Kasubdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Titus Yudho Uly menjelaskan, NA terlibat dalam kasus ini karena rasa sakit hati.
"Kenapa dia sakit hati? Karena dia mau ngutang rokok enggak dikasih," tutur dia ketika dikonfirmasi, Senin (13/5/2024), dikutip dari Kompas.com.
AH punya toko kelontong yang beroperasi 24 jam di Kampung Dukuh, Ciputat.
Sekitar empat bulan lalu, dirinya mengajak keponakannya dari Sumenep, Jawa Timur, FA (23), untuk membantunya.
Di depan warung AH ada lapak soto milik NA.
Titus mengungkapkan, NA sering berutang.
Hanya saja, pada Jumat (10/5/2024), permintaannya ditolak korban.
Karena kesal, NA memprovokasi FA yang sudah sakit hati karena sering ditegur untuk "menghabisi" korban.
"Dia juga yang memberikan saran (ke pelaku utama), 'udah, abisin'," kata Titus.
Kendati terlibat dalam pembunuhan AH, NA bukanlah pelaku utama karena perannya hanya membantu.
Pada Jumat sore, setelah FA menghabisi nyawa pamannya, NA membantu membersihkan bekas darah korban.
NA lalu membeli karung untuk memasukkan jasad korban yang telah dibungkus sarung.
"Lalu membantu mengangkat jenazah ke karung untuk dibuang," ucap Titus.
Diberitakan, sesosok mayat ditemukan di permukiman warga di daerah Pamulang, Tangerang Selatan, Sabtu (11/5/2024) pagi.
Jasad tersebut ditemukan pertama kali oleh seorang warga bernama Karsit sekitar pukul 05.30 WIB.
Korban ditemukan posisi terbungkus kain sarung berwarna biru.
Mulanya, ia mengira jasad itu adalah sampah yang dibuang oleh orang tak bertanggung jawab ke perumahan warga.
Ia baru mengetahui isi dalam kain itu adalah mayat setelah mendengar cerita dari warga.
Ada luka sayatan pada tubuh AH.