Sebenarnya, tak semua wartawan yang berada di ruang kerja Risma menyadari bahwa aksi kesurupan tersebut sudah diskenariokan sebagai kejutan kepada Risma yang merayakan ulang tahunnya.
Pasalnya, beberapa wartawan memang benar-benar terlihat panik.
Meski, sebagian lain justru berkomentar dengan nada guyon.
Kemudian, salah satu wartawan meminta untuk menelepon layanan kedaruratan.
"Telpon 112 (nomor layanan kedaruratan Pemkot Surabaya), cepat telepon," ujar salah seorang jurnalis.
Pelaku kesurupan itu tak berhenti mengerang.
Namun, tiba-tiba ia menyebut akan mengikuti perempuan yang dinilai orang baik.
Orang yang disebut salah seorang wartawan yang seolah kesurupan itu sejatinya Risma.
"Aku mau ikut perempuan itu, orang itu baik, aku ikut," kata dia, diucapkan berkali-kali dengan logat Jawa yang kental.
Risma terlihat semakin panik dan takut. Ia berkali-kali beranjak dari kursinya.
Melihat wartawan yang kesurupan dari jarak jauh.
Kemudian, sesekali dia kembali duduk di kursinya.
Mulut Risma komat-kamit seperti sedang membaca mantra dan doa.
Wartawan lain yang sedang berusaha menyadarkan jurnalis yang kesurupan meminta air.
"Mana air, tolong bawakan air," kata para wartawan.
Risma pun mengambilkan air dari mejanya sambil membacakan ayat Al Quran di gelas yang dia pegang dan memberikannya kepada wartawan.
Risma juga menyuruh para wartawan untuk membacakan surat Al Fatihah.
"Bacakan Al Fatihah. Bacakan Al Fatihah, jangan ditanyakan siapa namanya. Ayo dibisiki, rek," kata Risma.
Tak berselang lama, suasana yang sebelumnya tegang menjadi kegembiraan, manakala para wartawan kompak menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun saat salah satu wartawan perempuan membawakan kue ulang tahun.
Mendengar itu, raut wajah Risma yang tadinya tegang berubah semringah.