Apa Itu Badai Matahari ? Badai yang Diramalkan Akan Terjadi di Akhir Tahun 2023

Penulis: Ika Wahyuningsih
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Handout foto dirilis oleh Observatorium Bumi Nasa pada tanggal 7 Juni 2011 dan diambil dari Solar Dynamics Observatory (SDO) NASA, bintik matahari kompleks 1226-1227, menunjukkan Matahari mengeluarkan jilatan api matahari M-2 (berukuran sedang), badai radiasi kelas S1 (kecil), dan lontaran massa koronal (CME) yang mengakibatkan awan besar partikel menjamur dan jatuh kembali ke bawah memberikan kesan menutupi area seluas hampir setengah permukaan matahari. Suar matahari yang tidak biasa yang diamati oleh observatorium luar angkasa NASA pada tanggal 7 Juni dapat menyebabkan beberapa gangguan pada komunikasi satelit dan listrik di Bumi pada sekitar hari berikutnya, kata para pejabat. Ledakan kuat dari Matahari menimbulkan badai radiasi pada tingkat yang belum pernah terjadi sejak tahun 2006, dan kemungkinan akan menyebabkan aktivitas badai geomagnetik moderat pada hari Rabu, menurut Layanan Cuaca Nasional. FOTO AFP / HO / NASA

Fenomena badai yang tidak berulang sering terjadi selama maksimum matahari, ketika siklus matahari berada pada puncak yang tinggi.

Badai Matahari ini disebabkan oleh lontaran massa korona (CME) (kumpulan partikel bermuatan) dan, biasanya, pertemuan CME dengan gelombang kejut antar planet. Sedangkan, asal mula terjadinya substorm atau sub-badai matahari mirip dengan badai geomagnetik.

Hanya saja, substorm berlangsung singkat, sekitar dua sampai tiga jam dan lebih sering terjadi, rata-rata enam kali sehari.

Sub-badai ini terjadi selama fase utama pertumbuhan badai. Substorm hanya teramati di zona aurora, sedangkan badai magnetik adalah fenomena di seluruh dunia.

Sementara itu, peristiwa-peristiwa besar akibat aktivitas matahari di Matahari bersifat berulang dalam satu siklus.

Salah satu contohnya, bintik Matahari maksimum terjadi setiap 11 tahun sekali dan dapat berlangsung selama beberapa tahun.

Ketika kumpulan bintik matahari, yakni area gelap yang disebabkan oleh gangguan magnetik, tumbuh dengan cepat, dan berputar seperti badai, pelepasan energi yang sangat eksplosif akan menciptakan solar flare atau jilatan api matahari.

Energi solar flare ini pun bahkan dapat terlontar hingga sejauh 93 juta mil, yang menyebabkan banyak sistem di Bumi akan terpengaruh oleh energi dari aktivitas Matahari tersebut.

(TRIBUNNEWSWIKI)

Baca berita terkait fenomena alam di sini



Penulis: Ika Wahyuningsih
BERITA TERKAIT

Berita Populer