Mereka terpaksa tidak lagi mengakui anak mereka karena takut ancaman dari pihak militer.
Setiap hari dalam tiga bulan belakangan ada sekitar enam atau tujuh keluarga yang menyatakan putus hubungan dengan anak melalui surat kabar.
Tak hanya anak, keponakan dan cucu yang menentang junta militer juga diputus hubungannya dengan keluarga mereka.
Pemberitaan seperti itu mulai banyak muncul sejak November tahun lalu setelah junta militer mengeluarkan ancaman.
Dilansir dari Reuters, (8/2/2022). militer mengancam akan mengambil alih harta benda milik lawan-lawan mereka.
Tak hanya itu, warga yang kedapatan melindungi pihak yang melawan militer juga bakal ditahan. Sejumlah penggerebekan rumah juga dilakukan.
Baca: Peringati Setahun Kudeta Militer, Aktivis Myanmar Serukan Aksi Mogok Kerja
Salah satu orang yang diputuskan hubungannya dengan orang tua adalah Lin Lin Bo Bo, seorang mantan sales mobil.
Dia tidak lagi diakui karena bergabung dengan kelompok penentang pemerintahan militer.
"Kami menyatakan telah memutuskan hubungan dengan Lin Lib Bo Bo karena dia tidak pernah menuruti keinginan orang tua," demikian pemberitahuan yang disampaikan oleh orang tua Bo Bo melalui surat kabar, dikutip dari Reuters.
Bo Bo kini melarikan diri di Myanmar dan tinggal di perbatasan Thailand.
Dia mengatakan ibunya juga telah mengatakan bahwa dia tak lagi diakui setelah tentara datang ke rumahnya untuk mencari dia.
Baca: Lebih dari 30 Orang Dilaporkan Dibunuh dan Dibakar oleh Militer Myanmar
Beberapa hari kemudian dia menangis setelah membaca pemberitahuan melalui koran.
"Kawan seperjuangan saya mencoba meyakinkan saya bahwa hal seperti itu tak bisa dihindari oleh keluarga yang berada di bawah tekanan [militer]," kata dia kepada Reuters.
"Namun, saya begitu sakit hati."
Orang tuanya menolak memberikan komentar ketika dihubungi oleh media.
Cara seperti ini sudah dilakukan oleh militer Myanmar pada kerusuhan tahun 2007 dan 1980-an.
Namun, pemutusan hubungan dengan anggota keluarga menjadi jauh lebih sering terjadi sejak kudeta setahun yang lalu.
Seorang aktivis bernama Wi Hnin Thon mengatakan tindakan memutuskan hubungan dengan anak sebenarnya sudah punya sejarah yang panjang dalam kebudayaan Myanmar.
Baca: Diari Seorang Dokter di Myanmar: Saya Belajar Obati Luka Tembak di Youtube
"Anggota keluarga takut terlibat dalam kejahatan," kata Thon.