Dikutip dari Twitter resmi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) @BPPTKG, Gunung Merapi kembali mengeluarkan awan panas guguran pada pukul 20.24 WIB.
Awan panas guguran tersebut tercatat di seismogram.
Dengan amplitudo 30 mm dan durasi 103 detik.
Sedangkan tinggi kolom 400 m, dengan jarak luncur 1000 m ke arah barat daya.
Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya meliputi sungai Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih sejauh maksimal 5 km.
Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
BPPTKG juga mengamati awanpanas guguran Gunung Merapi pada 25 Januari 2021 Pukul 12.00-18.00 WIB.
Berdasarkan pengamatan tersebut pada pukul 17.11 WIB telah terjadi awan panas guguran yang tercatat di seismogram dengan amplitudo 32 mm dan durasi 120 detik.
Sedangkan jarak luncurnya kurang lebih 1200 m ke arah barat daya meliputi hulu Kali Krasak dan Boyong.
Sementara itu diketahui telah terjadi hujan di puncak Gunung Merapi pada Senin (25/1/2021) pukul 15.13-15.46 WIB.
Sore itu hujan masih berlangsung.
Sedangkan total curah hujan ialah 32 mm.
Hujan tersebut bisa menyebabkan banjir lahar dingin.
Ketika hujan terjadi di puncak Merapi, masyarakat yang beraktivitas di sekitar sungai yang berhulu di Merapi dihimbau agar mewaspadai bahaya lahar.
Hingga kini, BPPTKG masih menetapkan status Gunung Merapi pada Level III (Siaga).
BPPTKG juga menghimbau agar masyarakat tidak melakukan aktivitas apapun di daerah potensi bahaya.
Baca: Gunung Merapi Erupsi, Muntahkan Tiga Kali Awan Panas dan 47 Kali Guguran Lava Pijar
Baca: Aktivitasi Merapi Meningkat, Warga Desa di Klaten Masih Enggan Mengungsi, Takut Kena Covid-19
Melansir dari laman vsi.esdm.go.id, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui rekaman seismograf pada Senin (25/1/2021) tercatat:
• 4 kali Gempa Awan Panas Guguran