17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: Teungku Cik Di Tiro

Bagi Teungku Cik Di Tiro, berdamai dengan penjajah sama saja menerima kekalahan dalam perang.


zoom-inlihat foto
cik-di-tir.jpg
pahlawanindonesia.com
Teungku Cik Di Tiro

Bagi Teungku Cik Di Tiro, berdamai dengan penjajah sama saja menerima kekalahan dalam perang.




  • Kehidupan Awal #


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Teungku Cik Di Tiro atau Teungku Thjik Di Tiro, yang bernama asli Muhammad Saman adalah pahlawan nasional yang berasal dari Aceh, Indonesia.

Teungku Cik Di Tiro lahir pada 1836 di Cumbok Lamlo, Tiro, Pidie, Aceh.

Teungku Cik Di Tiro adalah putra dari pasangan Teuku Syekh Abdullah dan Siti Aisyah.

Beliau meninggal di Aneuk Galong, Aceh Besar pada Januari 1891.

Tumbuh di lingkungan dan kalangan Islam membuat masa kecil Teungku Cik Di Tiro dekat dengan kehidupan relijius.

Karena menjadi pemuka agama, maka Muhammad Saman atau Cik Di Tiro memperoleh gelar "Teungku".

  • Masa Awal Teungku Cik Di Tiro #


Teungku Cik Di Tiro tidak mengenyam pendidikan formal, namun belajar agama kepada ulama-ulama terkenal di tempat ia tumbuh yakni Tiro.

Itu sebabnya mengapa Ia dipanggil dengan sebutan Teungku Cik Di Tiro. (1)

Saat ia menunaikan ibadah haji di Mekkah, ia memperdalam lagi ilmu agama Islam.

Selain itu, tidak lupa ia menjumpai pimpinan-pimpinan Islam yang ada di sana, sehingga ia mulai tahu tentang perjuangan para pemimpin tersebut dalam berjuang melawan imperialisme dan kolonialisme.

Sesuai dengan ajaran agama yang diyakininya, beliau yang bernama asli Muhammad mengorbankan apa saja baik harta, benda, kedudukan, maupun nyawanya demi tegaknya agama dan bangsa.  

Sebelum dan sesudah Cik Di Tiro berangkat ke tanah suci Mekkah, daerah Aceh sedang dikuasai oleh Belanda.

Berkali-kali perjuangan pemuka agama atau para pejuang dan rakyat Aceh mampu dipatahkan oleh invasi Belanda.

Bahkan, karena kurangnya solidaritas antara para pejuang membuat di antara mereka justru ada yang memihak kepada Belanda.

Ketika Teungku Cik Di Tiro sedang berada di tanah suci untuk belajar agama sekaligus memahami nilai-nilai perjuangan dalam melawan penindasan, bertubi-tubi surat datang dari Aceh untuk memintanya pulang ke tanah rencong tersebut.

Salah satunya yang mendesak beliau pulang adalah pamannya, Teungku Cik Dayah Cut.

Sepulanya ke kampung halaman, selain menjadi pengajar di pesantren, perhatian Teungku Cik Di Tiro terfokus pada perjuangan rakyat Aceh dalam melawan Belanda.

Lalu, Teungku Cik Di Tiro mengumpulkan dan menemui beberapa tokoh perjuangan yang tersisa demi menyatukan asa dan membangun kembali daya juang khas Aceh dalam menentang penjajahan.

Baca: PAHLAWAN NASIONAL - Pattimura

Salah seorangnya Panglima Polim, satu pejuang yang masih menantikan momentum untuk memukul balik Belanda. Dia pun menyerukan para ulebalang atau pemimpin daerah-daerah di Aceh untuk membantu Teungku Cik Di Tiro.

Kemudian, Teungku Cik Di Tiro dan sekumpulan orang termasuk bantuan dari Tuanku Mahmud dari keluarga Sultan Aceh, membentuk angkatan perang.

Pada saat Aceh berada di momen terpuruk itulah, Teungku Cik Di Tiro muncul untuk memimpin perang Sabil yang bermakna perang melawan kaum kafir (Belanda).

fsfss
Ilustrasi perang Sabil di Aceh.

  • Perang Sabil #


Selain membangun benteng pertahanan di Mereu dan mengumpulkan orang-orang, Teungku Cik Di Tiro pun mengundang Syekh Pante Kulu untuk membantunya. Syekh ini terkenal pandai membacakan syair karangannya sendiri yang berjudul “Hikayat Perang Sabil”.

Isinya, anjuran agar, rakyat berperang melawan kaum kafir. Orang yang tewas dalam perang itu akan diterima Tuhan di surga.

Pengaruh syair itu cukup besar dan mampu menggerakkan semangat rakyat.

Disisi lain, dalam bulan April 1881, di Banda Aceh dilangsungkan serah terima pimpinan penguasa Belanda dari van der Heyden yang terkenal bertangan besi, kepada Pruys van der Hoeven. 

ejabat baru ini ingin menyelesaikan masalah Aceh secara damai. Sultan dibujuk agar mau menjadi raja di bawah perlindungan Belanda.

Rencana itu ditentang oleh golongan militer, sedangkan pemerintah di Jakarta tidak pula bersedia menambah biaya perangnya.

Belanda pun tidak mengetahui sama sekali adanya persiapan-persiapan di sekitar Mereu. Dalam bulan itu pula benteng Belanda di Indrapuri direbut oleh Angkatan Perang Sabil.

Belanda terkejut, sedang anak buah Teungku Cik Di Tiro tambah bersemangat.

Sesudah merebut Indrapuri, Samahani pada 1881, dan berbagai rangkaian serangan lain, sebagian besar wilayah Aceh sudah dibebaskan dari kekuasaan Belanda.

Kekuatan Teungku Cik Di Tiro dan pasukannya kala itu sempat tak dianggap serius oleh Belanda hingga akhirnya Banda Aceh pun sampai diserang oleh pasukan Cik di Tiro.

Meski gagal menguasai Banda Aceh, penetrasi pasukan Cik di Tiro berhasil membuat Belanda mengerahkan kekuatan terbaiknya.

Teungku Cik Di Tiro sempat terkepung di Gle Tarom. Ketika hendak dijebak, beliau dan pasukannya berhasil meloloskan diri ke Krueng Pinang.

Lalu pasukan Belanda menyerang Pulau Breuh, namun mengalami kekalahan.

Seluruh pasukan dan komandannya tewas. Kemudian dikirim bantuan di bawah komando Kapten Segov, tetapi barisan Teungku Cik Di Tiro sudah meninggalkan pulau itu.

Karena kewalahan menjinakkan pasukan Teungku Cik Di Tiro secara pertempuran lapangan, lalu Belanda mengubah siasatnya dengan politik adu domba atau biasa disebut divide et impera.

Teuku Aris diangkat menjadi panglima perang Belanda untuk menghadapi Teungku Tjhik di Tiro, tetapi usaha itu tidak berhasil sama sekali.

Sultan Aceh pun dihasut bahwa Teungku Cik Di Tiro lah yang menguasai rakyatnya. Sultan termakan siasat Belanda dan dalam bulan April 1884 ia mengeluarkan maklumat, bahwa dia masihla raja yang berkuasa di tanah rencong.

Dalam bulan Agustus 1884 Teungku Cik Di Tiro terpaksa membuat pengumuman, bahwa ia tidak bermaksud menduduki singgasana Kesultanan Aceh, tetapi ia berjuang untuk mempertahankan agama Islam dan mengusir ”kafe Ulanda” atau kafir Belanda.

Pesan demikian pun sampai kepada sultan, hingga Sultan Daud Syah yang kala itu berkuasa akhirnya sadar telah diperalat Belanda.

Tahun 1885 ketika Teungku Cik Di Tiro memiliki siasat baru dalam merebut Banda Aceh.

Jalan-jalan ke Banda Aceh ditutup. Rakyat dilarang masuk kota dan dilarang pula memasukkan bahan makanan.

Perlawanan angkat senjata tak bisa mematikan semangat Teungku Cik Di Tiro dan pasukannya.

Pahlawan Aceh ini hanya mau berdamai bilamana semua orang Belanda masuk Islam. (2)

Namun, Belanda sempat berbuat licik dengan mengutus beberapa orangnya pura-pura masuk Islam untuk memata-matai pasukan perang Sabil-nya Teungku Cik Di Tiro.

Teungku Cik Di Tiro marah setelah mengetahui itu dan bersumpah akan membinasakan seluruh orang Belanda disana.

Karena ketakutan dan sembari bertahan di benteng-benteng yang ada di Banda Aceh, Belanda mengirim ternyata sudah mengirim orang bernama Dr. Snouck Hrugronje ke Mekkah untuk menyamar sebagai dokter mata dan tukang potret bernama Abdul Gafur.

Tugasnya mengumpulkan sebanyak-banyaknya informasi tentang orang-orang Aceh di luar negeri dan mencari hubungan dengan sebanyak mungkin pihak Aceh dan pihak kaum jemaah untuk dapat melemahkan semangat perang di Aceh.

Sepulangnya dari Mekah, pada tahun 1885, ia diangkat menjadi Penasehat Pemerintah Hindia Belanda. Ia menguasai pula bahasa Aceh dan mendekati Teungku Cik Di Tiro agar dia bersedia menyerah, namun tak berhasil.

Ajakan damai pun tak mempan, sebab bagi Teungku Cik Di Tiro, berdamai dengan penjajah sama saja menerima kekalahan dalam perang.

Namun, Belanda memiliki taktik licik yakni membujuk sesama orang Aceh untuk membunuh Teungku Cik Di Tiro dan akan dibalas oleh Belanda dengan tahta kuasa  jabatan ulebalang atau pemimpin di sebuah daerah.

Kebetulan kepala Sagi XXII adalah Panglima Polim, yang sudah berusia lanjut.

Anaknya yang ternyata pro dengan Belanda dibujuk akan dijanjikan posisi jabatan ayahnya yakni Kepala Sagi XXII oleh pemerintahan Belanda, asal dia dapat membunuh Teungku Cik Di Tiro.

Lalu, ketika berada di benteng Tui Suilemeng dan pergi ke sebuah masjid, Teungku Cik Di Tiro dijamu oleh Nyak Ubit, seorang perempuan yang sudah diperalat anaknya kepala Sagi XXII.

Baca: PAHLAWAN NASIONAL - Pangeran Diponegoro

Teungku Cik Di Tiro diberi suguhan makanan beracun, kesakitan dan dibawa ke benteng Aneuk Galong untuk diobati.

Namun, nyawa beliau tak tertolong dan meninggal pada bulan Januari 1891 dan jenazahnya dimakamkan di Indrapura, Aceh. (3)

Tak berselang lama, Panglima Polim pun wafat dan rakyat Aceh kehilangan dua tokoh perjuangan mereka.

Kala itu, semangat perlawanan rakyat Aceh sempat padam hingga datanglah Teuku Umar kemudian yang kembali menghidupkan api perlawanan terhadap kolonialisme Belanda.

  • Pahlawan Nasional #


Pada 6 November 1973, untuk menghargai jasa dan dedikasi perjuangan Teungku Cik Di Tiro melawan penjajahan, nama beliau dinobatkan oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai pahlawan nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia no. 087/tk/tahun 1973. (4)

Selain itu, nama besar Teungku Cik Di Tiro juga diabadikan di ruang publik seperti nama resmi jalan di berbagai daerah di Indonesia.



(Tribunnewswiki.com/Haris)



Nama Lengkap Muhammad Saman
Nama Gelar Teungku Cik Di Tiro
Lahir Cumbok Lamlo, Tiro, Pidie, Aceh pada 1836
Wafat Aneuk Galong, Aceh Besar pada Januari 1891
Orang tua Teungku Syekh Abdullah dan Siti Aisyah
Pergerakan Perang Sabil


Sumber :


1. daerah.sindonews.com
2. pahlawancenter.com
3. www.infobiografi.com
4. www.biografipahlawan.com


Penulis: Haris Chaebar
Editor: haerahr
BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved