Macron menegaskan bahwa tidak ada pembenaran untuk memborbardir bayi-bayi yang tak bersalah.
Orang nomor satu di Prancis itu juga mengatakan bahwa gencatan senjata akan menguntungkan bagi Israel.
Macron sendiri mengakui bahwa Prancis jelas-jelas mengutuk tindakan Hamas.
Meskipun Prancis mengakui hak Israel untuk melindungi diri mereka sendiri, tetap saja Israel harus berhenti mengebom Gaza.
"Kamis mendesak mereka (Israel) untuk menghentikan pemboman ini di Gaza," kata Macron dalam wawancaranya bersama dengan BBC, Jumat, 10 November 2023, seperti dikutip TribunnewsWiki.
Saat ditanya apakah ia ingin para pemimpin lain, termasuk Amerika Serikat (AS) dan Inggris, ikut serta dalam seruannya untuk melakukan gencatan senjata, Macron mengatakan bahwa ia berharap sekutunya itu melakukan hal yang sama seperti dirinya.
Israel makin mendapat seruan untuk menahan diri dalam perang yang telah berlangsung selama sebulan dengan Hamas.
Namun mereka mengatakan bahwa militan yang bermarkas di Gaza, yang menyerang Israel pada 7 Oktober dan menyandera, akan memanfaatkan gencatan senjata untuk berkumpul kembali.
Berbicara sehari setelah konferensi bantuan kemanusiaan di Paris mengenai perang di Gaza, Macron mengatakan kesimpulan yang jelas dari semua pemerintah dan lembaga yang hadir pada pertemuan puncak itu adalah bahwa tidak ada solusi lain selain jeda kemanusiaan, menuju gencatan senjata.
Baca: Novel Bamukmin Ancam Acak-Acak Konser Coldplay, Promotor Pilih Tutup Rumput dan Copot Bangku GBK
"Yang akan memungkinkan untuk melindungi semua warga sipil yang tidak ada hubungannya dengan teroris," ujar Macron.
"De facto - saat ini, warga sipil dibom - secara de facto. Bayi-bayi ini, para wanita ini, orang-orang tua ini dibom dan dibunuh."
"Jadi tidak ada alasan untuk itu dan tidak ada legitimasi. Jadi kami mendesak Israel untuk berhenti," tegasnya.
Presiden AS Joe Biden telah mengabaikan kemungkinan gencatan senjata, dan bersikeras bahwa tidak ada kemungkinan hal itu terjadi.
Di Inggris, Perdana Menteri Rishi Sunak mendukung 'jeda khusus' dalam konflik Israel-Hamas namun juga menolak seruan gencatan senjata.
Kemarin, PM Israel Benjamin Netanyahu mengesampingkan pembicaraan apa pun mengenai mengakhiri permusuhan di Gaza dan menuduh Perwakilan Demokrat AS Rashida Tlaib menyerukan 'genosida' terhadap orang-orang Yahudi ketika ia berjanji untuk memenangkan perang melawan Hamas.
Pemimpin Israel menyerang para demonstran anti-Israel di perguruan tinggi AS dengan menuduh mereka melakukan 'kebobrokan moral', dan bersumpah untuk melanjutkan perang di Gaza 'berapapun lamanya'.
Berbicara di Fox News, pemimpin Israel menampik anggapan adanya keretakan dengan Gedung Putih setelah menyetujui seruan Joe Biden untuk membangun koridor kemanusiaan kedua di luar Gaza utara.
Namun dia bersikeras tidak akan ada gencatan senjata setelah serangan teror Hamas pada 7 Oktober yang menewaskan lebih dari 1.400 warga Israel dan menyebabkan ratusan lainnya disandera.
"Gencatan senjata dengan Hamas berarti menyerah kepada Hamas dan menyerah terhadap teror,” tambahnya.
Baca: Video Shella Trenggalek 2 Menit 20 Detik Viral di X, Seragam Batik Jadi Sorotan, Polisi Bertindak