Viola juga menjelaskan ESS primer dan sekunder berdasakan pernyebabnya.
“Yang primer itu jika tidak ada penyebab lain yang mendasari,” kata Viola, dikutip dari Kompas.com.
Sedangkan untuk penyebab sekunder, apabila ada kondisi lain yang menyebabkan kelenjar pituitari menjadi menyusut atau tertekan.
Sebagai contoh, penyebab sekunder penyakit Empty Sella Syndrome tersebut merupakan pada kondisi pasca trauma kepala, adanya infeksi, tumor, intracranial hypertension dan lain-lain.
Tidak semua pasien Empty Sella Syndrome, kata Viola, akan merasakan gejala, dan terpengaruhi produksi hormonnya.
“Sebagian besar pasien yang mengidap penyakti ini bersifat asimptomatik atau tidak menimbulkan gejala apa-apa,” papar Viola.
Tak hanya itu saja, gejala klinis yang muncul pun bergantung pada penyebab dasarnya, juga hormon apa yang sekresinya mengalami masalah.
Viola memberikan contoh, apabila pasien dengan Empty Sella Syndrome yang terganggu adalah hormon seksualnya, maka penyakit itu bisa menyebabkan gangguan siklus haid, infertilitas, atau impotensi pada laki-laki.
Baca: Burning Mouth Syndrome
Baca: SIDS (Sudden Infant Death Syndrome)
Bukan hanya itu saja, gejala lainnya yang sering muncul yaitu nyeri kepala, lalu ada penurunan ketajaman penglihatan serta mudah lelah atau fatigue.
Dokter Spesialis Saraf di Rumah Sakit Otak Nasional di Jakarta Timur ini menjelaskan, penyakit Empty Sella Syndrome masih bisa disembuhkan dengan mengatasi penyebab serta gejala-gejalanya.
“Untuk primary Empty Sella Syndrome yang tidak menimbulkan gejala apa-apa, tidak perlu dilakukan terapi apa-apa,” ungkapnya.
Sedangkan untuk kasus yang sekunder dan bergejala, maka pengobatan tentu akan mencakup penyebab dasarnya.
Apabila si pasien pengidap mempunyai penyebab dasar penyakit infeksi atau tumor, maka dokter tentu akan mengatasi atau menangani masalah utama penyebabnya itu.
Kemudian, pasien juga akan diberikan terapi substitusi hormonal sesuai hormon apa yang bermasalah pada tubuh pasien dengan Empty Sella Syndrome ini.
Sebagai informasi, kelenjar pituitary atau hipofisis ini mempunyai fungsi untuk menghasilkan banyak hormon penting bagi metabolisme tubuh.
Hormon-horman yang dihasilkan seperti TSH (thyroid-stimulating hormone), FSH (follicle-stimulating hormone), LH (luteinizing hormone), Kortikotropin, hingga hormon pertumbuhan.
Ketiga hormon pertama diketahui bertugas untuk mengendalikan fungsi kelenjar endokrin lainnya dan merangsang kelenjar tersebut untuk menghasilkan hormon.
Saat kelenjar hipofisis ini terganggu, termasuk mengalami penyusutan, maka satu atau lebih hormon tidak bisa diproduksi dalam jumlah yang cukup dan menyebabkan terjadinya kelainan.
Kebanyakan orang yang memiliki ESS tidak mempunyai tanda-tanda atau gejala tertentu.
Namun, jika gejala ESS itu muncul, dapat berupa: