Launching Universitas Muhammadiyah Sampit, Haedar: Bukan untuk Kepentingan Muhammadiyah, Tapi Bangsa

Penulis: Bangkit Nurullah
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir meresmikan Universitas Muhammadiyah Sampit (UMSA) pada Selasa (16/5/2023).

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Universitas Muhammadiyah Sampit (UMSA) resmi dilaunching pada hari ini, Selasa (16/5/2023).

Universitas Muhammadiyah Sampit (UMSA) merupakan gabungan dari KBID Muhammadiyah Kotawaringin Timur dan STKIP Muhammadiyah Sampit.

Penggabungan (merger) tersebut terjadi sejak awal tahun 2023.

Hingga akhirnya Universitas Muhammadiyah Sampit tersebut secara resmi dilaunching pada Selasa (16/5/2023).

Acara seremonial peresmian UMSA dilaksanakan di Aquarius Boutique Hotel, Sampit.

Baca: Kader Muhammadiyah Sambangi Bareskrim Polri untuk Jadi Saksi Kasus Andi Pangerang Hasanuddin

Baca: Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)

Acara tersebut  sekaligus pelantikan Rektor UMSA, Ramadansyah serta pengenalan susunan struktur Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kalimantan Tengah (Kalteng) periode 2022-2027.

Pelantikan dan peresmian perguruan tinggi di Sampit tersebut dilakukan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir.

Haedar Nashir menyampaikan terima kasih kepada setiap pihak yang terlibat, terutama Kemendikbudristek RI, LLDIKTI Wilayah XI, Gubernur Kalteng, Bupati Kotawaringin Timur, PWM Kalteng dan Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah.

“Kami menyampaikan terima kasih pada Kemendikbudristek dan pemerintah Kalimantan Tengah, dan khusus Pemerintah Daerah Kotawaringin Timur yang sejak awal mendukung, mem-back up bahkan menfasilitasi lahirnya Universitas Muhammadiyah Sampit,” ucap Haedar.

Kepada hadirin, Haedar menegaskan bahwa pendirian UMSA bukan untuk kepentingan pribadi Muhammadiyah, melainkan untuk kepentingan bangsa Indonesia secara umum.

“Kami sampaikan bahwa Muhammadiyah insyaAllah ketika ada peluang dan kesempatan untuk berkhidmat bagi kepentingan bangsa di manapun berada selalu mampu memanfaatkan peluang dan kemudahan itu demi dan untuk bangsa, bukan untuk Muhammadiyah,” tegasnya.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir meresmikan Universitas Muhammadiyah Sampit (UMSA) pada Selasa (16/5/2023). (DOK. Muhammadiyah)

Baca: Pernah Ancam Bunuh Warga Muhammadiyah, Peneliti BRIN A.P. Hasanuddin Jalani Sidang Hukuman

Baca: LBH AP PP Muhammadiyah Desak Polri Segera Tangkap APH & TDJ atas Dugaan Kasus Ujaran Kebencian

Ikhtiar mendirikan UMSA beserta amal usaha serta pusat-pusat keunggulan lain di bidang pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial serta pemberdayaan masyarakat yang tersebar di seluruh tanah air, kata Haedar berangkat dari sekian hal mendasar.

“Kenapa Muhammadiyah melakukan itu? Pertama, karena Muhammadiyah sejak awal kelahirannya sebagai organisasi Islam yang membawa misi dakwah dan tajdid. Membawa Islam dan mewujudkan Islam yang membawa kemajuan dan pembaruan. Islam sebagai agama yang membawa peradaban maju,” jelasnya.

Baca: Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG)

Baca: Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang (UMS Rappang)

Kedua, Muhammadiyah kata Haedar menyadari bahwa setelah Indonesia 77 tahun merdeka, nyatanya masih memiliki banyak pekerjaan rumah kendati ada kemajuan di beberapa titik.

Tiga nilai luhur yang dimiliki bangsa Indonesia seperti Pancasila, Agama, dan Kebudayaan luhur bangsa juga belum mampu dioptimalkan untuk membangun keadaban bangsa.

Riset Microsoft terkait keadaban netizen warga Indonesia adalah contohnya.

Di sisi lain, keunggulan sumber daya alam juga belum mampu mewujudkan Indonesia sebagai negara merdeka, bersatu, berdaulat adil dan makmur (baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur) karena potensi SDM-nya yang rendah dan tertinggal di ASEAN.

“Maka di sinilah kuncinya pendidikan. Pendidikan kita harus men-drill betul potensi anak-anak warga bangsa kita. Tidak bisa pendidikan asal-asalan. Ketinggalan nanti.

Baca: Universitas Muhammadiyah Sorong (UM Sorong)

Muhammadiyah juga sama. Termasuk Universitas Muhammadiyah Sampit, dari pimpinan, dosen, sampai civitas akademikanya mari kita harus meningkatkan kapasitas dan kualitas pendidikan kita dan harus ada akselerasi,” ujarnya.

Ketiga, Haedar mengatakan bahwa Muhammadiyah melihat konsep Bhinneka Tunggal Ika masih digunakan sebatas jargon, belum menjadi keadaban publik.

Halaman
12


Penulis: Bangkit Nurullah

Berita Populer