TRIBUNNEWSWIKI.COM – Jalan-jalan ke kota Solo kurang lengkap jika belum mampir ke Kampung Blangkon.
Sering kali terlihat masyarakat Solo menghiasi kepala mereka dengan blangkon.
Blangkon merupakan alat penutup kepala yang ikonik dengan orang Jawa.
Di Kampung Blangkon ini, terdapat banyak home industry blangkon, salah satunya produksi Blangkon milik Rosmiati (44).
Baca: Upacara Ngaben
Rosmiati merupakan generasi ke tiga dari pengrajin blangkon di Kampung Blangkon.
“Udah lama, dulu dari kakek, terus ke bapakku. Pas bapak meninggal diterusin ke ibu, terus ke saya setelah ibuk meninggal,” ujar Rosmiati saat ditemui di rumahnya di Kampung Blangkon, Kelurahan Serengan, Kecamatan Serengan, Solo, pada Selasa (23/7/2019).
Rosmiati berkecimpung langsung setelah ibunya meninggal satu tahun yang lalu.
Namun putri sulung dari empat bersaudara itu sudah membantu orangtuanya membuat blangkon sedari muda.
“Dulu bantu-bantu cari bahannya, cari order-an juga sama ibu,” tutur Rosmiati.
Baca: Buah Lontar
Saat ibunya belum meninggal, rumah Rosmiati tidak hanya membuat pesanan blangkon saja, tapi juga menyewakan berbagai pakaian adat.
Tetapi sekarang hanya memproduksi blangkon dan baju Lurik saja.
Baju lurik tersebut dibedakan menjadi dua jenis, lurik sorjan dan lurik sorjan kembang.
Sejak ibunya meninggal, Rosmiati dan ketiga adiknya lah yang melanjutkan usaha pembuatan Blangkon ini.
“Kalau adik-adik cuma terima order, nanti dikasihkan ke aku. Jadi nanti aku yang mengolah sama anak buah juga,” tutur Rosmiati.
Hingga saat ini produksi blangkon dibantu dengan sebelas karyawannya.
Masing-masing karyawan bisa memproduksi 5 hingga 30 blangkon per hari, menurut model dan kerumitannya.
Baca: Mengenal Hipotermia
“Ini masih tujuh yang bikin blangkon, tapi nanti ada yang finishing, yang jahit dasaran furing gitu, jadi 11,” terang Rosmiati sambil memegang bahan dasar (kain furing) yang akan digunakan untuk membuat Blangkon.
Teras depan rumah digunakan untuk memproduksi blangkon, hal tersebut terlihat dari puluhan kayu jati yang disusun berjajar di rak besi.
Kayu jati tersebut telah dibentuk menyerupai kepala manusia dengan ukuran berbeda-beda seperti diameter 53 cm, 54 cm, 60 cm, dan masih banyak lagi.
Alasan penggunaan kayu jati untuk cetakan blangkon karena kayu jati lebih awet dan tahan lama, sehingga tidak perlu sering diganti untuk mencetak belangkon.