Ika menggunakan disiplin kolase dan mengembangkannya menjadi workshop, instalasi, dan seni jalanan.
Berikut adalah berbagai proyek seni ketika Ika Vantiani pernah terlibat di dalamnya baik sebagai seniman atau kurator: WANITA: Artivisme Perempuan Jakarta! (2015), IKAT/eCut fringe events (2017), Art Jog (2018), The Creative Freedom Creative (2018-2019), Biennale Jogja (2019), Humanityouth Festival (2020), dan masih banyak lagi.
Sementara itu, Diva Meshia Arif adalah seniman berbasis di Jakarta, ia bekerja sebagai ilustrator lepas dan direktur kreatif, spesialisasi ilustrasi botani dan semi-realistis.
Diva kebanyakan menggunakan pensil, cat air, tinta, dan spidol dalam karyanya, terutama saat meniru pola dan warna rumit yang ditemukan di alam.
Karya-karyanya telah dipamerkan di New York, Kota Ho Chi Minh, dan Singapura. Diva juga merupakan anggota aktif IDSBA (Masyarakat Seniman Botani Indonesia).
Koleksi pertama Katonvie diawali dengan koleksi bertajuk DUA SUA.
DUA SUA dipilih sebagai nama karena koleksi ini berangkat dari kata Dua dan Sua dalam Bahasa Indonesia yang selain untuk mendeskripsikan produk scarf dengan dua sisi yang berbeda juga mengangkat tentang banyak sisi sosok perempuan itu sendiri.
Sisi-sisi tersebutu bertemu dan berdampingan menyatu dengan selaras walaupun seringkali berlawanan.
Berikut merupakan hal-hal dalam kehidupan seorang perempuan yang acap kali dipertanyakan dan digunakan untuk menilai, memvalidasi, ataupun menolak pilihan-pilihan yang diambil oleh perempuan dalam hidup mereka jika tidak mengikuti norma masyarakat yang dianggap umum.
- STATUS (Lajang dan Menikah)
- PROFESI (Ibu rumah tangga dan Wanita Karier)
- PERAN (Pemimpin dan Pendukung)
Jadilah saudari bagi satu sama lain, baik bagi perempuan yang memilih posisi di depan maupun di belakang.
- PEKERJA (Multitasker dan Single Tasker)
Ritme dan cara kerja setiap perempuan berbeda-beda.
Ada yang mahir melakukan tugas ganda, dan ada yang memilih untuk hanya fokus pada satu bidang saja.
- KEIBUAN (Menjadi seorang ibu dan Tidak)
Naluri untuk merawat dimiliki oleh setiap perempuan, tanpa harus dikaitkan dengan kemampuan dan keinginan mereka untuk melahirkan dan menyusui.
Merawat diri sendiri maupun buah hati sama pentingnya bagi seorang perempuan dan ini membuat posisi mereka seringkali diletakkan sebagai perekat dalam hubungan dengan orang-orang di sekitarnya.