"Ya Allah arek-arek itu. Kurang ajar, enggak jelas arek-arek itu," ujarnya sembari tertawa.
Kemudian, wajah Risma sempat berkaca-kaca dan kemudian meniup lilin kue ulang tahun yang diberikan para wartawan.
Saat ditanya wartawan tentang kejutan yang diberikan, Risma mengakui, bahwa dirinya sejatinya takut.
Ia sempat membaca Surat Al Fatihah ketika melihat salah seorang kesurupan.
Ia benar-benar heran dengan akting yang dipertontonkan para jurnalis.
Kejutan yang ditunjukkkan dinilai begitu natural dan meyakinkan.
"Tak pikir gendeng, gak dibacakan doa (pelaku kesurupan) malah ditanya, kamu siapa?" kata Risma terkekeh.
Semula, Risma menduga, kesurupan yang terjadi dampak dari pertanyaan wartawan berbau mistis seputar makam Syech Yusuf.
Tetapi, beberapa menit kemudian dalam hati, Risma mengaku heran dengan aksi kesurupan tersebut, karena pelaku mengeluarkan kalimat honocoroko (ejaan Bahasa Jawa).
"Lha iyo (kesurupan) kok bisa nyebut honocoroko," katanya disambut tawa para wartawan.
Kejutan yang diberikan wartawan itu mengingatkan Risma pada momen beberapa tahun lalu.
Kala itu, di hari ultahnya, para wartawan juga memberikan kejutan dengan membuat aksi maling tertangkap polisi di kantor Pemkot Surabaya.
"Dulu aksi maling, sekarang kesurupan," kata Risma.
Harapan Risma di usia ke-58
Setelah bercengkerama dengan para wartawan, saat ditanya harapannya di usia ke-58 tahun, Risma menyampaikan mohon didoakan supaya sehat dan bisa bekerja seperti tahun-tahun sebelumnya yang kerap blusukan ke mana-mana.
Namun, semenjak kedua kakinya menderita sakit, akhirnya ada keterbatasan baginya dalam melakukan aktivitas.
"Inginnya aku kan lihat sendiri. Dulu kan aku tiba-tiba nyelonong ke mana-mana. Sekarang tak berani, karena kalau naik harus dibantu, ke tempat-tempat yang sempit masih belum berani," ujar Risma.
Berharap wartawan lebih sejahtera
Kemudian harapan Risma yang kedua, dengan mata berkaca-kaca dan nada suara yang terbata-bata bercampur rasa haru, ia menyebut, keinginannya agar para wartawan hidupnya lebih sejahtera.
Ia menyampaikan, sudah lama memikirkan nasib para jurnalis.
"Gimana caranya ya, supaya teman-teman (wartawan) sejahtera. Serius aku ini, kalian pasti berpikir aku bohong kan," katanya.