17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: La Maddukelleng

La Maddukelleng merupakan bangsawan Kesultanan Paser yang dianugerahi Pahlawan Nasional karena perjuangannya mengusir Belanda dari Kerajaan Wajo.


zoom-inlihat foto
la-maddukelleng.jpg
diskusi-lepas.id/ikpni.com
La Maddukelleng, pemimpin Kerajaan Wajo

La Maddukelleng merupakan bangsawan Kesultanan Paser yang dianugerahi Pahlawan Nasional karena perjuangannya mengusir Belanda dari Kerajaan Wajo.




  • Profil


TRIBUNNEWSWIKI.COM - La Maddukelleng merupakan bangsawan Kesultanan Paser yang dianugerahi Pahlawan Nasional karena perjuangannya mengusir Belanda dari Kerajaan Wajo.

La Maddukelleng lahir di Wajo, Sulawesi Selatan dari pasangan Arung Peneki La Mataesdso To Ma'dettia dan W Tenriangka Arung Singkang.

Sejak kecil La Maddukelleng tinggal di lingkungan istana dan sering dipanggil Arung Singkang dan Arung Peneki.

Nama La Maddukelleng dikenang sebagai mantan perompak atau bajak laut di Wajo, Sulawesi Selatan.

Di bawah pemerintahaannya, La Maddukelleng berhasil membebaskan Wajo dan Sulewasi Selatam dari kekuasaan Belanda.

Taktik yang ia gunakan adalah dengan mengadakan hubungan dagang bersama daerah-daerah yang sering mengadakan transaksi dengan Belanda, sehingga perdagangan Belanda dapat diputuskan.

Julukan Maddukelleng dari Suku Wajo adalah Petta Pammadekaenggi, berarti Tuan yang Memerdekakan Wajo. (1)

La Maddukelleng
La Maddukelleng (hipermawakomisariatpenrang.blogspot.com)

Baca: PAHLAWAN NASIONAL - Sultan Agung

  • Masa Muda


La Maddukelleng lahir di Wajo, Sulawesi Selatan pada 1700.

Sejak berusia 9 tahun, La Maddukelleng meninggalkan tanah kelahirannya dan tinggal di kerajaan Wajo.

Pada usia 11 tahun, La Maddukelleng berhasil membunuh 11 orang saat baru saja disunat.

Hal ini terjadi karena adanya perbedaan pendapat mengenai pesta sabung ayam yang saat itu berlangsung.

Akibat perkelahian yang terjadi, hubungan kerajaan Wajo dan kerajaan Bone menjadi kurang harmonis.

Baca: PAHLAWAN NASIONAL - Sultan Hasanuddin

Pada 1714, La Maddukelleng pergi ke Johor (sekarang Malaysia) dari Peneki menggunakan perahu.

Saat itu ia bertemu dengan saudaranya bernama Daeng Matekko yang merupakan pedagang kaya Johor.

  • Sultan Pasir


La Maddukelleng memulai perjuangannya pada tahun 1715 saat membantu Daeng Parani melawan Johor yang kemudian berhasil mereka menangkan.

Pada tahun 1726, La Maddukelleng diangkat menjadi Sultan Pasir Kalimantan Timur. (2)

Sebelumnya La Maddukelleng menikah dengan Puteri Sultan Sepuh Alamsyah Raja Pasir yang bernama Anding Anjang.

Keduanya dikaruniai seorang anak bernama Aji Doya yang kemudian akan menikah dengan Muhammad Idris, Raja Kutai dan berganti nama menjadi Putri Agung.

Anak-anak La Maddukelleng lainnya, Petta To Sibengngareng, Petta Rawe, serta Petta To Siangka.

Selama di Pasir, Kalimantan, La Maddukelleng selalu berusaha mempertahankan adat istiadat kerajaan Wajo.

Padahal saat itu kerajaan Wajo sedang diduduki oleh Kerajaan Bone.

Banyak orang-orang Wajo yang pergi ke Pasir untuk meminta pertolongan La Maddukelleng.

Karena menjadi padat, La Maddukelleng mencari tempat pemukiman baru di Kutai.

Raja Kutai kemudian menyetujui permintaan La Maddukelleng dengan syarat bahwa orang-orang Wajo tersebut harus mengikuti aturan dan ketentuan Raja Kutai.

Sebagai Sultan Pasir, La Maddukelleng mengangkat La Banna To Assa sebagai panglima dan membangun armada laut untuk mengacaukan pelayaran di Selat Makassar.

10 tahun La Maddukelleng menjabat, ia menerima surat dari Arung Matowa Wajo La Salewangeng yang mengajaknya pulang ke Wajo untuk menghadapi kerajaan Bone.

Kerajaan Wajo
Kerajaan Wajo (dictio.id)

Baca: PAHLAWAN NASIONAL - Teuku Umar

Baca: PAHLAWAN NASIONAL - Kiai Haji Samanhudi


La Maddukelleng mulai membentuk pasukan dan menyiapkan persenjataan armadanya.

Pasukan La Maddukelleng dibagi menjadi dua, pasukan laut yang dikomando oleh La Banna To Assa dan pasukan darat yang dikomando oleh Panglima Puanna Pabbola dan Panglima Cambang Balolo.

Seluruh pasukan merupakan orang-orang terpilih yang mahir bertempur di laut dan darat Semenanjung Malaya dan perairan antara Johor dan Sulawesi.

Dalam perjalanan menuju Makassar, armada La Maddukelleng diserang dua kali pada 8 Maret 1734 dan 12 Maret 1734.

Namun armada Belanda berhasil didesak mundur setelah perang selama dua hari.

Begitu sampai di dekat pulau Lae-lae dan benteng Rotterdam, armada La Maddukelleng ditembak dengan meriam namun pasukan Belanda berhasil dibunuh oleh La Maddukelleng.

Ratu Bone yang gagal membendung pasukan La Maddukelleng kemudian menuntut Arung Matowa Wajo untuk tidak memberi kesempatan La Maddukelleng untuk mendarat di Wajo

Tuntutan itu ditolak karena menurut Arung Matowa Wajo, hak-hak asasi rakyat Wajo terjamin dalam perjanjian pemerintahan di Lapadeppa.

La Maddukelleng berhasil tiba di Singkang melalui Doping pada 24 Mei 1736.

Baca: PAHLAWAN NASIONAL - Pong Tiku

Berdasarkan Hukum Adat Tellumpoccoe (persekutuan antara Wajo, Soppeng dan Bone), La Maddukelleng pergi ke persidangan dan menjelaskan alasannya meninggalkan Bugid dan pertempurannya melawan Belanda.

La Maddukelleng diangkat menjadi Arung Matowa Wajo XXXIV ketika La Salewangeng Arung Matowa Wajo bertambah tua.

Penobatan La Maddukelleng digelar pada Selasa, 8 November 1736 di Paria.

Makam La Maddukelleng
Makam La Maddukelleng (Google sites)

Baca: KH Maimun Zubair

  • Melawan Penjajah


Pertempuran melawan Belanda berasal dari ajakan La Maddukelleng ke Bone dan Soppeng pada tahun 1737.

Menurut La Maddukelleng, jika dibiarkan Belanda berkuasa di Sulawesi maka kerajaan-kerajaan di Makassar akan mengalami kehancuran.

Bone dan Soppeng awalnya menerima ajakan La Maddukelleng namun keduanya mundur.

La Maddukelleng akhirnya berangkat sendiri ke Makassar dalam dua kali ekspedisi yang gagal kedua-duanya.

La Maddukelleng kembali ke Wajo dan mulai memperkuat pertahanannya karena yakin Belanda akan menyerang balik.

Pada tahun 1741, VOC menyerang bersama Bone, Soppeng, Luwu, Buton dan Tanete di bawah komando Admiral Adriaan Smout.

Namun dengan gigih, La Maddukelleng berhasil mempertahankan diri bahkan berhasil memukul mundur VOC dari Lagosi dengan bantuan Pilla Pallawa Gau, dan La Banna To Assa serta menantunya Sultan Aji Muhammad Idris.

Baca: PAHLAWAN NASIONAL - Kiai Haji Samanhudi

  • Pahlawan Nasional


La Maddukelleng memiliki visi untuk membebaskan Sulawesi dari penjajahan, tidak hanya di Wajo.

Dengan wawasannya, La Maddukelleng bahkan memperluas wilayah Wajo.

Pemerintahannya berakhir setelah menjadi Arung Matowa Wajo karena banyak anggota pasukannya yang sudah jenuh berperang.

Karena kekuatan militernya yang melemah, La Maddukelleng mengundurkan diri dan meninggal pada 1965.

Jasad La Maddukelleng dikebumikan di Sengkang, tepatnya di Jalan A. P. Pettarani Sengkang.

Pemerintah RI menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada La Maddukelleng sesuai dengan SK Presiden RI No. 109/TK/1998, pada tanggal 6 November 1998 . (3)

(TribunnewsWiki/Indah)

Jangan lupa subscribe official Youtube channel TribunnewsWiki



Nama La Maddukkelleng
Gelar Arung Matowa Wajo XXXIV
Julukan Petta Pamaradekangi Wajona To Wajoe
Lahir Belawa, Wajo, 1700
Meninggal Sengkang, 1765








KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2021 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved