mengidap Borderline Personality Disorder.
Penyakit mental tersebut biasa dikenal dengan nama kepribadian ambang.
Baca: Ariel Tatum
Baca: Idap Penyakit Mental, Ariel Tatum Ceritakan Kisah Pilu Ingin Sewa Pembunuh Bayaran
Ariel menyampaikan hal tersebut dalam tayangan BARENG BOY dari kanal YouTube Trans7 Official yang dipandu oleh Boy William.
Ariel yang mulai menyadari ada yang salah dengan dirinya, kemudian memberanikan diri melakukan konsultasi dengan psikolog.
Pada saat itu Ariel masih berusia 13 tahun.
Konsultasi pertama dilakukan tanpa sepengetahuan orangtua Ariel.
Oleh karena itu Ariel mengaku dirinya mengumpulkan uang saku untuk bisa melakukan pengecekan dan pengobatan kondisi mentalnya.
"Gue sadar ada yang gak bener di diri gue itu waktu umur 13 tahun," ucap Ariel seperti dikutip Tribunnewswiki dari tayangan BARENG BOY.
"Dari umur 13 tahun itu gue nabung uang jajan sendiri buat cari psikolog. Beberapa psikolog lah ya," jelas Ariel.
Diakui oleh Ariel, selama hampir tiga tahun dirinya menjalani pengobatan dengan psikolog.
Baru ketika di usia 16 tahun, Ariel memberanikan diri untuk mengungkap penyakit mental yang diderita pada keluarga.
Alasan tak beritahu keluarga soal kesehatabn mental
Dalam perbincangannya dengan Boy William, Ariel mengungkap alasan mengapa dirinya sempat menyembunyikan penyakit mental yang diderita kepada keluarga.
Rupanya Ariel takut dengan kemungkinan stigma tentang kesehatan mental yang ada pada keluarganya sama dengan orang lain kebanyakan.
Stigma tersebut diantaranya ada rasa malu ketika satu dari anggota keluarga ada yang mengidap penyakit mental.
Meskipun demikian, Ariel tidak pernah menutup-nutupi kenyataan bahwa pada saat itu dirinya rutin mengunjungi psikolog.
"Kalau gue gak malu. Karena gue gak pernah nutup-nutupin kalau gue dateng ke klinik atau rumah sakit tersebut untuk ketemu sama psikolog," tegas Ariel.
"Cuma, gue lebih mikir karena keluarga gue masih ada di stigma kebanyakan orang Indonesia, di mana kalau pergi ke psikolog itu bikin malu keluarga,"lanjutnya.