Pendeta Derrick McQueen, perwakilan St. James Presbyterian Church dari Harlem berdoa sambil memainkan drum djembe dan meminta rekan-rekannya untuk merenungkan hasil pemilu.
"Kita berdiri di sini di tebing momen bersejarah ini, tidak peduli apapun hasilnya, kami masih percaya pada kekuatan rakyat,” kata McQueen.
"“Kami adalah rakyat, dan kami memiliki kekuatan. Jadi pertanyaan yang saya ajukan kepada Anda hari ini adalah, 'Janji apa yang Anda pegang hari ini?' ”
Sembari mengelilingi dedaunan kuning yang dibentuk lingkaran, para peserta menuliskan kata-kata aspiratif tentang 'perdamaian', 'kebebasan', 'kesetaraan', dan 'cinta'.
Baca: Masyarakat Papua Tak Percaya Covid-19, Petugas Diancam dan Dilempari Batu
Baca: Viral Warung Makan Gratis untuk Masyarakat yang Membutuhkan, Pengunjung Bisa Bayar Seikhlasnya
'Saya datang ke sini karena Tuhan kami tidak ada di Washington D.C", kata Keen Berger, 78, anggota Judson Memorial.
"Ada yang lebih besar daripada hasil ini, yakni harapan dan doa kita semua", lanjutnya.
Sementara itu, perwakilan agama Islam yaitu Imam Khalid Latif dari Islamic Center New York University memimpin doa untuk peserta.
Kemudian disusul doa dari Pendeta Chris Long.
Sebagai informasi, kegiatan ini pertama kali diadakan empat tahun lalu setelah Donald Trump terpilih sebagai presiden.
Baca: Pengunjung Umbul Ponggok Membludak hingga 900 Pengunjung, Petugas Positif Covid-19
Baca: 6 Penyakit Ini Lebih Banyak Menjangkit Perempuan daripada Laki-Laki
Koalisi antar-umat beragama ini dilakukan tidak hanya untuk pemilu, tetapi atas ketidakadilan rasial dan masalah pandemi Covid-19 yang kasusnya melonjak di seluruh AS.
Beranggotakan 20 orang, kelompok ini juga menayangkan kegiatannya secara daring / online melalui Zoom dan media sosial bagi mereka yang ingin menyaksikan.