Wikana bercerita bahwa Soekarno mengatakan, "Inilah leherku. Saudara boleh membunuh saya sekarang juga. Saya tidak bisa melepaskan tanggung jawab saya sebagai Ketua PPKI. Karena itu saya akan tanyakan kepada wakil-wakil PPKI besok."
Tidak menemui cara untuk mendesak Soekarno melalui ancaman, rapat para pemuda dan mahasiswa memutuskan untuk mengambil Soekarno dan Hatta dari rumahnya masing-masing.
Seperti diusulkan oleh Djohar Nur, "Segera bertindak, Bung Hatta dan Bungan Karno harus kita angkat dari rumah masing-masing"
Chaerul Saleh juga menegaskan bahwa pengambilan Bung Karno dan Bung Hatta agar dapat terwujudnya proklamasi tanggal 16 Agustus 1945.
Chaerul Saleh menegaskan, "Bung Karno dan Bunga Hatta kita angkat saja. Malam ini juga selamatkan mereka dari tangan Jepang dan laksanakan Proklamasi tanggal 16 Agustus 1945."
--
Keputusan bulat telah diambil, para pemuda dan mahasiswa ini kemudian merumuskan teknis pelaksanaan untuk mengambil Soekarno dan Hatta dari rumahnya.
Pelaksanaan tugas diserahkan kepada dr. Soetjipto dari organisasi "Peta Jaga Monyet" dan Sukarni.
Kemudian, dipilihlah daerah Rengasdengklok sebagai tempat tujuan karena di sana terdapat Surjoputro, yaitu seorang Daidanco yang menurut mereka dapat membantu perjuangan kemerdekaan.
Selain itu, juga terdapat Soebono, Soejono Hadipranoto, dan Umar Bachsan, para pimpinan daerah dan asisten wedana di Rengasdengklok.
Rapat selesai, dini hari pada tanggal 16 Agustus 1945, dengan di bawah pengawalan dari Sodanco, bernama Singgih, para pemuda menjemput Soekarno dan Hatta di rumahnya masing-masing dan dibawa ke Rengasdengklok.
--
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Dinar Fitra Maghiszha)
JANGAN LUPA SUBSCRIBE CHANNEL YOUTUBE TRIBUNNEWSWIKI.COM