Dalam 24 jam terakhir, muncul 28.145 kasus aktif virus corona.
Angka ini menambah total infeksi yang mencapai 2,4 juta kasus, menjadi negara keempat tertinggi di dunia.
Sementara kematian akibat virus tersebut mencapai 41.607 jiwa, lapor satuan tugas virus vorona setempat.
Meski pemerintah pusat menolak lockdown total, sejumlah wilayah di Rusia menerapkan pembatasan.
Baca: Suruh Warganya Berada di Rumah saat Pandemi, Walikota Ini Malah Jalan-jalan
Baca: Tim Khusus Satresnarkoba Polrestabes Surabaya Amankan Petugas Tol yang Bawa 2 Gram Ganja
Adapun belakangan ini kebijakan pembatasan jelang libur Natal dan Tahun Baru diumumkan oleh pihak berwenang.
Pada minggu ini di St. Petersburg, pejabat setempat memerintahkan penutupan restoran, kafe, dan bar pada 30 Desember hingga 3 Januari.
Selanjutnya museum, teater, ruang konser, dan pameran ditutup selama liburan Tahun Baru antara 30 Desember hingga 10 Januari.
Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan adanya kampanye 'skala besar' terkait imunisasi vaksin virus corona.
Adapun Putin menginginkan agar hal tersebut dimulai pada akhir pekan depan.
Dokter dan guru akan menjadi yang pertama untuk mendapatkan vaksin buatan Rusia ini.
Langkah Putin ini muncul beberapa jam setelah Inggris Raya menjadi wilayah pertama yang mengizinkan pengunaan vaksin yang dikembangkan oleh perusahaan Amerika Serikat Pfizer dan BioNTech Jerman.
Rusia, sebagai negara yang mengembangkan vaksin dalam negeri bernama Sputnik V, telah memberikan persetujuan pada awal Agustus lalu.
Baca: Hari Ini dalam Sejarah: Louis Washkansky Jadi Manusia Pertama yang Mendapat Transplantasi Jantung
Baca: Kabur dari Majikan, TKI Asal Tangerang Ditemukan Tewas di Dalam Koper di Mekkah Arab Saudi
Meski studi lanjutan untuk memastikan keefektifan dan keamanan belum selesai, izin penggunaan Sputnik V mendapat persetujuan yang kemudian menuai kritik dari para ahli.
Ahli menyebut khawatir lantaran vaksin tersebut baru diujicobakan terhadap beberapa lusin orang.
Namun, Rusia mengklaim bahwa Sputnik V merupakan "vaksin Covid-19 yang pertama kalinya terdaftar di dunia".
Rusia, sebagai negara dengan jumlah infeksi terbesar kelima di dunia telah diguncang Covid-19 dengan cepat sejak September.
Meski diperparah dengan lonjakan kasus infeksi, pemerintah Rusia bersikeras tidak memberlakukan lockdown kedua atau menutup bisnis di seluruh negeri.
Baca: Uji Coba Tahap Akhir Vaksin Corona, AstraZeneca Laporkan 90% Efektif Digunakan
Baca: Perdana Menteri Spanyol Berencana Distribusikan Vaksin Covid-19 pada Januari 2021
Namun demikian, satu wilayahnya memberlakukan penutupan bisnis, seperti di Siberia Buryatia, dekat perbatasan Mongolia.