Ucapan Simonyan terkait dengan komentar Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov baru-baru ini.
Lavrov mengatakan ancaman perang nuklir tidak boleh diremehkan.
"Ini posisi penting kita yang menjadi dasar segalanya bagi kita. Risikonya sekarang besar," kata Lavrov melalui TV.
"Saya tidak ingin meningkatkan risiko ini dengan intevensi. Banyak yang akan menyukainya. Bahaya ini serius, nyata. Dan kita tidak boleh meremehkannya.
Sergey Lavrov mengatakan ancaman perang nuklir itu nyata dan tak bisa diremehkan.
Kendati demikian, Lavrov menyebut Rusia berusaha menurunkan risiko meletusnya perang nuklir.
"Itu [perang nuklir] nyata dan tidak bisa diremehkan," kata Lavrov dalam sebuah wawancara yang ditayangkan di televisi, (25/4/2022), dikutip dari CNN Internasional.
Dia kemudian mengingatkan adanya deklarasi bersama antara Presiden AS Ronald Reagan dan pemimpin Uni Soviet Mikhail Gorbachev.
Kedua pemimpin itu sepakat bahwa perang nuklir tidak boleh terjadi dan tidak boleh diupayakan terjadi.
Menurut Lavrov, penolakan akan adanya perang nuklir tetap menjadi salah satu prinsip yang dipegang Rusia.
Dia menyebut negara-negara Barat bisa disalahkan atas adanya krisis politik dan kekhawatiran yang terjadi saat ini.
Selain itu, kata dia, Barat tidak bersedia percaya kepada Rusia.
Lavrov menyoroti kegagalan terbentuknya perjanjian baru yang akan melanjutkan perjanjian tahun 1980-an antara AS dan Uni Soviet.
Dalam perjanjian tersebut, kedua belah pihak sepakat untuk melarang adanya senjata nuklir dengan daya jangkau menengah.
Sayangnya, perjanjian itu sudah berakhir tahun 2019. Menurut Lavrov, AS juga tidak menerima tawaran dari Rusia untuk terus melarang pengerahan senjata nuklir.
"Tawaran kami tentang moratorium bersama telah ditolak, meski kami memasukkanya ke dalam metode verifikasi proposal kami."
Baca berita terkait Rusia-Ukraina di sini