TRIBUNNEWSWIKI.COM - Aksi demo di Jakarta, Badan Intelijen Negara (BIN) menyebut ada penumpang gelap yang memiliki keterkaitan satu sama lain dengan dalang kerusuhan Wamena.
Badan Intelijen Negara (BIN) mencium adanya penumpang gelap di balik rusuhnya demonstrasi di DPR RI dalam beberapa hari lalu dan dalang kerusuhan di Wamena.
Mereka disebut memiliki keterkaitan satu sama lain.
Juru bicara BIN, Wawan Hari Purwanto mengatakan pihaknya mengindikasikan hal itu berdasarkan keterangan orang-orang yang ditangkap dalam aksi demo di Jakarta dan kerusuhan Wamena.
“Mohon maaf kalau boleh saya bilang afiliasinya tidak jauh-jauh.
kami akan terus investigasi dari orang-orang yang ditangkap
Yang ditangkap ini kan biasanya hanya pelaksana di lapangan,” ungkap Wawan ketika berkunjung ke kantor redaksi Tribunnews.com di Palmerah, Jakarta Pusat, Kamis (3/10/2019).
Baca: Pelajar dan Preman Berseragam SMA Ditangkap Polisi, Ikut Demo DPR dengan Iming-iming Uang Rp 20 Ribu
Baca: FOTO Viral Pemuda Dikepung Kabut Gas Air Mata, Polisi Tangkap Pemuda dalam Foto: Ini Alasan Polisi
Wawan meyakini bahwa gerakan penyampaian aspirasi oleh mahasiswa adalah murni untuk memprotes sejumlah revisi undang-undang yang dinilai kontroversial.
“Kalau mahasiswa memang murni, mereka sudah tegaskan kalau ada yang langgar waktu ketentuan itu bukan mereka
dan kalau ada aspirasi turunkan Presiden Joko Widodo itu juga bukan mereka."
"Hal yang sama juga terjadi pada demo buruh yang terbukti tak berakhir dengan kerusuhan dan berakhir tertib,” lanjutnya.
Baca: Rusuh Wamena: Kisah Pembuat Bata, Lihat Mayat Bergelimpangan, Minta Diantar Polisi demi Ambil Baju
Pria asal Kudus, Jawa Tengah, itu tak menampik potensi gerakan-gerakan penyampaian aspirasi jelang tanggal 20 Oktober 2019 masih akan terjadi seperti aksi unjuk rasa oleh mahasiswa dan pelajar dalam beberapa waktu terakhir.
Namun Wawan menegaskan dinamika yang sudah terjadi dan akan terjadi masih terkontrol.
“Kalau melihat di media sosial masih terus ada ajakan, ada potensi karena mereka terus melontarkan isu-isu."
"Termasuk ada tuntutan presiden untuk mundur
cuma isunya saat ini mengecil dan diusahakan tak membesar
semua dinamika ini memang masih terkontrol dan tidak membahayakan situasi,” katanya.
Wawan mengakui BIN sudah mengetahui siapa saja yang berpotensi sebagai penggerak dinamika jelang pelantikan presiden mendatang.
Akan tetapi ia menolak untuk menyebutkannya agar tidak memperkeruh situasi.
“Upaya pencegahannya adalah dengan dekati simpul-simpulnya.
Ya sebenarnya kita kenal mereka, karena tak ada lawan atau kawan abadi, yang ada adalah kepentingan.”
“Istilahnya setelah bertinju kita berangkulan lagi, dan bisa bekerja sama dalam kepentingan yang lain,” pungkasnya.
Baca: BREAKING NEWS - Bambang Soesatyo Terpilih Jadi Ketua MPR RI 2019-2024, Inilah Profilnya
Polisi Tangkap 1.489 Orang Terkait Rusuh Aksi Demo di Jakarta, 380 Jadi Tersangka
Kepolisian menangkap 1.489 orang terkait aksi unjuk rasa yang berujung rusuh di Jakarta pada 24-30 September 2019.
Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Pol Asep Adi Saputra mengatakan dari jumlah tersebut, 380 diantaranya telah ditetapkan sebagai tersangka.
"Kemudian dari hasil pemeriksaan secara keseluruhan, yang memenuhi unsur sebagai tersangka sebanyak 380 orang," ujar Asep, di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (3/10/2019).
Adapun penetapan tersangka kepada ratusan orang tersebut didasari berbagai alasan.
Antara lain terlibat dalam kerusuhan, melempari aparat, dan menyebarkan berita bohong atau hoaks dari video yang diambil di lapangan.
Selain itu, ada pula yang kedapatan membawa bom molotov, senjata tajam, serta merusak pos polisi.
Mantan Kapolres Bekasi Kota tersebut menuturkan dari 380 orang yang ditetapkan sebagai tersangka, 179 orang dilakukan penahanan.
Sementara 1.310 orang dipulangkan lantaran tidak terbukti bersalah, ditangguhkan penahanannya atau masih berusia di bawah umur.
"179 orang ini ada 2 oknum mahasiswa, ada 2 oknum pelajar, dan yang preman, atau yang tidak bekerja ini ada 175 orang," katanya.
41 polisi terluka
209 orang terduga perusuh dan 41 anggota polisi terluka akibat unjuk rasa anarkis yang terjadi, Senin (30/9/2019).
"Anggota Polri yang mengalami luka ada 41 orang, kemudian untuk perusuh 209 orang," ujar Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo, di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (1/10/2019).
Ia mengatakan sebagian besar perusuh dan polisi menderita luka ringan.
Namun demikian, ia tak merinci apa penyebab luka yang dialami perusuh dan polisi.
Mantan Wakapolda Kalimantan Tengah tersebut menuturkan orang-orang yang mengalami luka akibat peristiwa kericuhan tersebut kini menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit di Jakarta.
Di antaranya RS Polri, RS AL Mintohardjo, RS Pelni, RSPP, RS Bakti Mulya, dan Bidokes.
"Semua masih dalam luka-luka ringan, masih dalam proses penanganan medis oleh beberapa rumah sakit. Ada RS Polri, RS AL, Pelni, RSPP, Bidokes, kemudian RS Bakti Mulya, juga klinik DPR MPR," katanya.
(Tribunnewswiki.com/Putradi Pamungkas, Tribunnews.com/Rizal Bomantama/Vincentius Jyestha Candraditya)