Virus Corona 'Varian Afrika Selatan' Mulai Muncul di Inggris, Mutasinya Lebih Mengkhawatirkan

Penulis: Ahmad Nur Rosikin
Editor: Ekarista Rahmawati Putri
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

ILUSTRASI - Mutasi virus corona E484K muncul di Afrika Selatan

Hal itu karena industri farmasi masih tidak siap, lantaran fokus menangani Covid-19.

“Virus Nipah adalah penyakit menular lain yang muncul dan menimbulkan kekhawatiran besar. Nipah bisa merebak kapan saja. Pandemi berikutnya bisa jadi infeksi yang tahan terhadap obat,” ungkap The Guardian mengutip Jayasree K Iyer, Direktur Eksekutif Access to Medicine Foundation yang berbasis di Belanda.

Virus nipah disebarkan kelelawar buah, menyebabkan gejala mirip flu dan kerusakan otak.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut virus tersebut dapat menyebabkan ensefalitis atau radang otak

Biasanya, perawatan diberikan bersifat suportif, untuk mencegah penyakit berkembang sedini mungkin.

Baca: Mengenal Covid Tongue, Gejala Baru Virus Corona: Lidah Tak Nyaman, Ada Bercak Seperti Sariawan

Baca: Eropa Kacau dan Rusuh selama Vaksinasi Covid-19, Kerusuhan Besar di Polandia dan Belanda

ILUSTRASI Kelelawar (pixabay.com)

Sebenarnya, virus ini sudah ada sebelum virus corona.

Wabah virus nipah di negara bagian selatan India, Kerala pada 2018 silam merenggut 17 nyawa.

Karena kejadian itu Arab Saudi dan Uni Emirat Arab melarang impor buah dan sayuran beku dan olahan dari Kerala.

WHO Ingatkan pandemi berikutnya

Pandemi Covid-19 kian memprihatinkan di seluruh dunia.

Jumlah kasus terus bertambah dari hari ke hari.

Kendati demikian, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan pandemi Covid-19 bukan yang terbesar, seperti diberitakan DailyStar.

Pada akhir 2020, Kepala Program Darurat WHO, Dr Mark Ryan, mengatakan penyakit baru yang "muncul" mungkin terbukti memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi daripada Covid-19.

Namun, dia tidak mengatakan seberapa menular penyakit di masa depan ini.

Dia berkata: "Pandemi ini telah sangat parah, telah menyebar ke seluruh dunia dengan sangat cepat dan telah mempengaruhi setiap sudut planet ini - tetapi ini belum tentu yang besar.

"Virus ini sangat mudah menular dan membunuh orang dan telah merampas begitu banyak orang yang dicintai tetapi kasus kematian saat ini cukup rendah dibandingkan dengan penyakit lain yang muncul.

Baca: 2 Hari Tak Bisa Dapat Rumah Sakit Rujukan, Pasien Covid-19 di Tangerang Selatan Meninggal Dunia

Baca: Viral Video Mesum Pasien Covid-19 Lakukan Hal Tak Senonoh di Ruang Isolasi RSUD Dompu NTB

ILUSTRASI Covid yang kian parah --- Foto udara yang diambil pada 16 Januari 2021 ini menunjukkan fasilitas karantina terpusat yang sedang dibangun, di mana orang-orang yang berisiko tertular virus korona Covid-19 akan dibawa ke karantina di Shijiazhuang, di Provinsi Hebei Utara setelah provinsi tersebut menyatakan "keadaan darurat". (STR / CNS / AFP) / China OUT)

"Ini adalah seruan untuk bangun, kami sekarang belajar bagaimana melakukan sesuatu dengan lebih baik. Bagaimana melakukan sains dengan lebih baik, bagaimana melakukan logistik dengan lebih baik, bagaimana melakukan pelatihan dengan lebih baik, bagaimana melakukan tata kelola yang lebih baik, bagaimana berkomunikasi dengan lebih baik."

Pengalaman kami menangani virus corona harus ditinjau dan diperhatikan agar dunia siap menghadapi pandemi berikutnya, tambahnya.

Dia berkata: "Ancaman ini akan terus berlanjut, jika ada satu hal yang perlu kita ambil dari pandemi ini, dari semua tragedi dan kehilangan, adalah kita perlu bertindak bersama."

"Kami perlu bersiap untuk sesuatu yang mungkin lebih parah di masa depan."

Baca: Hampir Setahun Pandemi Corona Serang Dunia, 11 Negara Ini Ternyata Bebas dari Infeksi Covid-19 

Baca: WHO Perkirakan Pandemi Virus Corona di 2021 Bakal Lebih Buruk

Seorang pasien tiba di Rumah Sakit 28 de Agosto di Manaus, Negara Bagian Amazon, Brasil, pada 14 Januari 2021, di tengah pandemi virus corona baru, COVID-19. Manaus menghadapi kekurangan pasokan oksigen dan tempat tidur karena kota tersebut telah dibanjiri oleh lonjakan kedua dalam kasus COVID-19 dan kematian. (Michael DANTAS / AFP)
Halaman
123


Penulis: Ahmad Nur Rosikin
Editor: Ekarista Rahmawati Putri
BERITA TERKAIT

Berita Populer