Tanggal 30 Maret 2021 jam 20.05 WIB, CVR tersedot dari bawah air dan ditemukan di penampungan serpihan kapal TSHD King Arthur 8.
Hingga saat ini, proses investigasi masih terus dilakukan oleh tim KNKT disertai dengan proses penelitian yang mendetail.
"Setelah ditemukannya semua bagian black box ini memberikan titik terang untuk dapat mengusut penyebab terjadinya kecelakaan yang meluluhlantakkan seluruh isi pesawat agar kecelakaan dengan penyebab yang sama tidak kembali terulang di kemudian hari," kata Soerjanto.
Pesawat Sriwijaya SJ 182 rute Jakarta-Pontianak diketahui jatuh di perairan Kepulauan Seribu hanya empat menit setelah terbang dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, pada 9 Januari lalu.
Pesawat itu membawa total 62 penumpang dengan rincian, enam awak pesawat aktif.
Kemudian 56 penumpang, terdiri dari 40 dewasa, tujuh anak-anak, dan tiga balita.
Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) memberikan laporan pendahuluan terkait investigasi penyebab jatuhnya Sriwijaya Air SJ 182.
Melalui konferensi pers daring yang dilakukan pada Rabu (10/2/2021), KNKT merilis hasil investigasi meski prosesnya belum selesai.
Data tersebut disampaikan berdasarkan rekaman flight data recorder (FDR), dan data air traffic controller (ATC) Bandara Soekarno-Hatta.
Ketua Sub-Komite Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT Kapten Nurcahyo Utomo mengatakan, Pesawat Sriwijaya SJ 182 tidak melewati area hujan dan awan yang berpotensi menyebabkan guncangan.
Hal tersebut diungkapkan Nurcahyo, berdasarkan data cuaca yang diperoleh KNKT dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).
"Bahwa pesawat ini tidak melalui area dengan awan yang signifikan dan bukan area awan hujan, juga tidak berada in-cloud turbulance atau di dalam awan yang berpotensi menimbulkan guncangan," papar Nurcahyo.
Kapten Nurcahyo Utomo menyebut, trottle atau tuas pengatur tenaga mesin sebelah kiri sempat bergerak mundur.
Menurut Nurcahyo, kondisi ini terjadi saat pesawat berada di ketinggian 8.150 kaki, dan 10.600 kaki.
Meski begitu, Nurcahyo menyebut bahwa hingga kini KNKT belum dapat menyimpulkan apakah kedua trottle dalam pesawat itu mengalami kerusakan.
Sebab, baik trottle kanan dan kiri sama-sama menunjukan ketidaknormalan atau anomali.
"Apakah yang rusak yang kiri kita belum tahu. Sebab (tuas) dua-duanya menunjukan sikap yang berbeda atau mengalami anomali," terang Nurcahyo.
Nurcahyo menjelaskan, bahwa trottle sebelah kiri bergerak mundur terlalu jauh.
Di sisi lain, trottle sebelah kanan tidak bergerak dan terindikasi macet.