Menurut Ranil Wickremesinghe, pemerintah Sri Lanka sekarang berupaya mencari bantuan dari Dana Moneter Internasional (IMF) dan pihak lainnya untuk menstabilkan ekonomi.
"Ekonomi kita menghadapi keruntuhan total," kata Wickremesinghe kepada Parlemen Sri Lanka, dikutip dari CNN Internasional.
Sri Lanka kini menghadapi krisis ekonomi yang begitu besar, bahkan terburuk dalam tujuh dasawarsa terakhir.
Negara berpenduduk 22 juta jiwa itu dilaporkan mengalami kelangkaan BBM, listrik, dan pangan amat parah.
Kata Wickremesinghe, Sri Lanka menghadapi situasi yang jauh lebih buruk daripada sekadar kelangkaan.
Ekonomi Sri Lanka dilaporkan tumbang setelah setelah cadangan devisanya anjlok ke level terendah.
Dolar AS yang digunakan untuk membayar impor-impor penting seperti pangan, obat-obatan, dan BBM dilaporkan hampir habis.
Baca: Stok BBM Nasional Hanya Bertahan 5 Hari Lagi, Kendaraan di Sri Lanka Terancam Mogok
Pemerintah mengeluarkan beragam kebijakan untuk menangani krisis ini, termasuk menerapkan kerja empat hari dalam seminggu untuk sektor publik.
Hal ini memungkinkan para pekerja untuk mengurus tanaman yang mereka budi dayakan.
Meski demikian, kebijakan ini belum bisa mengurangi dampak krisis secara signifikan.
Di sejumlah kota besar, ratusan warga terlihat mengantre di SPBU untuk mendapatkan BBM.
Bahkan, mereka terkadang terlibat bentrok dengan polisi dan militer Sri Lanka ketika mengantre.
Kelangkaan pasokan BBM dan sumber energi lainnya membuat frekuensi transportasi dengan kereta api dikurangani.
Baca: Kediamannya Dikepung, Mantan PM Sri Lanka Rajapaksa Dievakuasi oleh Militer
Warga pun terpaksa berdesak-desakan dan bahkan duduk di atas gerbong.
Tak hanya itu, banyak pasien yang tidak bisa pergi ke rumah sakit karena kelangkaan BBM.
Sementara itu, harga pangan pokok seperti beras melambung tinggi dan stoknya lenyap dari warung dan toko.
Antrean yang mengular sangat panjang turut memunculkan tragedi.
Pada pekan ini dilaporkan ada sebanyak 11 orang yang meninggal ketika mengantre BBM.