Zhang Hai Bongkar Upaya Pemerintah China Tutupi Covid-19, Ancam Warga yang Bicara pada Media Asing

Penulis: Ahmad Nur Rosikin
Editor: haerahr
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

ILUSTRASI Situasi pandemi di China --- Seorang pria di Beijing menjalani tes swab, Rabu (1/7/2020). Hasil studi para peneliti Harvard menyatakan bahwa strain virus corona di Beijing mungkin berasal dari Asia Tenggara.

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Seorang warga China bernama Zhang Hai, ngotot bertemu perwakilan WHO yang tengah melakukan penyelidikan seputar Covid-19 di Wuhan, China.

Zhang menyebut China telah melakukan tindakan kriminal, dan dia ingin melaporkan itu pada WHO.

Dia menyebut pada awalnya pemerintah China berusaha menutupi fakta soal virus corona, mengancam orang yang mencoba berbicara pada media asing.

Sebelumnya, panel WHO tiba di Wuhan pada 14 Januari 2021 lalu.

Diberitakan Al Jazeera, mereka adalah tim yang akan menyelidiki asal-usul virus corona.

Kendati demikian, mereka masih menjalani karantina di hotel selama dua pekan.

WHO baru bisa mengirim utusan ke China lantaran sebelumnya terlibat negosiasi panjang dengan pemerintahan Xi Jinping.

Hingga kini belum ada kepastian apakah mereka diperbolehkan mengumpulkan bukti atau berbicara dengan keluarga atau tidak.

Pemerintah hanya mengatakan bahwa tim tersebut dapat bertukar pandangan dengan ilmuwan China.

Kesaksian Zhang tentang Upaya Pemerintah China Menutupi Covid-19

Foto yang diambil pada 13 Oktober 2020 ini menunjukkan seorang petugas kesehatan mengambil sampel dari seorang penduduk untuk dites virus corona COVID-19 sebagai bagian dari program pengujian massal menyusul wabah baru virus korona di Qingdao, di provinsi Shandong timur China. (STR / AFP / China OUT) (STR / AFP / China OUT)

Baca: Pemerintah Inggris Mulai Pepet Joe Biden, Berharap Bisa Jadi Rekan untuk Lawan Hegemoni China

Baca: Inilah Daftar 15 Gejala Covid-19 yang Perlu Diwaspadai, Menurut Para Ahli

Zhang Hai menganggap kedatangan perwakilan WHO adalah kesempatan.

“Saya berharap para ahli tidak menjadi alat untuk menyebarkan kebohongan,” kata Zhang Hai, yang ayahnya meninggal karena COVID-19 pada Februari tahun lalu.

"Kami terus mencari kebenaran tanpa henti. Ini adalah tindakan kriminal, dan saya tidak ingin WHO datang ke China untuk menutupi kejahatan ini. "

Zhang, yang berasal dari Wuhan tetapi sekarang tinggal di kota selatan Shenzhen, telah mengorganisir kerabat korban virus corona di China untuk menuntut pertanggungjawaban dari para pejabat.

Banyak yang marah karena negara meremehkan virus itu pada awal wabah, dan telah berusaha mengajukan tuntutan hukum terhadap pemerintah Wuhan.

Para kerabat menghadapi tekanan yang sangat besar dari pihak berwenang untuk tidak angkat bicara.

Tindakan Represif Pemerintah China, Ancam Siapa Saja yang Bicara pada Media Asing

Pekerja rumah duka mengambil jenazah seorang penduduk, yang dilaporkan meninggal karena novel coronavirus (2019-nCoV) di rumah, di luar gedung tempat tinggal di Wuhan, di provinsi Hubei, Tiongkok tengah, 01 Februari 2020. (EPA-EFE/YUAN ZHENG CHINA OUT)

Baca: Kasus Global Covid-19 Tembus 100 Juta, Indonesia Urutan 19, Paling Buruk di Asia Tenggara

Baca: Kasus Covid-19 Dunia Capai 100 Juta, Korea Utara Kini Waspada Penuh Meski Klaim Nol Kasus

Pejabat telah menolak tuntutan hukum, menginterogasi Zhang dan lainnya berulang kali dan mengancam kerabat dari mereka yang berbicara dengan media asing, menurut wawancara dengan Zhang dan kerabat lainnya.

“Jangan berpura-pura bahwa kami tidak ada, bahwa kami tidak mencari pertanggungjawaban,” kata Zhang.

“Anda telah menghapus semua platform kami, tetapi kami masih ingin memberi tahu semua orang melalui media bahwa kami belum menyerah.”

Halaman
12


Penulis: Ahmad Nur Rosikin
Editor: haerahr

Berita Populer