17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: KH Zainal Mustafa

KH. Zaenal Mustofa adalah pejuang kemerdekaan yang memimpin pemberontakan Singaparna pada masa kependudukan Jepang di Indonesia. KH. Zaenal Mustofa diangkat menjadi pahlawan nasional pada tahun 1972


zoom-inlihat foto
kh-zainal-mustafa-2.jpg
Kolase foto (kompasiana.com dan hidayatullah.com)
KH. Zainal Mustafa (1899 - 1944)

KH. Zaenal Mustofa adalah pejuang kemerdekaan yang memimpin pemberontakan Singaparna pada masa kependudukan Jepang di Indonesia. KH. Zaenal Mustofa diangkat menjadi pahlawan nasional pada tahun 1972




  • Informasi Awal #


TRIBUNNEWSWIKI.COM -  K.H. Zainal Mustafa adalah seorang pahlawan nasional Indonesia.

Peran K.H. Zainal Mustafa sebagai pejuang kemerdekaan berlangsung sebelum kemerdekaan hingga perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

K.H. Zainal Mustafa lahir di Bageur, Cimerah, Singaparna, Tasikmalaya, 1899 dan meninggal di Jakarta, 28 Maret 1944.

K.H. Zainal Mustafa dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Tasikmalaya.

Zaenal Mustofa adalah pemimpin sebuah pesantren di Tasikmalaya.

Zaenal Mustofa tercatat pernah mengadakan pemberontakan terhadap pemerintahan Jepang di Indonesia.

Berkat jasa-jasanya, pada tanggal 6 Nopember 1972, KH. Zaenal Mustofa diangkat sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 064/TK/Tahun 1972. [1]

Zainal Mustafa 4
Makam KH Zainal Mustafa dikunjungi pejabat pemerintahan setempat. (nasional.republika.co.id)

  • Kehidupan Pribadi #


Nama kecil Zaenal Mustofa adalah Hudaemi, lahir dari keluarga petani yang berkecukupan.

Zaenal Mustofa mempunyai ayah bernama Nawapi dan ibu, Nyonya Ratmah.

Zaenal Mustofa tinggal di Kampung Bageur, Desa Cimerah, Kecamatan Singaparna (kini termasuk wilayah Desa Sukarapih Kecamatan Sukarame) Kabupaten Tasikmalaya.

Beberapa sumber menyebut tanggal kelahiran yang berbeda yaitu tahun 1901 dan 1907

Kelahiran tahun 1899 adalah informasi yang didapatkan dari Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat, Nina Herlina Lubis.

Namanya menjadi Zaenal Mustofa setelah ia menunaikan ibadah haji pada tahun 1927.

Kemudian mendapat gelar Kiai Haji saat turut menyebarkan ajaran agama di lingkungan sekitarnya. [2]

  • Riwayat Pendidikan #


Sejak kecil, Zaenal Mustofa mendapatkan pendidikan formal di Sekolah Rakyat (SR).

Dalam bidang agama, Zaenal Mustofa belajar mengaji dari guru agama di kampungnya.

Didukung dengan kemampuan ekonomis keluarga menjadikan mungkin bagi Zaenal Mustofa untuk menuntut ilmu agama lebih banyak lagi.

Zaenal Mustofa melanjutkan pendidikannya ke pesantren di Gunung Pari di bawah bimbingan Dimyati, kakak sepupunya.

Selanjutnya, Zaenal Mustofa kemudian mondok di Pesantren Cilenga, Leuwisari, dan di Pesantren Sukamiskin, Bandung.

Selama kurang lebih 17 tahun Zaenal Mustofa terus menggeluti ilmu agama dari satu pesantren ke pesantren lainnya.

Disinilah Zaenal Mustofa mahir berbahasa Arab dan memiliki pengetahuan keagamaan yang luas.

Melalui ibadah haji, Zaenal Mustofa berkenalan dengan ulama-ulama terkemuka.

Ia sering mengadakan tukar pikiran soal keagamaan dan berkesempatan melihat pusat pendidikan keagamaan di Tanah Suci.

Selain itu, komunikasi dengan dunia luar mendorongnya untuk mendirikan sebuah pesantren.

Sepulangnya dari ibadah haji, tahun 1927, Zaenal Mustofa mendirikan pesantren di Kampung Cikembang dengan nama Sukamanah. [3]

Melalui pesantren yang ia dirikan, Zaenal Mustofa menyebarluaskan agama Islam.

Paham yang disebarkan terutama adalah paham Syafi’i yang dianut oleh masyarakat Indonesia pada umumnya dan umat Islam Jawa Barat pada khususnya.

Selain itu, Zaenal Mustofa juga mengadakan beberapa kegiatan keagamaan ke pelosok-pelosok desa di Tasikmalaya dengan cara mengadakan ceramah-ceramah agama.

Maka sebutan kiai pun menjadi melekat dengan namanya.

Pada perkembangannya, KH. Zaenal Mustofa terus tumbuh menjadi pemimpin dan panutan yang karismatik dan patriotik.

Tahun 1933, ia masuk Jamiyyah Nahdhatul Ulama (NU) dan diangkat sebagai wakil ro’is Syuriah NU Cabang Tasikmalaya. [4]

  • Masa Peperangan #


Sudah sejak tahun 1940, KH. Zaenal Mustofa terbuka mengadakan kegiatan yang membangkitkan semangat kebangsaan dan sikap perlawanan terhadap pendudukan Belanda di Indonesia.

Dalam ceramahnya, KH. Zaenal Mustofa selalu menyerang kebijakan politik kolonial Belanda yang kerap disampaikannya dalam khutbah-khutbahnya.

Atas tindakannya ini, ia selalu mendapat peringatan, dan bahkan, tak jarang diturunkan paksa dari mimbar oleh kiai yang pro pemerintahan Hindia Belanda.

Setelah Perang Dunia II tanggal 17 November 1941, KH. Zaenal Mustofa bersama rekan-rekannya ditangkap Belanda karena tuduhan telah menghasut rakyat untuk memberontak terhadap pemerintah Hindia Belanda.

Mereka kemudian ditahan di Penjara Tasikmalaya dan sehari kemudian dipindahkan ke penjara Sukamiskin Bandung, dan baru bebas 10 Januari 1942.

Walaupun sudah pernah ditahan, aktivitas perlawanan KH. Zaenal Mustofa terhadap penjajah tidak padam.

Pada bulan Februari 1942, KH. Zaenal Mustofa bersama salah seorang temannya kembali ditangkap dan dimasukkan ke penjara Ciamis.

Keduanya menghadapi tuduhan yang sama seperti tuduhan di penangkapannya yang pertama.

Hingga pada waktu Belanda menyerah kepada Jepang, KH. Zaenal Mustofa masih mendekam di penjara.

Pada tanggal 8 Maret 1942 kekuasaan Hindia Belanda berakhir, pemerintahan Jepang pun masuk di Hindia Belanda.

Setelah itu, KH. Zaenal Mustofa dibebaskan dari penjara, dengan harapan ia akan mau membantu Jepang dalam mewujudkan ambisi fasisnya, yaitu menciptakan kemakmuran bersama pimpinan Asia Timur Raya.

Namun, apa yang menjadi harapan Jepang tidak pernah terwujud karena KH. Zaenal Mustofa dengan tegas menolaknya.

Dalam pidato singkat KH. Zaenal Mustofa di upacara penyambutannya dia di Pesantren, ia memperingatkan para pengikut dan santrinya agar tetap percaya pada diri sendiri dan tidak mudah termakan oleh propaganda pemerintahan Jepang.

KH. Zaenal Mustofa justru memperingatkan bahwa fasisme Jepang itu lebih berbahaya dari imperialisme Belanda.

Pasca perpindahan kekuasaan dari Belanda ke Jepang, sikap dan pandangannya itu tidak pernah berubah.

Pada masa pemerintahan Jepang ini, KH. Zaenal Mustofa menentang pelaksanaan seikeirei atau cara memberi hormat kepada kaisar Jepang dengan menundukkan badan ke arah Tokyo.

Menurutnya, perbuatan itu bertentangan dengan ajaran Islam dan merusak tauhid karena telah mengubah arah kiblat.

Dengan semangat jihad membela kebenaran agama dan memperjuangkan bangsa, KH. Zaenal Mustofa merencanakan akan mengadakan perlawanan terhadap Jepang pada tanggal 25 Februari 1944.

KH. Zaenal Mustofa berencana akan menculik para pembesar Jepang di Tasikmalaya, kemudian melakukan sabotase, memutuskan kawat-kawat telepon sehingga militer Jepang tidak dapat berkomunikasi, dan terakhir, membebaskan tahanan-tahanan politik.

Untuk melaksanakannyai, KH. Zaenal Mustofa meminta para santrinya mempersiapkan persenjataan berupa bambu runcing dan golok yang terbuat dari bambu, serta berlatih pencak silat.

Selain itu, KH. Zaenal Mustofa juga memberikan latihan spiritual (tarekat) seperti mengurangi makan, tidur, dan membaca wirid-wirid untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta.

Persiapan para santri ini terdengar oleh Jepang.

Segera mereka mengirim camat Singaparna disertai 11 orang staf dan dikawal oleh beberapa anggota polisi untuk melakukan penangkapan.

Usaha suruhan Jepang gagal.

Mereka ditahan di rumah KH. Zaenal Mustofa.

Keesokan harinya, pukul 8 pagi tanggal 25 Februari 1944, mereka dilepaskan dan hanya senjatanya yang dirampas.

Sekitar pukul 13.00, datang empat orang opsir Jepang yang meminta agar KH. Zaenal Mustofa menghadap pemerintah Jepang di Tasikmalaya.

Perintah tersebut ditolak tegas dan mengakibatkan keributan.

Keributan itu mengakibatkan tiga opsir tewas dan satu orang dibiarkan hidup.

Satu orang yang hidup kemudian disuruh pulang dengan membawa ultimatum.

Ultimatum tersebut tertulis bahwa pemerintah Jepang dituntut untuk memerdekakan Pulau Jawa terhitung mulai 25 Februari 1944.

Dalam insiden itu, salah seorang santri bernama Nur menjadi korban, karena terkena tembakan salah seorang opsir.

Setelah kejadian tersebut, datang beberapa buah truk mendekati garis depan pertahanan Sukamanah.

Suara takbir mulai terdengar, pasukan Sukamanah sangat terkejut setelah tampak dengan jelas bahwa yang berhadapan dengan mereka adalah bangsa sendiri.

Pemerintah Jepang di Indonesia telah mempergunakan taktik adu domba.

Melihat yang datang menyerang adalah bangsa sendiri, Zaenal Mustofa memerintahkan para santrinya untuk tidak melakukan perlawanan sebelum musuh masuk jarak perkelahian.

Namun, jumlah kekuatan lebih besar, ditambah peralatan lebih lengkap, membuat pasukan Jepang berhasil menerobos dan memorak-porandakan pasukan Sukamanah.

Peristiwa ini dikenal dengan Pemberontakan Singaparna.

Para santri yang gugur dalam pertempuran itu berjumlah 86 orang.

Meninggal di Singaparna karena disiksa sebanyak 4 orang.

Meninggal di penjara Tasikmalaya karena disiksa sebanyak 2 orang

Meninggal di Penjara Sukamiskin Bandung sebanyak 38 orang.

Kemudian yang mengalami cacat (kehilangan mata atau ingatan) sebanyak 10 orang.

Sehari setelah peristiwa tersebut, sekitar 700-900 orang ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara di Tasikmalaya.

Di lain hal, KH. Zaenal Mustofa sempat memberi instruksi secara rahasia kepada para santri dan seluruh pengikutnya yang ditahan agar tidak mengaku terlibat dalam pertempuran melawan Jepang, termasuk dalam kematian para opsir Jepang.

Instruksi ini diberikan agar pertanggungjawaban tentang pemberontakan Singaparna dipikul sepenuhnya oleh KH. Zaenal Mustofa.

Akibatnya, sebanyak 23 orang yang dianggap bersalah, termasuk KH. Zaenal Mustofa sendiri, dibawa ke Jakarta untuk diadili.

Setelah peristiwa pemberontakan tersebut, pesantren ini ditutup oleh Jepang dan tidak diperbolehkan melakukan kegiatan apapun. [5]

  • Wafat & Penghargaan #


Menurut beberapa sumber, KH Zaenal Mustafa dieksekusi pada 25 Oktober 1944 dan dimakamkan di Taman Pahlawan Belanda Ancol, Jakarta.

Melalui penelusuran salah satu santrinya, Kolonel Syarif Hidayat, pada tahun 1973 keberadaan makamnya itu ditemukan di daerah Ancol, Jakarta Utara, bersama makam-makam para santrinya yang berada di antara makam-makam tentara Belanda.

Lalu, pada 25 Agustus 1973, semua makam tersebut dipindahkan ke Sukamanah, Tasikmalaya.

Berkat jasa-jasanya, pada tanggal 6 Nopember 1972, KH. Zaenal Mustofa diangkat sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 064/TK/Tahun 1972. [6]

 

Baca: PAHLAWAN NASIONAL- KH Fakhruddin

Baca: PAHLAWAN NASIONAL- Gatot Mangkoepradja

Baca: PAHLAWAN NASIONAL - La Maddukelleng

Baca: PAHLAWAN NASIONAL - KH Zainul Arifin Pohan

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Dinar Fitra Maghiszha)

JANGAN LUPA SUBSCRIBE CHANNEL YOUTUBE TRIBUNNEWSWIKI.COM



Informasi Detail
Nama Zainal Mustafa
Nama Lain Hudaemi
Nama & Gelar K.H. Zainal Mustafa
Lahir Bageur, Cimerah, Singaparna, Tasikmalaya, 1899
Wafat Jakarta, 28 Maret 1944
Keluarga
Ayah Nawapi
Ibu Ny. Ratmah
Riwayat Pendidikan
Pesantren di Gunung Pari
Pesantren Cilenga, Leuwisari
Pesantren Sukamiskin, Bandung


Sumber :


1. republika.co.id
2. www.nu.or.id
3. www.nu.or.id
4. nasional.republika.co.id
5. www.wikiwand.com
6. www.wikiwand.com


Editor: haerahr
BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved