Waktunya saja bersamaan, yakni pada tanggal 9 Dzulhijjah, semua jama'ah haji berada di Arafah.
Tidak pernah ada yang berselisih dan berbeda di dalam menetapkan hari Arafah.
Semuanya bersepakat dan sama.
Perbedaan organisasi, asal negara, aliran, maupun madzhab, pada waktu itu tidak menjadikan hari Arafah berbeda.
Kebersamaan dan persamaan benar-benar terjadi dalam ibadah haji.
Selain kebersamaan di padang Arafah, mereka juga sama dalam berpakaian, berangkat ke Muzdalifah, ke Minna untuk melempar jumrah, ke Makkah untuk thawaf, sa'i, hingga tahallul.
Semua jama'ah haji, bagi yang laki-laki, mengenakan dua lembar kain ikhram.
Bukan saja sama warnanya, yaitu putih, tetapi cara menggunakannya juga sama.
Tidak ada yang berlain-lainan.
Pada hari Arafah itu, saat mata hari mulai terbenam, semua jama'ah mulai bersiap-siap meninggalkan tempat wukuf itu.
Mereka pada berangkat ke Muzdalifah untuk mabith di tempat itu hingga tengah malam.
Selepas itu, dan biasanya, di Muzdalifah semua jama'ah haji mencari kerikil atau jumrah sebanyak yang diperlukan, untuk dilempar di Minna.
Baca: Keutamaan Puasa Sunah Tarwiyah dan Arafah, Lengkap dengan Bacaan Niatnya
Baca: Ini Penjelasan Lengkap Hukum, Niat dan Keutamaan Puasa Arafah 9 Dhulhijjah sebelum Idul Adha
Jumlah kerikil yang akan dibawa juga sama, urut-urutan melemparkannya juga sama.
Semuanya serba sama, di antara jama'ah haji tidak berdebat mencari mana yang paling benar.
Pelajaran kebersamaan juga masih tampak ketika sampai di Makkah untuk thawwaf ifadhah dan sa'I maupun tahallul.
Selesai dari Minna, para jama'ah haji datang ke Masjid al Haram untuk melakukan rangkain haji sebagaimana disebutkan itu, ialah thawwaf, sya'i, dan tahallul.
Memang, oleh karena keterbatasan tempat, rangkaian haji tersebut tidak mungkin dilakukan secara bersamaan.
Ada saja, jama'ah haji menunggu hingga tempatnya tidak terlalu sesak, asalkan waktunya masih tersedia atau belum terlambat.
Sebab, thawwaf ifadah, sya'i, dan tahallul tidak boleh ditinggalkan dan atau juga dilaksanakan di luar waktu haji.
Belajar dari rangkaian ibadah itu, maka sebenarnya, orang yang berhaji sedang diberi pelajaran penting dalam bermasyarakat ialah tentang persatuan umat Islam.