Sebelum meninggalkan rumah, Aidit mencium kening istrinya.
Dia juga mengangkat tubuh Ilham dan mengusap rambutnya.
Kepada Murad, sang adik, Aidit berpesan agar mengunci pagar.
“Matikan lampu depan,” perintah Aidit kepada Murad.
Malam itu adalah malam terakhir Ilham melihat sang ayah.
Setelah malam itu, tak pernah diketahui bagaimana nasib pimpinan PKI itu.
Ke mana sesungguhnya DN Aidit malam itu pergi juga belum ada jawaban yang pasti.
Baca: Beberapa Wilayah Indonesia Ini akan Alami Hari Tanpa Bayangan, Begini Penjelasan BMKG
Ada beberapa versi
Ada beberapa versi yang mengatakan ke mana DN Aidit pergi malam itu.
Mayor Udara Sudjono di Mahkamah Militer Luar Biasa mengatakan dialah yang menjemput DN Aidit di rumahnya, bukan pasukan Cakrabirawa.
Sudjono mengaku membawa DN Aidit ke rumah Sjam Kamaruzaman, Kepala Biro Khusus PKI di Jalan Salemba Tengah, Jakarta Pusat.
Di sana, sudah ada sejumlah anggota Biro Khusus PKI lain yang menunggu.
Sementara menurut Victor Miroslav Fix, penulis buku Kudeta 1 Oktober 1965: Sebuah Studi tentang Konspirasi, di rumah Sjam, Aidit melakukan cek terakhir Gerakan 30 September.
Dia juga bertemu dengan Mayor Jenderal Pranoto Reksosamodro, perwira tinggi yang dekat dengan Presiden Soekarno.
Kepada Pranoto, Aidit menawarkan posisi sebagai Menteri atau Panglima Angkatan Darat menggantikan Jenderal Ahmad Yani.
Selain itu, Aidit menyampaikan konsep Dekrit Dewan Revolusi yang harus diteken malam itu dan disiarkan pagi 1 Oktober 1965.
Setelah itu, rencananya, Aidit bertemu Soekarno di rumah Komodor Susanto di Halim Perdanakusuma.
Skenarionya, Aidit akan memaksa Soekarno melakukan pembersihan Dewan Jenderal, lalu memintanya mengundurkan diri sebagai presiden.
Namun pertemuan dengan Soekarno gagal.
Sebagai gantinya, Aidit mengutus Brigadir Jenderal Soeparjo menemui Soekarno, yang juga berada di Halim, namun di tempat terpisah.
Baca: IDUL ADHA 1962 - Peristiwa Sejarah: Upaya Pembunuhan Presiden Soekarno di Hari Raya Idul Adha