Viral Kafe di Bali Semua Pegawainya Berkebutuhan Khusus, Begini Kisahnya

Penulis: Putradi Pamungkas
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Orang berkebutuhan khusus yang bekerja di Piduh Charity Cafe Bali.

"Kalau kafenya ramai, mereka juga merasa capek. Biasanya, ada yang marah-marah sampai cakar jidatnya sendiri," tutur Kacu.

Hal itu diatasi dengan beberapa hal, seperti konsultasi dengan orangtua mengenai suasana hati sang buah hati saat berangkat kerja, sampai rekan kerja berkebutuhan khusus lain yang memberi hiburan.

Belum lagi, mereka yang lebih dewasa juga mengalami keterbatasan dalam beberapa hal.

Misalnya Putu, karyawan tertua di kafe yang usianya 35 tahun.

Kacu menuturkan, penglihatan Putu mulai rabun, pergerakannya pun lebih lambat dibandingkan saat berlatih beberapa tahun silam.

Harapan

Menurut Nyoman, orang-orang berkebutuhan khusus merasa senang selama bekerja di kafe.

Bukan hanya karena aktivitas baru bagi mereka, melainkan penghasilan perdana yang diterima mereka.

"Semenjak anak-anak bekerja di kafe, mereka juga merasa bangga karena bisa menghasilkan uang dan membantu orangtua untuk membayar listrik atau lainnya," tutur Nyoman.

I Ketut Sadia, suami Nyoman sekaligus pendiri yayasan dan kafe, juga menyampaikan kebanggaannya melihat perkembangan anak didik berkebutuhan khusus.

"Setelah pendidikan dan pemberdayaan, target kami adalah masa tua mereka. Kami harus pikirkan itu," ujar Ketut.

Hal ini mengingat sebagian orang berkebutuhan khusus merupakan yatim piatu, juga ada yang tinggal dengan neneknya.

"Ingin membuatkan suatu wadah atau tempat bagi mereka untuk menjalankan masa tua nanti, pelan-pelan," tambahnya.

Rencana lain, Ketut mengungkapkan, adalah mengadakan kelas memasak dan aktivitas lain, seperti laundry dan tempat cuci motor, yang bisa menghasilkan uang bagi orang berkebutuhan khusus.

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/PUTRADI PAMUNGKAS)



Penulis: Putradi Pamungkas
BERITA TERKAIT

Berita Populer