Terkait Kerusuhan Gedung Capitol, Pendukung Donald Trump Disebut Ingin Bunuh Anggota Parlemen AS

Penulis: Ahmad Nur Rosikin
Editor: Natalia Bulan Retno Palupi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

ILUSTRASI - pendukung Trump disebut ingin bunuh parlemen AS --- Tali jerat terlihat di tiang gantungan sementara pendukung Presiden AS Donald Trump berkumpul di sisi Barat Capitol AS di Washington DC pada 6 Januari 2021. Trump yang keder juga setelah diancam akan dipecat atau dipaksa mundur akhirnya mengecam langsung aksi kekerasan pendukungnya di Gedung Capitol AS.

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Jaksa penuntut meyakini para perusuh di Gedung Caiptol Amerika Serikat pada Rabu (6/1/20210) silam ada yang bermaksud menangkap dan membunuh anggota parlemen.

Terkait hal ini, penyidik Kementerian Kehakiman Amerika Serikat (AS) mengatakan, mereka belum menemukan bukti bahwa pendukung presiden hendak melakukan tindakan itu.

Laporan itu tertuang dalam dokumen pengadilan terbaru pada Kamis malam (14/1/2021) waktu setempat, yang diajukan oleh para pengacara Kementerian Kehakiman.

Mereka meminta penahanan terhadap Jacob Chansley dari Arizona, AS, penganut teori konspirasi QAnon yang berdandan sebagai dukun bertanduk di meja Wakil Presiden AS Mike Pence.

Diberitakan Kompas.com, klaim tersebut dibuat dengan argumen untuk mencegah pengadilan memberikan jaminan kepada Chansley alias Jake Angeli.

Foto-foto Chansley sendiri tersebar luas di dunia maya karena bertelanjang dada dan mengenakan tanduk saat masuk ke Gedung Capitol.

Namun pada Jumat (15/1/2021), jaksa penuntut mencabut klaim tersebut sebagaimana dilansir dari AFP, Minggu (17/1/2021).

Pasalnya, Kementerian Kehakiman AS mengatakan, meski beberapa pendukung Trump berteriak ingin menangkap Pence, belum ada bukti yang menunjukkan adanya upaya serius untuk melakukannya.

Jaksa AS untuk Distrik Washington DC yang mengawasi penyelidikan penyerbuan Gedung Capitol, Michael Sherwin, mengatakan kepada wartawan pada Jumat bahwa tidak ada bukti langung atas upaya pembunuhan.

WASHINGTON, DC - 06 JANUARI: Pengunjuk rasa pro-Trump berkumpul di depan Gedung Capitol AS pada 6 Januari 2021 di Washington, DC. Massa pro-Trump menyerbu Capitol, memecahkan jendela dan bentrok dengan petugas polisi. Pendukung Trump berkumpul di ibu kota negara hari ini untuk memprotes ratifikasi kemenangan Electoral College Presiden terpilih Joe Biden atas Presiden Trump dalam pemilu 2020. Jon Cherry / Getty Images / AFP (Jon Cherry / GETTY IMAGES AMERIKA UTARA / Getty Images via AFP)

"Tidak ada bukti langsung pada saat ini tentang adanya tim untuk penangkapan dan pembunuhan," ujar Sherwin.

Namun demikian, Capitol Hill tetap diisolasi besar-besaran pada Sabtu (16/1/2021) menjelang pelantikan Joe Biden sebagai presiden AS pada 20 Januari mendatang.

Pejabat keamanan masih khawatir akan adanya kemungkinan penyerbuan yang berujung pada kekerasan dalam acara pelantikan tersebut.

Baca: Rawan Blunder, Donald Trump Bungkam dan Sembunyi dari Media Sejak Kerusuhan di Gedung Capitol

Libatkan Tentara, Mantan Tentara, dan Polisi

Kerusuhan di Gedung Capitol disebut tak hanya melibatkan penduduk sipil pendukung Donald Trump.

The Associated Press menyebut anggota tentara, mantan tentara, dan penegak hukum terlibat kerusuhan tersebut.

Satu di antara bukti yang meyakinkan, adanya barisan pria yang mengenakan helm dan pelindung tubuh.

Mereka tampak menaiki tangga dalam satu baris, di mana masing-masing pria memegang kerah jaket yang di depan.

Formasi tersebut dikenal sebagai "Ranger File", prosedur operasi standar tim tempur untuk menembus gedung, seperti diberitakan Al Jazeera, Jumat (15/1/2021).

Formasi demikian merujuk pada tentara atau Marinir AS yang bertugas di Irak dan Afghanistan.

Analisis AP terhadap catatan publik, postingan, dan video media sosial menunjukkan setidaknya 21 anggota, mantan militer AS, atau penegak hukum telah diidentifikasi berada di Capitol atau sekitarnya pada saat kerusuhan.

Halaman
123


Penulis: Ahmad Nur Rosikin
Editor: Natalia Bulan Retno Palupi

Berita Populer