Kehidupan Awal #
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Dr. Soetomo atau bernama Subroto merupakan pahlawan nasional asal, Nganjuk, Jawa Timur, Indonesia.
Dr. Soetomo lahir di Ngepeh, Loceret, Nganjuk pada 30 Juli 1888. (1)
Orang tua dari Dr. Soetomo adalah Raden Suwaji dan Soedarmi Soewajipoetro.
Dr. Soetomo beristrikan orang Belanda yakni Everdina Broering.
Beliau wafat pada 30 Mei 1938 dan dikebumikan di Surabaya.
Nama Dr. Soetomo dikenal sebagai salah seorang tokoh penting pendiri organisasi Boedi Oetomo.
Pendidikan dan Boedi Oetomo #
Pergantian namanya menjadi Soetomo mempunyai sejarahnya sendiri.
Ayahnya R. Suwaji bekerja sebagai wedana di Maospati, Madiun, kemudian pindah bekerja menjadi ajun jaksa di Madiun.
Dr. Soetomo kecil disekolahkan pada Sekolah Rendah Bumiputera, kemudian dipindahkan ke Bangil, Jawa Timur ikut pamannya agar dapat masuk Sekolah Rendah Belanda (ELS = Europeesche Lagere School). (2)
Sempat ditolak masuk ELS, pamannya tidak putus asa hingga esok harinya Dr. Soetomo kecil dibawa lagi ke ELS. Tidak dengan nama Subroto, tetapi diganti nama menjadi Soetomo.
Dengan nama itu beliau diterima di ELS. Setelah tamat pada ELS, beliau mengikuti keinginan ayahnya melanjutkan ke STOVIA.
Di STOVIA pada mulanya beliau tidak begitu memperhatikan pelajarannya.
Kesenangannya ialah menonton dan makan enak bersama teman-temannya.
Barulah pada tahun ketiga sikapnya berubah dan beliau pun belajar dengan sungguh-sungguh.
Beliau lulus dari STOVIA pada tahun 1911. Tetapi sebelum itu, Soetomo telah melakukan sesuatu yang membuat namanya akan tercatat dalam sejarah bangsanya.
Kurang lebih empat bulan sesudah bertemu dengan dokter Wahidin Sarihusodo, beliau memimpin pertemuan yang dihadiri oleh para pelajar STOVIA.
Soetomo berpidato dengan tenang tanpa emosi, menjelaskan gagasannya secara singkat, terang dan jelas.
Pertemuan yang bersejarah itu dilangsungkan di salah satu ruang STOVIA pada tanggal 20 Mei 1908.
Dalam pertemuan itu mereka sepakat membentuk sebuah organisasi yang diberi nama ”Boedi Oetomo”.
Soetomo dipilih sebagai ketuanya.
Organisasi itu adalah organisasi modern pertama yang didirikan di Indonesia.
Hari lahir Boedi Oetomo, 20 Mei, kini diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional, karena ternyata Boedi Oetomo telah mendorong berdirinya organisasi-organisasi bahkan partai-partai politik di kemudian hari.
Gedung STOVIA di mana Boedi Oetomo lahir sekarang menjadi ”Gedung Kebangkitan Nasional”.
Boedi Oetomo tidak lahir begitu saja dan Soetomo tidak bekerja seorang diri.
Bersama Soetomo terdapat nama-nama lain seperti Suraji, yang ikut bersama Soetomo menemui Dr. Wahidin, Moh. Saleh, Sarwono, Gunawan, Gumbrek dan Angka yang kelak semuaya menjadi dokter.
Berbulan-bulan lamanya mereka merencanakan pembentukan sebuah organisasi. Mereka pergi dari ruang kelas yang satu ke ruang kelas yang lain di STOVIA untuk memperkenalkan gagasan mendirikan organisasi, dalam kegiatan itu Soetomo lah yang banyak berbicara.
Baca: PAHLAWAN NASIONAL - Sri Sultan Hamengku Buwono I
Berdirinya Boedi Oetomo dapat dianggap sebagai realisasi gagasan Wahidin. Tetapi jangkauan organisasi itu melebihi dari apa yang dimaksud oleh Wahidin Sarihusodo.
Boedi Oetomo tidak hanya ingin memajukan pelajaran, tetapi juga pertanian, pertukangan kayu, kulit dan lain-lain, disamping memajukan kebudayaan Jawa serta mempererat persahabatan penduduk Jawa dan Madura.
Di bidang pendidikan Boedi Oetomo bertujuan untuk mendirikan sekolah-sekolah, rumah-rumah sewaan untuk anak-anak sekolah/asrama dan mendirikan perpustakaan-perpustakaan.
Untuk merealisasi maksud dan tujuan itu, Soetomo dan kawan-kawannya mengadakan hubungan dengan pelajar-pelajar dari kota-kota lain.
Dengan cara demikian berdirilah cabang-cabang Boedi Oetomo di Bogor, Bandung dan Magelang. Hubungan diadakan pula dengan orang-orang Indonesia yang menduduki jabatan dalam pemerintahan di daerah-daerah untuk menarik simpati mereka, antara lain dengan Bupati Temanggung, Bupati Japara, Banten, dan P.A.A. Kusumojudo yang tinggal di Jakarta.
Organisasi yang semula dipimpin oleh anak-anak muda yang idealis ini akhirnya dipimpin oleh golongan tua, sebagai hasil keputusan Kongres yang pertama pada awal Oktober 1908 di Yogyakarta.
Dalam kongres itu sudah nampak perbedaan pendapat antara golongan muda yang radikal dengan golongan tua yang terlalu berhati-hati, karena itu gerak organisasi menjadi lamban.
Dalam Kongresnya yang kedua pada bulan Oktober 1909 Soetomo masih nampak hadir, tetapi setelah itu namanya hampir-hampir tidak disebut-sebut lagi di dalam Boedi Oetomo.
Agaknya beliau merasa kecewa melihat perkembangan Boedi Oetomo, karena itu beliau lebih memusatkan perhatian kepada pelajaran.
Menjadi Dokter #
Dalam tahun 1911 Soetomo berhasil menyelesaikan pendidikannya di STOVIA dan sejak saat itu pula beliau berhak memakai gelar dokter, maka mulailah tugasnya sebagai dokter.
Mula-mula beliau ditempatkan di Semarang, tetapi kemudian berpindah-pindah ke tempat-tempat lain seperti Tuban, Lubuk Pakam (Sumatera Timur), Malang, Blora dan Baturaja (Sumatera Selatan).
Pada tahun 1919 beliau mendapat kesempatan belajar di Belanda, Jerman dan Austria.
Sewaktu di Belanda, Soetomo menggabungkan diri ke dalam ”Indische Vereeniging”’, perkumpulan pelajar-pelajar Indonesia yang kemudian berganti nama menjadi ”Indonesische Vereniging” dan akhirnya menjadi Perhimpunan Indonesia.
Beliaupun pernah menjadi ketua organisasi ini, yakni tahun 1920-1921.
Baca: PAHLAWAN NASIONAL - Dr Radjiman Wedyodiningrat
Sekembalinya di tanah air, dr. Soetomo melihat kelemahan yang ada pada Boedi Oetomo.
Waktu itu sudah banyak berdiri partai politik.
Suatu saat, ia pun kembali mendekati Boedi Oetomo dan mengusahakan supaya organisasi itu bergerak di bidang politik dan keanggotaannya terbuka buat seluruh rakyat. (3)
Menyatukan Boedi Oetomo dan Perjuangan Politik #
Sekembalinya dari Belanda, Soetomo bekerja sebagai dosen di NIAS (Nederlandsch Indische Artsen School) di Surabaya.
Boedi Oetomo tidak lagi menarik perhatiannya, walaupun pernah diancam akan dikeluarkan dari STOVIA gara-gara mendirikan organisasi tersebut.
Tetapi perhatiannya terhadap perkembangan masyarakat tidak pernah surut. Hanya cara yang ditempuhnya sekarang berbeda. Beliau bermaksud menghimpun golongan terpelajar dan bersama-sama dengan mereka melakukan usaha-usaha yang berguna bagi masyarakat.
Untuk maksud itu pada tanggal 11 Juli 1924, Dr. Soetomo mendirikan ”Indonesische Studie Club ” (ISC). Tujuan ISC ialah mempelajari dan memperhatikan kebutuhan rakyat.
Organisasi ini ternyata menarik perhatian kaum terpelajar, bukan saja cendekiawan Indonesia, tetapi juga cendekiawan Belanda, yakni Koch dan Tilleman yang terkenal berpendirian progresif.
Kegiatan dan kedudukan Soetomo dalam masyarakat membawa beliau ke jenjang politik praktis. la diangkat menjadi anggota Dewan Kota (Gemeen-teraad) Surabaya.
Dalam dewan ini beliau memperjuangkan nasib rakyat antara lain mengusulkan perbaikan kesehatan dan nasib mereka, tetapi usul-usulnya selalu dikalahkan oleh suara terbanyak yang tidak berorientasi kepada rakyat, tetapi kepada pemerintah kolonial.
Ketika usulnya mengenai perbaikan kampung ditolak, sedangkan usul menambah kebersihan dan perbaikan tempat kediaman orang-orang Belanda diterima, Soetomo langsung meminta berhenti dari keanggotaan Dewan Kota.
Soetomo berpikir tidak ada gunanya bekerja di dewan yang hanya menjadi alat kolonial itu. Langkah Soetomo diikuti pula teman-temannya, RH.M. Suyono, M. Sunjoto, dan Asmowinangun.
Perhatiannya terhadap ISC tidak pernah ditinggalkannya. Berkat pimpinannya, organisasi ini giat melakukan usaha-usaha yang berguna di bidang ekonomi dan sosial. Bersama teman-teman lain, Soetomo memprakarsai berdirinya Bank Bumiputera yang dalam tahun 1929 menjadi Bank Nasional. Selain itu didirikan pula Yayasan Gedung Nasional (GNI) yang langsung dipimpin oleh Soetomo.
Gedung ini didirikan secara gotong royong berupa bantuan dari segala lapisan masyarakat, pegawai negeri, swasta, buruh, pedagang, petani, nelayan, bahkan seniman dan seniwati yang tergabung dalam ludruk Cak Durasin pun ikut menyumbangkan tenaga.
Pada tanggal 11 Oktober 1930 ISC berkembang menjadi partai, yakni ”Persatuan Bangsa Indonesia” (PBI) yang langsung diketuai oleh Soetomo, partai ini berhaluan moderat dan cepat sekali berkembang, terutama di daerah Jawa Timur.
Dengan terbentuknya partai ini maka kegiatan di bidang sosial ekonomi semakin menonjol. Hasil-hasilnya dapat dilihat dengan berdirinya Rukun Tani, Rukun Pelayaran, Serikat Buruh, Koperasi, Bank Kredit, Pemeliharaan yatim-piatu. Pemberantasan Pengangguran dan lain-lain.
Di bidang pengajaran merencanakan Sekolah Taman Kanak-kanak, mengusahakan bacaan untuk anak-anak SD, pemberantasan buta huruf dan lain-lain. Di bidang politik dan pers: memberikan kursus-kursus politik, kursus kader dan lain-lain, menerbitkan surat kabar harian (Soeara Oemoem) dan mingguan (Penyebar Semangat).
Dapat dikatakan kegiatan PBI meliputi semua kebutuhan manusia Indonesia, lahir dan batin untuk dapat menjadi bangsa yang mampu berdikari dalam mencapai tujuan memuliakan nusa dan bangsa Indonesia. Pedomannya. ”Kebenaran dan Keadilan dengan bekerja atas dasar cinta kepada nusa dan bangsa Indonesia”.
Sebelum berkembang menjadi PBI, terlebih dahulu ISC sudah menggabungkan diri ke dalam PPPKI (Permufakatan Perhimpunan-perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia) yang dibentuk pada langgal 17 Desember 1927.
Didalam Kongres PPPKI yang pertama tanggal 30 Agustus – 2 September 1930, Soetomo dipilih menjadi ketua dengan sekretaris Ir. Anwari. (4)
Kemudian dalam kongresnya bulan Maret 1932 ketua/sekretaris di Surabaya dipindahkan ke Jakarta dengan ketua M.H. Thamrin dan sekretaris Otto Iskandardinata.
Pada bulan Desember 1933 Kongres Indonesia Raya di Sala yang diselenggarakan oleh PPPKI dilarang, karena Partindo pimpinan Ir. Sukarno dan Mr. Sartono yang dinyatakan sebagai partai terlarang adalah anggota PPPKI.
Pembatalan itu diberikan oleh penguasa hanya beberapa hari sebelum kongres.
Pemimpin-pemimpin partai sudah hadir di Sala, termasuk Soetomo.
Kesempatan itu oleh Soetomo dimanfaatkan dengan mengadakan penjajakan kepada ”Boedi Oetomo” pimpinan K.R.M.H. Wuryaningrat untuk berfusi dengan Persatuan Bangsa Indonesia-Fusi Boedi Oetomo-Persatuan Bangsa Indonesia terlaksana dalam bulan Desember 1935 dan berganti nama menjadi ”Partai Indonesia Raya” (Parindra).
Dokter Soetomo terpilih menjadi ketua dengan wakil ketuanya K.R.M.H. Wuryaningrat.
Kegiatan Soetomo di dalam Parindra meningkat, baik di bidang politik maupun di bidang sosial ekonomi. Haluan partai tetap moderat dan membenarkan anggota-anggotanya duduk di dalam Dewan-dewan.
M.H. Thamrin, Sukarjo Wiryopranoto, Otto Iskandardinata, RJP, Suroso adalah anggota Parindra yang duduk di dalam Volksraad (Dewan Rakyat).
Sebagai dokter, Soetomo penuh perikemanusiaan, beliau tidak menetapkan tarif pembayaran penderita, kecuali mempersilahkan siapa saja yang berobat untuk mengisi kotak yang sudah tersedia.
Rakyat kecil yang tidak mampu di bebaskan dari pembayaran, bahkan seringkali diberinya uang untuk ongkos pulang. Dalam hal perikemanusiaan beliau tidak membeda-bedakan bangsa apa saja, sedang dalam tugas politiknya beliau gigih berjuang mencapai kemuliaan tanah air dan bangsanya dengan tidak segan-segan menentang penguasa kolonial.
Soetomo mempunyai banyak kawan di segala golongan dan lapisan masyarakat. Kawan dekatnya di golongan agama adalah Kyai Haji Mas Mansur.
Karena persahabatan itu Soetomo banyak membantu Muhammadiyah Jawa Timur yang dipimpin oleh K.H. Mas Mansur dengan mendirikan poliklinik dan sebagainya.
Isterinya, seorang wanita Belanda, dicintai sepenuh jiwanya. Karena isteri itu sakit-sakitan, maka didirikanlah rumah untuknya di Celaket di lereng pegunungan Penanggungan, daerah Malang.
Segala sesuatu dilakukannya untuk menyembuhkan isterinya, namun tidak berhasil. Pada tanggal 17 Februari 1934 Dr. Soetomo mendapat musibah; isterinya meninggal dunia.
Musibah itu dirasakan berat oleh Soetomo seperti beliau lukiskan dalam bukunya dengan titel “Kenang-kenangan”.
Empat tahun kemudian, Soetomo jatuh sakit dan baru sekali itu beliau sakit sejak masa dewasanya. Sakitnya makin hari makin parah dan nyawanya tidak tertolong.
Pada tanggal 30 Mei 1938 Soetomo wafat dan jenazahnya dikebumikan di belakang ”Gedung Nasional Indonesia”, Bubutan, Surabaya. (5)
Pahlawan Nasional #
Atas jasa besarnya dalam sejarah Indonesia, maka Pemerintah Republik Indonesia menganugerahi Dr. Soetomo sebagai pahlwan nasional, berdasarkan Surat Keputusan Presiden Rl No.657 Tahun 1961 tanggal 27 Desember 1961.
Selain itu, nama besar Dr. Soetomo juga banyak diabadikan di berbagai ruang publik seperti nama resmi jalan, gedung hingga sebuah perguruan tinggi dan rumah sakit umum di Surabaya, Jawa Timur.
(Tribunnewswiki.com/Haris)
| Nama Asli | Subroto |
|---|
| Nama Gelar | Dr. Soetomo |
|---|
| Lahir | Ngepeh, Loceret, Nganjuk 30 Juli 1888 |
|---|
| Wafat | Surabaya 30 Mei 1938 |
|---|
| Orang tua | Raden Suwaji dan Soedarmi Soewajipoetro |
|---|
| Istri | Everdina Broering |
|---|
| Pergerakan | Boedi Oetomo |
|---|
| PPKI |
Sumber :
1. profilbos.com
2. pahlawancenter.com
3. www.biografiku.com
4. pahlawancenter.com
5. lppks.kemdikbud.go.id