Mustafa menyebut Pemerintah Australia termasuk satu negara yang tidak menunjukkan ketertarikan untuk memulangkan warganya.
"Kami tahu orang-orang dari Australia ini datang ke Suriah untuk membunuh kami, membakar desa dan menghancurkan kota-kota kami," kata Mustafa.
"Pemerintah Australia harus melaksanakan tanggung jawab moralnya. Tapi sayangnya mereka tidak berbuat apa-apa," tambah Mustafa.
Seorang Warga di Australia Merasa Tertipu
Tahanan perempuan asal Australia di al-Hawl mengaku telah ditipu untuk datang ke Suriah.
Ia mengatakan bahwa banyak warga lainnya yang tak terlibat dengan ISIS.
Beberapa warga Australia yang memiliki keluarga yang juga ditahan di Suriah meminta pemerintah Austrlia untuk turun tangan.
Satu di antaranya adalah John Crockeet, seorang veteran Perang Korea, yang saat ini menjadi relawan RSL yang merawat bekas tentara.
Crockett telah memiliki seorang cucu yang ditahan di kamp al-Hawl, Suriah.
"Jika mereka harus masuk penjara ketika pulang ke Australia, maka lebih baik mereka dipenjara di sini saja," kata Crockett.
Selain Crockett, seorang warga lain bernama Kamalle Dabboussy mengakui memiliki satu anak di kamp tersebut.
Anaknya bernama Mariam Dabboussy.
"Ada wanita dan anak-anak khususnya yang berada dalam situasi hidup dan mati di kamp ini," kata Kamalle.
Tanggapan Pemerintah Australia
Juru Bicara Departemen Luar Negeri Australia menjelaskan bahwa pemerintah Australia berkomitmen akan membantu urusan tersebut.
Pihak Australia mengklaim telah memberikan bantuan kemanusiaan senilai 433 juta dollar di Suriah sejak tahun 2011.
Tak hanya itu, Australia juga sudah menyiapkan dana sekitar 220 juta dollar yang dialokasikan pada tahun 2017 dan 2020.
Dana tersebut diperuntukkan bagi kebutuhan mendesak perihal urusan kemanusiaan di Suriah, Lebanon, dan Yordania.
Satu yang terpenting adalah di kamp-kamp pengungsi.
Menteri Luar Negeri Australia, Marise Payne menyatakan pemerintah akan melakukan penilaian kasus perkasus.