Namun, setelah bertemu, perawat yang jadi korban kekerasan itu justru mencabut laporannya.
"Setelah dipertemukan, korban akhirnya menarik laporannya," ujar Dindin saat dihubungi, Jumat (26/6/2021).
Dindin menjelaskan GR mencabut laporannya karena korban dan pelaku ternyata saling kenal.
Mereka pernah satu sekolah saat di SMP.
"Setelah bertemu, ternyata teman SMP. Pelaku pun sudah minta maaf dan korban menarik laporannya," katanya.
Didin mengatakan sebenarnya pihak keluarga pelaku sudah menyampaikan permintaan maaf terhadap pihak puskesmas.
Hal tersebut dilakukan tidak lama setelah kejadian.
Namun, tidak terekam kamera CCTV.
"CCTV yang viral kan durasinya pendek, hanya pemukulan yang terlihat. Padahal setelah itu keluarga sudah langsung meminta maaf," katanya.
Viral di media sosial
Sebelumnya diberitakan sebuah video rekaman CCTV pemukulan tenaga kesehatan oleh keluarga pasien penderita Covid-19 viral di media sosial.
Dalam video berdurasi 24 detik tersebut, tampak seorang tenaga kesehatan berhazmat membawa pasien positif Covid-19 dan membaringkannya ke ranjang.
Keluarga pasien terlihat ikut membantu.
Setelah pasien berbaring, tampak terjadi percakapan antara keluarga pasien dan perawat.
Tidak lama kemudian, keluarga pasien tersebut dua kali memukul perawat.
Camat Pameungpeuk Tatang Suryana menjelaskan pelaku marah kepada korban lantaran korban memakai APD.
Pelaku menyebut orang tuanya tidak terkonfirmasi Covid-19.
"Si pelaku sempat berbicara ke tenaga medis, 'kenapa memakai baju APD, kan ayah saya bukan Covid. Itu alasannya sehingga terjadi pemukulan," ucap Tatang.