Mengenal Cap Go Meh, Akhir Rangkaian Perayaan Tahun Baru Imlek sebagai Wujud Syukur Warga Tionghoa

Penulis: Ika Wahyuningsih
Editor: Putradi Pamungkas
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Aksi para Tatung dalam Cap Go Meh 2569 di Singkawang, Kalimantan Barat (2/3/2018)

Sebelumnya, perayaan ini dilakukan secara tertutup di lingkungan pengadilan dan belum diketahui oleh masyarakat umum.

Festival ini biasanya digelar di malam hari, sehingga harus menyediakan lampion dan berbagai lampu penerangan.

Lampu tersebut dianggap sebagai lambang kesejahteraan semua anggota keluarga.

Ketika Dinasti Han berakhir, ritual yang disebut Festival Lampion ini mulai dikenal oleh publik.

Festival itu juga identik dengan pemandangan lampion indah yang diberikan banyak hiasan.

Sejarah Cap Go Meh

Legenda mengatakan bahwa perayaan Cap Go Meh berawal dari terbunuhnya burung dewa.

Kala itu, seekor burung dewa yang indah jatuh ke bumi.

Merasa terancam, sekelompok manusia akhirnya membunuh burung tersebut.

Rupanya, burung dewa itu adalah burung kesayangan Kaisar Langit.

Kaisar pun murka, ia memerintahkan tentara langit untuk menghukum umat manusia dengan cara membakar habis bumi pada hari ke-15.

Karena merasa iba, Putri Kaisar Langit akhirnya turun ke bumi secara diam-diam dan memberi tahu rencana tersebut.

Masyarakat pun ketakutan dan panik.

Namun, seorang pria bijak memberikan ide agar setiap rumah menyalakan lampu, petasan, dan kembang api agar Kaisar mengira bumi sudah meledak dan terbakar.

Semua orang pun setuju dan melaksanakan ide tersebut.

Pada malam hari ke-15, Kaisar melihat bumi yang terang benderang.

Ia juga mendengar suara ledakan yang keras.

Akhirnya, Kaisar Langit membatalkan rencananya lantaran mengira bumi sudah terbakar.

(TRIBUNNEWSWIKI/Ka)



Penulis: Ika Wahyuningsih
Editor: Putradi Pamungkas
BERITA TERKAIT

Berita Populer