Informasi Awal #
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Robert Wolter Monginsidi adalah anak muda pemberani yang menerobos tangsi serdadu Belanda di Indonesia.
Aksinya dianggap kriminal dan selanjutnya dijadikan buruan oleh pemerintah Hindia Belanda di Sulawesi.
Robert Wolter Monginsidi dilahirkan di pesisir Desa Malalayang, Manado, Sulawesi Utara pada 14 Februari 1925
Besar di keluarga yang religius, Robert Wolter Monginsidi mempunyai kemampuan bahasa Jepang.
Pada usia 24 tahun Robert Wolter Monginsidi dijatuhi hukuman mati karena aksi-aksinya dianggap sebagai pemberontakan.
Robert Wolter Mongisidi dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia pada 6 November, 1973. [1]
Kehidupan Pribadi #
Robert Wolter Monginsidi mempunyai nama panggilan akrab Bote,
Ia dibesarkan di lingkungan keluarga yang religius.
Anak ke-4 dari 11 bersaudara ini mempunyai ayah bernama Petrus Monginsidi dan ibu Lina Suawa.
Keluarganya selalu menjadikan kitab suci sebagai pegangan hidup.
Kitab suci selalu menjadi pegangan hidup anak ke-4 dari 11 bersaudara pasangan Petrus Monginsidi dan Lina Suawa ini.
Robert Wolter Monginsidi dilahirkan di pesisir Desa Malalayang, Manado, Sulawesi Utara.
Desa kecil Malalayang adalah desa yang diapit oleh lautan dan rimba belantara.
Di desa ini, Robert Wolter Monginsidi ditempa hingga menjadi seorang anak muda pejuang bernyali tinggi dan tak kenal menyerah. [2]
Riwayat Pendidikan & Pekerjaan #
Robert Wolter Monginsidi memulai pendidikannya di sekolah dasar.
Setelah lulus. ia pergi merantau ke Manado dan melanjutkan studi ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Frater Don Bosco di Manado.
MULO adalah sekolah menengah pada masa pemerintahan Hindia Belanda.
Sekolah yang dinaungi Yayasan Katolik Don Bosco itu dinilai cukup bagus.
Setelah lulus dari MULO, Robert Wolter Monginsidi kemudian masuk ke sekolah pertanian dan kebahasaan.
Ia masuk dua sekolah sekaligus, yaitu sekolah pertanian bentukan Jepang dan Sekolah Keguruan Bahasa Jepang, keduanya di Tomohon.
Periode Robert Wolter Monginsidi lulus dari MULO juga bersamaan dengan berakhirnya kekuasaan pemerintahan Hindia Belanda di Indonesia.
Robert Wolter Monginsidi mempunyai kemampuan bahasa Jepang setelah lulus dari sekolah keguruan bahasa Jepang.
Saat itu, umur Robert Wolter Monginsidi adalah 18 tahun.
Dari sini, kemampuan yang dimiliki ia gunakan untuk mengajar di beberapa daerah di Minahasa, Liwutung, hingga Luwuk Banggai.
Namun 2 tahun setelahnya, setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, Robert Wolter Monginsidi hijrah ke Makassar.
Robert Wolter Monginsidi tercatat pernah bekerja sebagai guru di beberapa daerah di Sulawesi. [3]
Riwayat Organisasi & Peperangan #
Ketika Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu, pemerintahan Belanda datang lagi dengan wujud anyar: Netherlands Indies Civil Administration alias NICA dengan tujuan untuk kembali merebut daerah jajahan.
Setelah kemerdekaan, tepatnya di Makassar, Robert Wolter Monginsidi menyadari bahwa kemerdekaan negerinya terancam.
Disinilah Robert Wolter Monginsidi memutuskan untuk ikut serta dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di usianya yang masih remaja.
Robert Wolter Monginsidi turut dalam pembentukan Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) pada 17 Juli 1946.
Walaupun masih remaja, keberanian Monginsidi cukup besar.
Beberapa kali Robert Wolter Monginsidi ikut dalam peperangan melawan NICA yang bersenjatakan lebih canggih.
Kepandaian dalam perang inilah yang membuat Robert Wolter Monginsidi dipercaya menjadi salah satu pimpinan LAPRIS.
Robert Wolter Monginsidi tercatat memimpin pasukan sendiri untuk memberikan tekanan terhadap Belanda di Makassar dan sekitarnya.
Jabatan Robert Wolter Monginsidi secara struktural di LAPRIS adalah sekretaris.
Namun demikian Robert Wolter Monginsidi juga berperan sebagai perencana operasi militer.
Ia sering menyamar untuk menentukan sasaran.
Cukup banyak serangan yang dibuat LAPRIS yang berhasil karena informasi yang didapatkan dari Robert Wolter Monginsidi.
Pada suatu waktu di Kota Makassar, terdapat jip militer milik Belanda memasuki tangsi
Di depannya telah menunggu 4 orang, berpakaian tentara yaitu Robert Wolter Monginsidi bersama 3 pejuang lainnya yaitu Abdullah Hadade, HM Yoseph, dan Lewang Daeng Matari.
Jip dihentikan, Robert Wolter Monginsidi menodongkan pistol ke arah kepala satu-satunya orang yang ada di mobil itu, seorang kapten rupanya.
Seragam dan tanda pangkat sang kapten dilucuti, lalu dikenakan oleh Monginsidi serta mobil pun diambil-alih.
Robert Wolter Monginsidi dan kawan-kawannyaya mengendarainya ke arah tangsi.
Saat masuk, mereka tak dikenali, kemudian berhasil masuk ke tangsi serdadu Belanda.
Suasana mendadak riuh saat Robert Wolter Monginsidi memberondongkan senapannya ke area tangsi.
Para penghuninya pun panik, bubar, dan lari menyelamatkan diri .
Salah satu aksi heroik Monginsidi lainnya terjadi sepanjang pekan ketiga Januari 1947.
Pasukan Robert Wolter Monginsidi terlibat kontak senjata dengan pihak Belanda dan berhasil memukul mundur lawan.
Beberapa hari kemudian, terjadi saling tembak-menembak lagi.
Robert Wolter Monginsidi nyaris saja tertangkap, namun dapat meloloskan diri.
Serangkaian perlawanan itu membuat Belanda kini mengenali sosok Robert Wolter Monginsidi dan menggelar beberapa kali razia besar-besaran untuk menangkapnya.
Tanggal 28 Februari 1947, ia terjaring dan dipenjarakan.
Pada 27 Oktober 1947, kawan-kawan seperjuangan Robert Wolter Monginsidi berhasil menyelundupkan 2 granat yang dimasukan ke dalam roti.
Granat pun diledakkan, seisi kompleks penjara kacau-balau.
Melalui cerobong asap dapur, Robert Wolter Monginsidi dan ketiga rekannya berhasil melarikan diri.
Dilansir oleh Tirto, (14/2/2017), dalam artikel Iswara N. Raditya, 'Yang Mati Muda Demi Indonesia', Setahun kemudian, Robert Wolter Monginsidi terkepung di sebuah gang.
Ia tidak sadar bahwa posisinya diketahui oleh serdadu Belanda.
Rupanya ada yang berkhianat di belakang Robert Wolter Monginsidi, yaitu tiga kawannya yang sebelumnya sama-sama tertangkap, yakni Abdullah Hadade, HM Yoseph, dan Lewang Daeng Matari.
Mereka menerima uang suap dari Belanda!
Monginsidi sebenarnya punya sebuah granat yang bisa saja ia lemparkan, namun karena terlalu tinggi risikonya melempar granat di gang tempatnya terkepung itu juga menjadi area pemukiman warga.
Robert Wolter Monginsidi pun akhirnya menyerah demi keselamatan rakyat.
Tangan dan kakinya diikat dengan rantai, kemudian dikaitkan ke dinding tembok tahanan di Kiskampement Makassar.
Pada masa ini, serdadu Belanda sering membujuk Monginsidi agar mau bekerjasama, namun ia selalu tegas menolak.
Akhirnya, pada 26 Maret 1949, ia divonis akan menjalani hukuman mati. [4]
Hukuman Mati #
Setelah divonis mati, pihak Belanda masih sempat menyarankan kepada Monginsidi mengajukan grasi agar mendapatkan pengampunan, namun dengan syarat, ia bersedia bekerjasama.
Tapi, Monginsidi tetap tidak mau.
Robert Wolter Monginsidi memang telah dikhianati, namun ia anti menjadi pengkhianat.
“Minta grasi? Itu berarti mengkhianati keyakinan sendiri dan teman-teman. Salam pada teman-teman. Saya setia sampai mati!” serunya lantang, dalam Yusuf Bauti, Intisari, Maret 1975, dikutip Tirto, (14/2/2017), dalam artikel Iswara N. Raditya, 'Yang Mati Muda Demi Indonesia'.
Selama menunggu maut menjemput di sel tahanan, Monginsidi kian mendekatkan diri kepada Tuhan dengan membaca ayat-ayat Alkitab.
Selain itu, Robert Wolter Monginsidi juga sempat menuliskan sejumlah catatan berisi pesan-pesan perjuangan.
Tulisan Robert Wolter Monginsidi di dalam penjara yang ditulis di lembaran kertas dengan judul “Setia Hingga Terakhir dalam Keyakinan”., salah satunya berbunyi berikut:
“Saya telah relakan diri sebagai korban dengan penuh keikhlasan memenuhi kewajiban buat masyarakat kini dan yang akan datang. Saya percaya penuh bahwa berkorban untuk tanah air mendekati pengenalan kepada Tuhan yang Maha Esa.”
“Perjuanganku terlalu kurang, tapi sekarang Tuhan memanggilku. Rohku saja yang akan tetap menyertai pemuda-pemudi. Semua air mata dan darah yang telah dicurahkan akan menjadi salah satu fondasi yang kokoh untuk tanah air kita yang dicintai Indonesia.”
Begitu bunyi sebagian guratan pena bermakna Monginsidi dari dalam penjara yang ditulisnya
Senin, 5 September 1949 dini hari, Monginsidi dibawa ke hadapan regu tembak.
Mata dan hatinya terbuka menghadapi eksekusi.
Monginsidi ingin menikmati saat-saat terakhirnya dengan kebanggaan.
“Saya jalani hukuman tembak mati ini dengan tenang, tidak ada rasa takut dan gentar demi kemerdekaan bangsa Indonesia tercinta.”
Sesaat sebelum pelatuk ditarik, Robert Wolter Monginsidi berucap kepada para algojo di hadapannya, “Laksanakan tugas, saudara! Saudara-saudara hanya melaksanakan tugas dan perintah atasan. Saya maafkan saudara-saudara dan semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa saudara-saudara.“
“Dengan hati dan mata terbuka, aku ingin melihat peluru penjajah menembus dadaku,“ tambahnya.
Bersamaan dengan tiga kali pekikan merdeka, delapan peluru menembus raganya:
Empat di dada kiri, satu di dada kanan, satu di ketiak kiri menembus ketiak kanan, satu di pelipis kiri, dan satu di tepat pusar.
Monginsidi gugur pada waktu subuh di umur 24 tahun. [5]
Penghargaan #
Robert Wolter Mongisidi dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia pada 6 November, 1973.
Dia juga mendapatkan penghargaan tertinggi Negara Indonesia, Bintang Mahaputra (Adipradana), pada 10 November 1973.
Ayahnya, Petrus, yang berusia 80 tahun pada saat itu, juga menerima penghargaan tersebut.
Berkat jasa-jasanya, dibangun Bandara Wolter Monginsidi di Kendari, Sulawesi Tenggara.
Selain itu, beberapa nama jalan di penjuru tanah air juga banyak yang memakai nama dirinya.
Kemudian, beberapa moda tempur juga diberi nama dirinya, seperti kapal Angkatan Darat Indonesia, KRI Wolter Monginsidi dan Yonif 720/Wolter Monginsidi. [6]
Baca: PAHLAWAN NASIONAL - Sultan Thaha Syaifuddin
Baca: PAHLAWAN NASIONAL - Raden Mas Tumenggung Ario Suryo
Baca: PAHLAWAN NASIONAL - Raden Mas Tumenggung Ario Suryo
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Dinar Fitra Maghiszha)
JANGAN LUPA SUBSCRIBE CHANNEL YOUTUBE TRIBUNNEWSWIKI.COM
| Informasi Detail |
|---|
| Nama | Robert Wolter Monginsidi |
|---|
| Nama Akrab | Bote |
|---|
| Lahir | Desa Malalayang, Manado, Sulawesi Utara, 14 Februari 1925 |
|---|
| Keluarga |
|---|
| Ayah | Petrus Monginsidi |
|---|
| Ibu | Lina Suawa |
|---|
| Riwayat Pendidikan |
|---|
| Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), Frater Don Bosco, Manado |
| Sekolah Pertanian bentukan Jepang, Tomohon |
| Sekolah Keguruan Bahasa Jepang, Tomohon |
| Riwayat Organisasi |
|---|
| Sekretaris - Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) |
| Pemimpin Operasi Militer - Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) |
| Riwayat Penjara |
|---|
| 28 Februari 1947 |
| Wafat | Senin, 5 September 1949 |
|---|
Sumber :
1. pahlawancenter.com
2. tirto.id
3. tirto.id
4. tirto.id
5. tirto.id
6. www.liputan6.com