Saat acara berlangsung, seorang warga Wadas yang tak ingin disebutkan namanya menceritakan insiden ketika ratusan polisi masuk ke desanya.
Mengutip Kompas.com, ia mengaku dikejar oleh aparat keamanan hingga lari ke hutan.
"Tadi malam, Brimob dan Polisi masih seperti kemarin dan masih bermalam di hutan hingga siang ini. Lalu saya dikejar-kejar sampai malam dan sampai sekarang masih ada yang di alas (hutan)," ucap dia.
Selain itu, ia menyebut beberapa warga lain turut dikejar dan belum berani keluar dari hutan.
"Untuk saat ini kita belum berani turun, ada yang sebagian keluar dari Wadas karena takut dan sekarang tidak bisa makan," kata dia saat konferensi
Warga tersebut menjelaskan ada preman yang diduga sebagai aparat keamanan beserta anjing pelacak.
Baca: Ganjar Pranowo Penuhi Janji Kunjungi Desa Wadas, Minta Warga Tetap Rukun
"Ada preman membawa anjing sampai ke hutan untuk mengejar para warga yang berada di hutan," tuturnya.
Ia mengatakan anjing pelacak ditempatkan dalam truk yang berbeda.
"Siang hari ini, ditambah (aparat) 10 truk polisi, memakai senjata lengkap lalu ada satu truk anjing pelacak dan mau dilepas ke hutan untuk melacak warga yang masih disana," katanya.
"Ada juga mobil pribadi sekitar 20 unit masuk ke Desa Wadas dan rombongan motor preman banyak sekali," imbuhnya.
Narasumber itu menyatakan bahwa warga dipaksa mengumpulkan Surat Pemberitahuan Pajak Terutang dan dikumpulkan sebagai pernyataan setuju dengan pembangunan Bendungan Bener.
"Semalam ada rombongan mengendarai motor dan memakai toa (pengeras suara) dan koar-koar ke warga untuk mengumpulkan SPPT ke rumah warga yang pro," ujar dia.
Baca: Mengenal Proyek Bendungan Bener yang Picu Konflik Warga Desa Wadas dengan Aparat
Di sisi lain, Anton (bukan nama sebenarnya), merupakan salah satu warga yang hingga kini masih berada di hutan Desa Wadas.
Ia mengatakan terdapat sekitar 10 truk yang ditumpangi ratusan polisi bersenjata lengkap yang memasuki Desa Wadas.
Senada dengan narasumber sebelumnya, para polisi itu turut membawa anjing pelacak.
Sementara itu, puluhan aparat berbaju preman masuk beriringan dengan menaiki sepeda motor. Tak hanya itu, mobil-mobil mewah juga berseliweran masuk desa.
"Mereka bersenjata lengkap, ada yang membawa anjing pelacak. Anjing itu mau dilepas ke hutan melacak warga yang sedang ngumpet (bersembunyi). Kondisi hari ini masih menakutkan makanya cari aman di hutan," kata Anton, dalam keterangan pers melalui daring, Kamis (10/2/2022) sore.
Mengutip Kompas.com, Anton menuturkan warga Desa Wadas masih merasa takut lantaran ratusan aparat tersebut masih berada di Wadas dan mendirikan tenda serta tidur di teras warga hingga masjid.