Pendiri WhatsApp Ajak Para Pengguna untuk Hapus dan Tinggalkan Facebook

Pendiri WhatsApp, Brian Acton mengajak para pengguna untuk menghapus Facebook.


zoom-inlihat foto
pendiri-whatsapp-ajak-para-pengguna-untuk-hapus-dan-tinggalkan-facebook.jpg
internationalfinance.com
Pendiri WhatsApp Ajak Para Pengguna untuk Hapus dan Tinggalkan Facebook


Kabar bohong alias hoaks sangat mudah beredar di internet melalui beragam kanal, seperti melalui jejaring sosial.

Dalam rangka memerangi peredaran hoaks, Facebook dan Instagram belakangan mengumumkan rencana menambah fitur baru untuk menandai posting yang kebenarannya diragukan.

Menurut penjelasan di Facebook Newsroom, nantinya unggahan Instagram atau Facebook -termasuk foto dan video- yang terindikasi merupakan hoaks bakal diburamkam supaya tidak bisa dilihat.

Sebuah label turut disematkan untuk memberitahukan pengguna bahwa posting terkait memuat informasi ngawur.

Sebuah tombol "See why" dapat di-klik untuk melihat alasan mengapa posting tersebut ditandai sebagai hoaks.

Ilustrasi pemblokiran konten hoaks di Facebook (kiri) dan Instagram (kanan).

lustrasi pemblokiran konten hoaks di Facebook (kiri) dan Instagram (kanan).
lustrasi pemblokiran konten hoaks di Facebook (kiri) dan Instagram (kanan). (Facebook)

Selain menandai sejumlah konten yang sudah diunggah, pihak Facebook juga bakal turut mencegah pengguna yang ingin menyebarkan (share) konten yang terindikasi hoaks tadi ke platform lain.

Sebelum mereka membagi konten tersebut, Facebook bakal mencegat pengguna dengan jendela pop-up yang mengingatkan bahwa unggahan itu memang sudah dianggap hoaks oleh para fact checkers.

Meski demikian, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Facebook Newsroom, Jumat (25/10/2019), pengguna masih bisa membagikan unggahan tersebut dengan meng-klik tombol "Share anyway".

Belum diketahui kapan fitur penangkal hoaks ini bakal digulirkan secara meluas bagi pengguna Facebook dan Instagram. 

Hukuman dari Facebook

Sejak beberapa bulan lalu, Facebook terus melakukan upaya untuk membenahi reputasinya sebagai platform sarang hoaks.

Upaya kain yakni menyasar laman grup-grup Facebook yang kerap membagikan hoaks dan informasi keliru, terlebih menjelang musim pemilu di berbagai negara.

Laman grup yang ketahuan rajin menyebar hoaks akan "dihukum", dengan membatasi sebaran informasinya di lini masa Facebook.

Perubahan itu cukup penting, untuk mencegah hoaks yang tersebar lebih luas, setidaknya di platform Facebook.

Jejaring sosial raksasa tersebut juga akan menyortir urutan berita, mulai dari yang sangat penting secara umum hingga berita populer.

Cara ini kurang lebih sama dengan yang dilakukan Google dalam memberikan hasil pencarian.

Apabila situs sering ditautkan ke situs lain, sistem akan menganggap sumber tersebut terpercaya.

Cara ini disebut akan memudahkan Facebook untuk memberitahu penggunanya apakah penerbit yang merilis berita adalah sumber terpercaya atau tidak.

Facebook juga melakukan beberapa perubahan untuk cek fakta berita dengan menyertakan "Trust Indicators" dari The Trust Project, sebuah konsorsium dari penerbit berita yang mengawal faktualitas berita online.





Halaman
123
BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved