Informasi Awal #
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Ernest Francois Eugene Douwes Dekker adalah seorang pahlawan nasional yang dikenal juga dengan nama Multatuli atau Danudirja Setia Budhi.
Douwes Dekker atau Multatuli merupakan seorang keturunan Belanda yang justru ikut berjuang dalam memerdekakan Indonesia dari cengkraman kolonialisme Belanda.
Douwes Dekker dikenal sebagai seorang aktivis dan penulis.
Sebuah buku karyanya yang sangat fenomenal dan masih dijual sampai sekarang adalah Max Havelaar.
Baca: PAHLAWAN NASIONAL - TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid
Kehidupan Pribadi #
Douwes Dekker atau Multatuli lahir di Pasuruan, Jawa Timur pada 8 Oktober 1879.
Ayahnya bernama Auguste Henri Adoeard Douwes Dekker, sedangkan ibunya bernama Lousa Neumann.
Sepanjang hidupnya, Douwes Dekker sempat menikah dengan empat orang perempuan, di antaranya Clara Charlotte Deije, Johanna P Mossel, Djafar Kartodiwedjo, serta Haroemi Wanasita alias Nelly Kruymel.
Dari pernikahan itu, Douwes Dekker memiliki lima orang anak, dua laki-laki dan tiga perempuan.
Salah seorang anak laki-lakinya bernama Koesworo Setia Budhi. (1)
Riwayat Pendidikan #
Douwes Dekker pertama mengenyam pendidikan formal pertamanya di tanah kelahirannya, Pasuruan Jawa Timur.
Tamat dari sana, Douwes Dekker kemudian melanjutkan ke HBS Surabaya, namun tidak lama ia kemudian pindah ke sekolah elit di Batavia bernama Gymnasium Koning Willem III School.
Ketika mengalami masa pengasingan di Swiss, Douwes Dekker melanjutkan pendidikannya di Universitas Zurich, Swiss mengambil bidang ekonomi.
Dari universitas itu, Douwes Dekker berhasil meraih gelar doktornya. (2)
Riwayat Karier #
Setelah lulus dari Gymnasium Koning Willem III, Batavia (sekarang Jakarta), Douwes Dekker mendapat pekerjaan di sebuah kebun kopi di Malang bernama Soember Doeren,
Di tempat itu, Douwes Dekker melihat kesengsaraan para pekerja pribumi dengan sangat nyata karena orang-orang Belanda memperlakukan mereka dengan semena-mena.
Hal itu membuat Douwes Dekker tidak bisa tinggal diam.
Douwes Dekker kerap membela para pekerja kebun tersebut.
Imbasnya, ia dimusuhi oleh para pengawas kebun yang lain.
Douwes Dekker juga berkonflik dengan managernya yang membuatnya dimutasi di perkebunan tebu Padjarakan.
Namun tidak lama, Douwes Dekker berkonflik lagi dengan perusahaannya karena masalah pembagian irigasi antara perkebunan tebu dan para petani yang ada di sekitarnya.
Hasilnya, Douwes Dekker dipecat dari perusahaannya.
Tidak lama, sang ibu, Louisa Neumann meninggal dunia yang membuat Douwess Dekker terpuruk.
Pada tahun 1899, Douwes Dekker meninggalkan Hindia Belanda untuk ikut berperang di Afrika Selatan dalam perang Boer melawan Inggris.
Namun nahas, Douwes Dekker berhasil ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara.
Di sana, Douwes Dekker bertemu dengan sastrawan asal India.
Keduanya banyak berinteraksi, hingga wawasan Douwes Dekker tentang perlakuan pemerintah kolonial kepada pribumi semakin terbuka.
Pulang ke Indonesia pada 1902, Douwes Dekker kemudian bekerja sebagai wartawan di De Locomotief.
Dalam tulisannya, Douwes Dekker sering mengangkat isu-isu soal kelaparan di daerah Indramayu, Jawa Barat.
Douwes Dekker banyak mengkritik kebijakan-kebijakan pemerintah kolonial dalam setiap tulisannya.
Kegarangan Douwes Dekker terhadap pemerintah kolonial semakin menjadi ketika ia menjadi staf majalah Bataviaasch Nieuwsblad pada 1907.
Salah satu tulisannya yang paling terkenal adalah “Hoe kan Holland het Spoedigst Zijn Kolonien Verliezen?” yang dalam Bahasa Indonesia berarti “Bagaimana Caranya Belanda dapat Kehilangan Koloni-koloninya”.
Tulisan-tulisannya sampai membuat Douwes Dekker menjadi target intelijen pemerintah kolonial saat itu.
Rumahnya saat itu juga kerap dijadikan sebagai tempat berkumpul para aktivis pribumi seperti Sutomo dan Cipto Mangunkusumo.
Banyak juga anggapan bahwa berkat bantuan Douwes Dekker, organisasi modern pertama di Indonesia, Budi Utomo dapat berdiri.
Pada 25 Desember 1912, Douwes Dekker bersama Suwardi dan Cipto Mangunkusumo mendirikan partai politik dengan haluan nasionalis bernama Indische Partij.
Tidak terlalu lama, partai ini menjadi sangat popular di kalangan pribumi Indonesia.
Anggotanya juga mencapai lima ribu orang.
Sayangnya pada 1913, Indische Partij dibubarkan oleh pemerintah Belanda.
Tidak hanya dibubarkan, ketiga pendirinya yang tidak lain adalah tiga serangkai Douwes Dekker, Suwardi Suryaningrat, dan dr. Cipto Mangunkusumo akhirnya diasingkan.
Masih dari biografiku.com, Douwes Dekker diasingkan di Eropa. Selama di sana, Douwes Dekker tinggal bersama keluarganya.
Douwes Dekker melanjutkan pendidikannya dengan mengambil program doktor bidang ekonomi di Universitas Zurich, Swiss.
Di sana, Douwes Dekker terlibat konspirasi dengan kaum revolusi India hingga membuatnya ditangkap dan diadili di Hongkong.
Pada 1918, Douwes Dekker juga sempat ditahan di Singapura selama dua tahun.
Baru setelah itu Douwes Dekker pulang ke Indonesia.
Di Indonesia, di samping aktif kembali di dunia jurnalistik, Douwes Dekker juga membuat partai baru bernama national Indische Partij, namun tidak mendapat izin dari pemerintah Belanda.
Pada 1919, Douwes Dekker dituduh terlibat dalam peristiwa kerusuhan petani perkebunan tembakau di Polanharjo, Klaten. Namun tuduhan itu tidak dapat dibuktikan.
Meski lolos dari tuduhan pertama, tuduhan lain kembali dilayangkan kepadanya.
Douwes Dekker dituduh membuat tulisan yang memuat hasutan dan melindungi redaktur surat kabar yang menulis komentar tajam terhadap pemerintah kolonial.
Beruntung, tuduhan itu lagi-lagi tidak dapat dibuktikan.
Karena banyaknya tuduhan yang dilayangkan kepadanya, Douwes Dekker kemudian meninggalkan dunia jurnalistik.
Douwes Dekker beralih menulis buku-buku semi ilmiah.
Salah satu bukunya yang paling fenomenal adalah Max Havelaar yang sampai saat ini masih banyak dijumpai di toko-toko buku.
Sahabatnya, yaitu Suwardi Suryaningrat atau Ki Hajar Dewantara juga memberikan masukan supaya ia terjun ke dunia Pendidikan dan mendirikan Ksatrian Instituut di Bandung.
Dalam menjalankan sekolah ini, Douwes Dekker dibantu oleh seorang guru bernama Johanna Petronella Mossel, yang kemudian menjadi istrinya.
Pelajaran yang kebanyakan berisi tentang sejarah Indonesia dan dunia itu dinilai oleh pemerintah Belanda anti kolonial dan condong pada Jepang.
Akibatnya, pada 1933 buku-buku karya Douwes Dekker banyak dirampas dan dibakar oleh pemerintah kolonial Belanda.
Tidak hanya bukunya yang dirampas, Douwes Dekker juga dilarang mengajar, bahkan hingga memasuki masa penjajahan Jepang Douwes Dekker tetap dilarang mengajar.
Douwes Dekker kemudian bekerja di Kantor Dagang Jepang di Jakarta.
Di tempat itu Douwes Dekker bertemu dengan Mohammad Husni Thamrin.
Tahun 1941, Douwes Dekker kembali dibuang ke Suriname.
Saat itu Jerman tengah melakukan serangan ke Eropa yang membuat banyak orang-orang Eropa ditangkap, termasuk Douwes Dekker.
Pasca perang dunia II, pada 1946, Douwes Dekker dikirim ke Belanda, kemudian pada 2 Januari 1947 ia kembali ke Indonesia ditemani seorang perawat, Nelly Albertina Gertzema nee Kruymel yang kemudian ia nikahi.
Pasca kemerdekaan, Douwes Dekker sempat mengisi posisi penting di dalam pemerintahan.
Di Kabinet Sjahrir III, Douwes Dekker sempat menjadi salah satu menteri, meski hanya berlangsung selama sembilan bulan.
Douwes Dekker pernah juga menjadi negosiator dengan Belanda dan pengajar di Akademi Ilmu Politik, serta menjadi Kepala Seksi Penulisan Sejarah di bawah Kementerian Penerangan.
Douwes Dekker kembali ditangkap oleh Belanda ketika terjadi agresi militer Belanda terhadap Indonesia.
Douwes Dekker dibawa ke Jakarta untuk diinterogasi.
Namun karena usia yang sudah tua dan ia berjanji untuk tidak terjun ke dunia politik lagi, akhirnya Douwes Dekker dibebaskan dan kemudian tinggal di wilayah Lembangweg, Bandung.
Di Bandung, Douwes Dekker melanjutkan lagi kariernya di dunia pendidikan di bawah Ksatrian Instituut yang pernah ia dirikan.
Di sana, Douwes Dekker banyak menghabiskan waktunya untuk menyusun autobiografinya dan merevisi buku-buku sejarah yang pernah ia tulis.
Karena usia yang sudah semakin tua, Douwes Dekker akhirnya menghembuskan napas terakhir pada 28 Agustus 1950.
Douwes Dekker dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung.
Namanya diabadikan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden Soekarno pada 9 November 1961 melalui Keppres No. 590 tahun 1961. (3)
Karya #
1843 - De eerloze (naskah drama, kemudian diterbitkan sebagai De bruid daarboven (1864))
1859 - Geloofsbelydenis (diterbitkan dalam jurnal pemikir bebas De Dageraad)
1860 - Indrukken van den dag
1860 - Max Havelaar of de koffiveilingen der Nederlandsche Handelmaatschappy
1860 - Brief aan Ds. W. Francken z.
1860 - Brief aan den Gouverneur-Generaal in ruste
1860 - Aan de stemgerechtigden in het kiesdistrikt Tiel
1860 - Max Havelaar aan Multatuli
1861 - Het gebed van den onwetende
1861 - Wys my de plaats waar ik gezaaid heb
1861 - Minnebrieven
1862 - Over vrijen arbeid in Nederlandsch Indië en de tegenwoordige koloniale agitatie (brochure)
1862 - Brief aan Quintillianus
1862 - Ideën I (terdapat pula yang berupa novel De geschiedenis van Woutertje Pieterse)
1862 - Japansche gesprekken
1863 - De school des levens
1864-1865 - Ideën II
1864 - De bruid daarboven. Tooneelspel in vijf bedrijven (naskah drama)
1865 - De zegen Gods door Waterloo
1865 - Franse rymen
1865 - Herdrukken
1865 - Verspreide stukken (diambil dari Herdrukken)
1866-1869 - Mainzer Beobachter
1867 - Een en ander naar aanleiding van Bosscha's Pruisen en Nederland
1869-1870 - Causerieën
1869 - De maatschappij tot Nut van den Javaan
1870-1871 - Ideën III
1870-1873 - Millioenen-studiën
1870 - Divagatiën over zeker soort van Liberalismus
1870 - Nog eens: Vrye arbeid in Nederlandsch Indië
1871 - Duizend en eenige hoofdstukken over specialiteiten (esai satir)
1872 - Brief aan den koning
1872 - Ideën IV (terdapat pula dalam naskah drama Vorstenschool)
1873 - Ideën V
1873 - Ideën VI
1874-1877 - Ideën VII
1887 - Onafgewerkte blaadjes
1891 - Aleid. Twee fragmenten uit een onafgewerkt blyspel (naskah drama)
1897 - Max Havelaar of de Koffiveilingen der Nederlandsche Handelsmaatschappy (editor Willem Frederik Hermans) (4)
(TribunnewsWIKI/Widi Hermawan)
Jangan lupa subscribe kanal Youtube TribunnewsWIKI Official
| Info Pribadi |
|---|
| Nama | Dr Ernest Francois Eugene Douwes Dekker |
|---|
| Nama Panggilan | Douwes Dekker |
|---|
| Nama Alias | Multatuli |
|---|
| Danudirja Setia Budhi |
| Lahir | Pasuruan, Jawa Timur, 8 Oktober 1879 |
|---|
| Meninggal | Bandung, Jawa Barat, 28 Agustus 1950 |
|---|
| Makam | Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung, Jawa Barat |
|---|
| Riwayat Pendidikan | Pendidikan Dasar, Pasuruan, Jawa Timur |
|---|
| Hogere Burgerschool (HBS), Surabaya, Jawa Timur |
| Gymnasium Koning Willem III School, Jakarta |
| Doktor Ekonomi, Universitas Zurich, Swiss |
| Riwayat Karier | Pekerja Kebun Kopi, Malang |
|---|
| Pekerja di Perkebunan Tebu |
| Prajurit Perang Belanda dalam Perang Boer Melawan Inggris |
| Wartawan Koran De Locomotief |
| Staf Mahalah Bataviaasch Nieuwsblad |
| Pendiri Indische Partij |
| Pendiri Nationaal Indische Partij |
| Pendiri Ksatrian Instituut |
| Menteri di Kabinet Sjahrir III |
| Delegasi Negosiasi Indonesia dengan Belanda |
| Pengajar di Akademi Ilmu Politik |
| Kepala Seksi Penulisan Sejarah di Bawah Kementrian Penerangan |
| Penulis |
| Pahlawan Nasional |
| Keluarga |
|---|
| Ayah | Auguste Henri Edoeard Douwes Dekker |
|---|
| Ibu | Louisa Neumann |
|---|
| Istri | Clara Charlotte Deije |
|---|
| Johanna P. Mossel |
| Djafar Kartodiwedjo |
| Haroemi Wanasita alias Nelly Kruymel |
| Anak | Koesworo Setia Buddhi |
|---|
Sumber :
1. www.sukita.info
2. www.biografiku.com
3. www.biografiku.com
4. id.wikipedia.org