"Saya taruh di belakang rumah, saya timbun pakai pasir, kasi semen diatasnya tidak cor,"
"Tidak (saya gali), sudah ada memang kubangannya di situ, tanah kosong memang di belakang (rumah), ada lobang," sambungnya.
Kasus yang tertutup rapat selama enam tahun ini pun terungkap lantaran VI (17), anak sulung pelaku dan korban melaporkan ayahnya ke polisi atas kasus pembunuhan tersebut.
Kompas.com memberitakan, saat pembunuhan terjadi, VI masih duduk di bangku sekolah dasar.
Seingat VI, ibunya dianiaya oleh ayahnya hingga alami luka di bagian wajahnya.
"Waktu itu saya masih kelas IV SD. Sepulang sekolah saya melihat mama saya terbaring di lantai, saya hampir tidak mengenalinya karena wajahnya sudah bengkak," kata VI di hadapan penyidik di Mapolrestabes Makassar, Sabtu (13/4/2024) malam.
Berselang dua hari, VI melihat ibunya sudah terbaring di lantai tak sadarkan diri setelah ia pulang sekolah.
"Dua hari kemudian setelah pulang sekolah, saya masih melihat mama saya terbaring di tempat yang sama," ujarnya.
Kemudian, VI melihat ayahnya membawa korban ke belakang rumah.
Pelaku meminta VI untuk berbohong apabila ada yang bertanya semen itu untuk apa.
"Kemudian memberitahukan kepada saya kalau ada yang bertanya semen itu untuk apa, saya harus jawab untuk membuat kolam ikan," ucapnya.
VI mengaku, ia dan adiknya yang saat itu berusia lima tahun untuk berbohong apabila ada yang menanyakan keberadaan ibunya.
"Bapak saya kemudian mengajari saya dan adik saya yang waktu itu masih berumur 5 tahun,"
"Kalau ada yang bertanya mama kamu ke mana, sampaikan bahwa mamamu pergi entah ke mana," tuturnya mengikuti perkataan pelaku.
Dari pengakuan VI tersebut lah, kasus pembunuhan ini terbongkar dan pihak kepolisian bisa menangkap H.