17 AGUSTUS - Seri Sejarah Nasional: Perang Aceh (1873-1904)

Perang Aceh adalah perang Kesultanan Aceh melawan Belanda yang berlangsung selama 31 tahun dari 1873 hingga 1904.


zoom-inlihat foto
perang-aceh.jpg
tengkuputeh.com
Seluruh penghuni benteng Koeta Reh dibantai oleh pasukan Belanda pimpinan Van Daalen (Perang Aceh 1873-1904)

Perang Aceh adalah perang Kesultanan Aceh melawan Belanda yang berlangsung selama 31 tahun dari 1873 hingga 1904.




  • Latar Belakang


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Perang Aceh adalah perang Kesultanan Aceh melawan Belanda yang berlangsung selama 31 tahun dari 1873 hingga 1904.

Beberapa alasan yang menjadi latar belakang Perang Aceh meliputi beberapa hal, yaitu:

  1. Belanda menduduki Siak berdasarkan pada perjanjian Siak 1858 dimana Belanda berhak menduduki area Deli, Langkat, Asahan, dan Serdang.
  2. Perjanjian London, dimana Belanda dan Inggris membuat ketentuan mengenai batas-batas kekuasaan kedua daerah di Asia Tenggara.
  3. Aceh menuduh Belanda tidak menepati janjinya, kemudian kapal-kapal Belanda dihanyutkan saat melewati perairan Aceh.
  4. Terusan Suez oleh Ferdinand de Lessep dibuka menjadikan Aceh menjadi pusat lalu lintas perdagangan.
  5. Perjanjian Sumatera 1871 dibuat antara Inggris dan Belanda, dimana terjadi perpindahan kekuasaan dari Inggris ke Belanda.
  6. Belanda mengizinkan Inggris untuk berdagang secara bebas di Siak, dan menyerahkan daerahnya di Guinea Barat pada Inggris. (1)
Pasukan Marmose, Tentara Belanda selama Perang Aceh
Pasukan Marsose, Tentara Belanda selama Perang Aceh (pinimg.com)

  • Kronologi


Belanda yang ingin menguasai Aceh mengeluarkan ultimatum agar Aceh tunduk terhadap Belanda.

Sultan Mahmud Syah menolak mentah-mentang.

Karena penolakan itu, Belanda mendeklarasikan perang pada 26 Maret 1873.

Kurang lebih 3000 serdadu Belanda datang ke Aceh beserta kapal-kapal perang Belanda dengan menargetkan Masjid Raya Baiturrahman Aceh.

Aceh memberikan perlawanan sengit, membuat Kohler tertembak pada 14 April 1873.

Kemudian, dipimpin oleh Mayor Jenderal Van Swiyten, Belanda menyerbu dan berhasil menduduki istana.

Keluarga dan kerabat kerajaan kemudian melarikan diri ke daerah Lheungbata.

Pasukan ulama dan bangsawan Aceh menghimpun kekuatan untuk bertempur melawan Belanda dipimpin oleh Teungku Cik Di Tiro dinamakan Pasukan Jihad.

Baca: 17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: Teungku Cik Di Tiro

Baca: 17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: Teuku Umar

Selain itu Teuku Umar dan istrinya Cut Nyak Dien juga mengumpulkan pasukan besar.

Serangan pada 1882 ke pos-pos Belanda berhasil merebut kekuasaan Belanda, dipimpin oleh Teuku Umar.

Bahkan pasukan Aceh berhasil menyerang kapal Hock Canton pada 14 Juni 1886.

Kemudian, Belanda mengirim sosok penting dalam perang Aceh, seorang sosiolog bernama Dr Snouck Hurgronje untuk untuk memata-matai & menyelidiki kehidupan serta struktur masyarakat Aceh dengan menggunakan nama Abdul Ghofar.

Berkat Snouck Hurgronje, siasat devide at impera Belanda berhasil mengelabui Teuku Umar.

Teuku Umar menyerahkan diri kepada Belanda.

Perang Aceh, perang terpanjang di Indonesia
Perang Aceh, perang terpanjang di Indonesia (an-najah.net)

Namun rupanya itu hanya taktik belaka.

Setelah diberi kekuasaan & pasukan bersenjata lengkap, Teuku Umar berbalik menyerang Belanda.

Jenderal Deyckerhoff dipecat & pada tahun 1899 diganti oleh Van Heutz.

Pada Februari 1899, Belanda menyerang dengan membabi buta membuat pasukan Aceh terdesak sampai daerah Meulaboh.

Dalam peperangan itu Teuku Umar gugur tertembak.

Perjuangan rakyat Aceh diteruskan oleh Cut Nyak Dien dan Cut Meutia.

Baca: 17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: Cut Nyak Meutia

Baca: 17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: Cut Nyak Dien

Perang berlanjut dengan tertangkapnya Cut Nyak Dien, yang kemudian diasingkan ke Sumedang hingga meninggal di sana.

Sementara itu Cut Meutia gugur dalam pertempuran pada 24 Oktober 1913.

Perang berakhir setelah Sultan Muhammad Daud Syah menandatangani Surat Perjanjian Plakat Peudele (Koret Valklaring).

Kesultanan Aceh resmi tunduk pada kekuasaan Belanda. (2)

Kekejaman Belanda di Kampong Likat Tanah Gayo, anak-anak dan perempuan juga di bantai oleh tentara Belanda pimpinan Van Daalen. Perang Aceh (1873-1904)
Kekejaman Belanda di Kampong Likat Tanah Gayo, anak-anak dan perempuan juga di bantai oleh tentara Belanda pimpinan Van Daalen. Perang Aceh (1873-1904) (https://tengkuputeh.com)

  • Dampak


Akibat peperangan melawan rakyat Aceh, Jendral Kohler tewas dalam pertempuran di Masjid Raya Baiturrahman Aceh.

Pada tahun 1904, Kesultanan Aceh menyerah secara de facto, mengakibatkan Belanda akhirnya berhasil menguasai Aceh.

Nama Van Heutsz makin menanjak setelah memenangkan perang Aceh, dan diangkat menjadi Gubernur Hindia Belanda.

Selain itu, Van Daalen diangkat sebagai gubernur Aceh.

Meskipun perlawanan rakyat Aceh masih ada sampai penjajahan Jepang, namun perlawanan ini bersifat kelompok atau bahkan individual. (3)

(TribunnewsWiki/Indah)

Jangan lupa subscribe channel YoutubeTribunnewsWiki



Nama Perang Aceh
Kategori Sejarah Nusantara
Waktu 1873-1904
Lokasi Kesultanan Aceh
Tokoh Sultan Mahmud Syah, Sultan Mahmud Syah, Tuanku Hasyim Banta Muda, Teuku Imeum Lueng Bata, Habib Abdurrahman Az-Zahir, Panglima Polem, Teungku Chik di Tiro, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutia, Teungku Fakinah


Sumber :


1. sejarahlengkap.com
2. negarabersejarah.wordpress.com
3. ensikilopidia.blogspot.com


Penulis: Indah Puspitawati
Editor: Melia Istighfaroh






KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2021 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved