TRIBUNNEWSWIKI.COM - Film sutradara muda Wregas Bhatuneja yang berjudul Tak Ada yang Gila di Kota Ini (No One is Crazy in This Town) ikut berkompetisi di Busan International Film Festival (BIFF).
Film Tak Ada yang Gila di Kota Ini masuk dalam kategori Wide Angle: Asia Short Film Competition.
BIFF akan berlangsung pada 3-12 Oktober 2019 mendatang di Busan, Korea Selatan.
Baca: Wulan Guritno Ungkap Kelanjutan Film Jakarta Vs Everybody Setelah Jefri Nichol Terjerat Narkoba
Baca: 5 Fakta Menarik Gundala, Syuting di 70 Tempat hingga Salah Satu Film yang Wajib Ditonton di TIFF
Dilansir dari Kompas.com, Tak Ada yang Gila di Kota Ini yang dibintangi oleh Oka Antara ini menjadi salah satu dari 300 film asal 70 negara yang terpilih untuk diputar di 30 bioskop di Busan.
Diprediksi sekitar 200 ribu penonton serta 10 ribu stakeholder perfilman dunia akan hadir pada penayangan film ini nanti.
Film pendek yang diadaptasi dari cerita pendek karya penulis kawakan Indonesia Eka Kurniawan yang diterbitkan dalam buku berjudul Cinta Tak Ada Mati (2018).
Tak Ada yang Gila di Kota Ini mengisahkan tentang Marwan (Oka Antara) yang mendapat perintah untuk ‘menyingkirkan’ Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) ke hutan.
Alasannya, kehadiran orang-orang tersebut merusak wajah kota.
Alih-alih membiarkan ODGJ tersebut tewas di hutan, ternyata Marwan memiliki rencana rahasia sendiri.
Dalam keterangan tertulis, Rabu (4/9/2019), Wregas merasa kurasan emosi berkait kekuasan dan penindasan menjadi faktor utama dirinya menggarap cerpen tersebut untuk diangkat ke sebuah film.
“Pertimbangan pertama mengapa memilih cerpen ini adalah emosi. Saat membacanya, saya merasakan emosi kemarahan yang sama terhadap suatu hal, yakni kuasa," ujar Wregas.
Bagi Wregas yang pernah memenangkan Leica Cine Discovery Prize, Best Short Film - 55th Semaine de la Critique, dan Cannes Film Festival 2016 lewat film pendek Prenjak, kekuasaan cenderung digunakan untuk menindas dan mewujudkan ambisi tanpa memikirkan mereka yang tertindas dari ambisi tersebut.
"Di mana orang yang memiliki power yang lebih, akan menindas orang yang lebih lemah untuk memuaskan hasrat (pleasure) pribadinya. Yang di bawahnya, akan menindas yang di bawahnya lagi, dan yang paling tidak berdaya adalah orang yang sama sekali tidak memiliki kuasa, bahkan kuasa akan dirinya,” jelas Wregas.
Sementara menurut Produser dari Rekata Studio Adi Ekatama, memutuskan untuk memfilmkan cerpen Tak Ada yang Gila di Kota Ini agar menambah variasi jenis film Indonesia yang mengadaptasi cerpen maupun novel.
"Selain itu, saya mempunyai harapan bahwa dengan dibuatnya film pendek ini, maka semakin banyak lagi film Indonesia, bahkan film internasional, yang mengadaptasi cerpen atau novel karya penulis Indonesia dari genre yang beragam," kata Adi.
Lain hal lagi, Oka Antara mengaku tertarik untuk bermain karena faktor skenario dan sutradaranya.
“Skenarionya sangat unik dan narang saya temui, terutama dalam film feature. Jadi cerita ini hanya bisa dicapai melalui film pendek. Dan ketika tahu director-nya Wregas, karena saya pernah menonton film Prenjak, jadi saya merasa delivery-nya pasti akan sesuai," kata Oka.
Baca: Nominasi Lengkap E! Peoples Choice Awards 2019, Film-film Marvel Mendominasi
Baca: FILM - Prenjak In The Year of Monkey (2016)
Rekata Studio sendiri merupakan bagian dari ekosistem intellectual property (IP) management platform, yang memiliki peran utama untuk pengembangan audiovisual atau motion picture.
Film pendek Tak Ada yang Gila di Kota Ini yang berdurasi total 20 menit ini dibintangi oleh sejumlah aktor-aktris ternama di Indonesia.
Beberapa misalnya, Oka Antara (Sang Penari, Killers, Aruna dan Lidahnya), Sekar Sari (Siti), Pritt Timothy (Sang Kiai, Gundala), Jamaluddin Latif (Mencari Hilal, Nyai), dan Kedung Darma Romansha (Nyai, Perburuan).
Lokasi syuting Tak Ada yang Gila di Kota Ini dilakukan di sejumlah lokasi mulai hutan, pantai, dan gunung di daerah Gunungkidul, Yogyakarta pada Agustus 2018.